Sukses

Bila Hujan Reda, Kereta Bisa Lalui Jalur Selatan Malam Ini

Liputan6.com, Garut - Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung, Jawa Barat, Joni Martinus mengatakan, perlintasan kereta api di jalur selatan diprediksi bisa dilalui. Terutama, bila proses pembersihan material longsor bisa selesai malam ini.

"Perlintasan kereta api berada di Kecamatan Malangbong, dipastikan bisa dilalui rangkaian sekitar pukul 23.00 WIB, jika tidak terjadi hujan kembali," ucap dia, Kamis (23/11/2017) malam.

Menurut dia, perlintasan kereta jalur selatan terpaksa dialihkan ke jalur utara usai longsor di kawasan Bumiwaluya-Cipendeuy, Kampung Cikadongdong, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Garut, kemarin petang.

Bahkan, sejak dilakukan pendataan, terdapat delapan titik perlintasan di Kampung Ciherang dan Kampung Cidahu, Desa Haur Kuning, Kecamatan Malangbong, ikut tertimbun material longsor dari tebing yang berada di samping perlintasan.

"Yang paling parah berada di KM 231+01 sepanjang 100 meter dengan kondisi ketebalan tujuh meter dan 232+89 sepanjang 50 meter ketebalan tiga meter," ujarnya.

Selain itu, kendaraan kesulitan menuju perlintasan kereta api dari Cipendeuy sampai Bumiwaluya. Alhasil, upaya pembersihan material longsor di jalur selatan itu dilakukan secara manual oleh petugas Daop 2 Bandung dengan bantuan warga sekitar.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

1 dari 3 halaman

Pembersihan Material Longsor Masih Berlangsung

Sejauh ini, penanganan longsor di perlintasan kereta api di Kecamatan Malangbong, Garut, masih terus dilakukan oleh 200 orang bantuan dari masyarakat sekitar. "Kami melihat material longsoran yang menimbun perlintasan tersebut disebabkan tanah labil," tutur Kepala Humas PT KAI Daop 2 Bandung, Joni Martinus.

Akibat kondisi medan yang sulit itu, hingga kini perjalanan kereta api melalui jalur selatan masih dialihkan melalui jalur utara, yakni rute Purwakarta, Cikampek, Cirebon, Purwokerto, dan Kroya dengan cara memutar dan kembali lagi ke jalur selatan.

"Sampai sekarang ini tidak ada pemberhentian bagi penumpang meskipun ada keterlambatan lima jam," ujarnya.

Sementara itu, bagi para penumpang yang mengalami keterlambatan, lembaganya siap mengembalikan uang tiket 100 persen tanpa potongan.

"Semua penumpang sejak kemarin malam hingga pagi telah menggunakan bus yang disiapkan di beberapa stasiun mulai dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Banjar," ucap Joni.

2 dari 3 halaman

Sulitnya Akses Kendaraan

Adapun Endang (40), warga Kampung Ciherang, Desa Haur Kuning, Kecamatan Malangbong, mengatakan bahwa beberapa titik longsor berada di tengah perlintasan, serta sulitnya akses kendaraan.

"Lokasi tanah longsor paling banyak berada di atas tebing dengan ketinggian 50 meter sampai 100 meter," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, upaya pembersihan material longsor menggunakan alat berat beko masih dilakukan, beberapa titik yang masih dikerjakan, yakni KM 232, KM 233, KM 324, dan KM 235, panjang longsoran rata-rata mencapai 50 meter dengan ketebalan tiga meter lebih.

"Untuk menuju lokasi kejadian tanah longsor yang menimbun perlintasan kereta api harus berjalan kaki di atas rel sejauh 7,5 kilometer sampai tujuan," kata Endang.

Artikel Selanjutnya
Libur Idul Adha Usai, Kemacetan Kepung Jalur Selatan Garut
Artikel Selanjutnya
Kemacetan Tak Berujung di Lenteng Agung