Sukses

Panji Petualang dan Buaya Berkalung Ban 'Gencatan Senjata' 2 Hari

Palu - Upaya pencarian dan penyelamatan buaya berkalung ban yang dilakukan Panji Petualang bersama Jawa Pos Group di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mulai membuahkan hasil. Setelah menghilang sekitar dua hari, tim mulai menemukan "rumah" baru buaya malang tersebut. Lokasinya ada di sekitar kawasan reklamasi.

Pada operasi hari ketiga, Selasa, 23 Januari 2018, dari siang hingga petang, buaya berkalung ban itu terlihat mondar-mandir di bibir Pantai Talise. Tepatnya di kawasan reklamasi di Jalan Komodo. Buaya itu sebenarnya nyaman di tempat tersebut. Meskipun terdapat sejumlah pemancing, buaya tersebut memilih kabur ketika mulai banyak orang yang melihatnya dari dekat.

Panji dibantu anggota Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Kepolisian Daerah (Polda) Sulteng serta nelayan sebenarnya sudah sempat memasang jaring. Tujuannya untuk memagari buaya agar tidak lari terlalu jauh. Namun, upaya itu gagal, jaring milik nelayan yang sudah disiapkan kurang memadai.

"Tidak masalah kita sedang siapkan jaring berikutnya dan coba pasang di malam hari. Yang penting kita tahu dulu kebiasaan dia sekarang di situ," ucap Panji, dikutip JawaPos.com.

Ia pun mengakui, selama hampir dua hari, tim memang sempat kesulitan mencari keberadaan buaya berkalung ban.

Buaya itu sebelumnya sering berjemur di sekitar reruntuhan jembatan yang tak jauh dari Jembatan Dua Sungai Palu. Namun, operasi pada hari pertama yang disaksikan ratusan orang membuat buaya kabur ke arah muara. Pencarian pada operasi hari kedua, baik siang maupun malam, tak membuahkan hasil.

Baru pada operasi hari ketiga atau Selasa, buaya berkalung ban itu terdeteksi di perairan sekitar area reklamasi. Panji sementara ini membiarkan buaya itu merasa nyaman di tempat tersebut.

Foto yang diambil pada tanggal 4 November 2016 ini menunjukkan seekor buaya berjemur dipinggir sungai dengan kondisi lehernya terlilit ban di Palu, Sulawesi Tengah. Sudah lebih dari setahun ban itu masih belum lepas dari leher buaya. (AFP Photo/Arfa)

Sayangnya, gangguan kerap terjadi karena warga berupaya mendekat ke "rumah" baru si buaya berkalung ban. "Sebenarnya kalau dia tenang dulu di situ, kita tinggal siapkan perangkapnya," kata Panji.

Adapun hingga Rabu (24/1/2018), operasi penyelamatan terhadap buaya berkalung ban sudah berlangsung lima hari, tepatnya sejak Sabtu pekan lalu. Boleh dibilang dalam dua hari terakhir, Panji dan sang buaya belum bertemu kembali, seolah keduanya sedang gencatan senjata.

Baca berita menarik dari JawaPos.com lain di sini.

 

1 dari 3 halaman

Menaklukkan Buaya Liar Beda dengan Peliharaan

Upaya penyelamatan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah yang dilakukan Panji Petualang dan Jawa Pos terus dilakukan. Pada hari ketiga operasi, opsi-opsi menjebak buaya di dalam sungai mulai dilakukan. Sebab, proses penaklukan buaya di alam liar memang berbeda dengan satwa di tempat konservasi.

Upaya penyelamatan buaya berkalung ban ini memang tak mudah. Butuh waktu dan proses. Kondisi ini juga yang dialami sejumlah pihak, yang pernah berupaya menyelamatkan buaya malang tersebut. Termasuk para aktivis penyelamat satwa dari Jakarta Animal Aid Network atau JAAN.

Pada Desember 2016, JAAN memang pernah berupaya menyelamatkan buaya berkalung ban. Selama hampir 12 hari mereka berjibaku mencari dan berupaya menarik buaya itu untuk ke darat. Tapi, belum berhasil.

Salah satu penyebab belum berhasilnya operasi juga karena kegaduhan yang ditimbulkan masyarakat di sekitar lokasi. "Tidak bisa menangkap buaya dengan kegaduhan. Suara yang ditimbulkan warga bisa membuat buaya lari," kata Sudarno, ahli buaya dari JAAN yang melakukan operasi penyelamatan di Palu.

Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pun sebenarnya tak berdiam diri. Mereka pernah melakukan upaya penyelamatan, tapi justru buayanya yang tak menampakkan diri.

Lembaga di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu bahkan sudah menyiapkan perangkap. Tapi, hasilnya juga nihil.

 

2 dari 3 halaman

Buaya Pindah Berjemur di Pantai

Panji mengatakan, menaklukkan buaya di alam liar berbeda dengan satwa di tempat konservasi atau penangkaran. Apalagi, kondisi buaya berkalung ban itu saat ini seperti trauma. Satwa itu sudah tak nyaman di lokasi yang biasa digunakan untuk berjemur atau sembunyi.

"Buaya itu stres berat. Sepertinya sekarang sering di pantai," terangnya, dikutip JawaPos.com.

Menurut Panji, sebenarnya pada operasi hari pertama, Minggu, 21 Januari 2018, mereka sudah dapat kesempatan. "Buayanya nongol berjemur. Tapi baru saja saya siapkan strategi penangkapan, eh si buaya menghilang karena suara-suara gaduh," keluhnya.

Panji mengatakan, dirinya bukan seorang pawang. Operasi penyelamatan yang dilakukan murni menggunakan hal-hal teknis. Tak ada hal-hal yang berbau mistis.

"Kalau buayanya berhasil dibawa ke darat saja, tidak perlu lama saya untuk mengevakuasinya," ujarnya.

Lantaran bukan pawang, dia tidak punya kemampuan yang bisa memanggil binatang, termasuk buaya berkalung ban.

Meski begitu, Panji dan tim tak menyerah. Dia menyiapkan sejumlah opsi penjebakan buaya di dalam air. Sebab, upaya yang sangat sulit ialah membawa buaya itu keluar dari air.

Opsi penjebakan itu dilakukan dengan jala dan pukat. Perangkat itu diharapkan bisa membendung buaya berkalung ban kabur lewat dalam aliran sungai.

Sejak Sabtu pekan lalu, Jawa Pos bersama Radar Sulteng menghadirkan Panji Petualang untuk mengevakuasi buaya berkalung ban di Sungai Palu. Buaya itu sebenarnya sudah lama mengalami nasib sial, sekitar satu tahun lebih. Berbagai upaya evakuasi coba dilakukan, namun belum berhasil.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Artikel Selanjutnya
Buaya Tepikan Jasad Pemancing yang Tenggelam ke Arah Basarnas
Artikel Selanjutnya
Top 3 Berita Hari Ini: La Goroba, Buaya Ganas yang Telan Gerobak