Sukses

9 Bukti Sejarah Kedekatan Muhammadiyah dengan Keraton Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta - Keraton Yogyakarta memiliki sejarah panjang dengan organisasi Muhammadiyah. Itu pula yang melatarbelakangi Muhammadiyah menggelar resepsi milad ke-105 di Keraton Yogyakarta, Jumat (17/11/2017) malam. Tidak hanya itu Sri Sultan HB X menjadi salah satu dari tiga tokoh yang menerima Muhammadiyah Award dalam perhelatan itu.

Tercatat, ada sembilan peristiwa sejarah yang membuktikan Keraton Yogyakarta mendukung keberadaan Muhammadiyah. Pertama, Sri Sultan HB VII memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Hindia Belanda sehingga Muhammadiyah mendapatkan rechtspersoon atau legalitas badan hukum.

Kedua, saat Sultan HB VII menuju Pesanggrahan Ambarrukmo pada 1919 dikawal oleh kepanduan Hizbul Wathon yang dipimpin Kyai Haji Mochtar dan menjadi satu-satunya barisan di luar pasukan kesultanan.

Ketiga, Sultan HB VIII menghadiri peresmian Madrasah Muallimin. Keempat, Ketika Sultan HB VIII wafat pada 1939, barisan kepanduan Hizbul Wathon ikut serta dalam prosesi pemakaman.

Kelima, Sultan HB IX memberikan bantuan dan mengutus perwakilan untuk menghadiri Kongres Akbar Muhammadiyah pada 1940. Keenam, Sultan HB IX memberikan sebidang tanah di Kauman untuk SD Pawiyatan Muhammadiyah.

Ketujuh, Sultan HB IX memfasilitasi sejumlah kongres tahunan dan muktamar, antara lain, kongres pada 1950 di Pendopo Dalem Notoprajan dan muktamar ke-34 pada 1959 di Sasono Hingga Keraton Yogyakarta.

Kedelapan, Sultan HB IX mengizinkan Hizbul Wathon masuk ke dalam barisan kirab saat penobatannya sebagai raja pada 1940. Kesembilan, Sultan HB X menghadiri Muktamar Muhammadiyah ke-42 pada 1990 dan mengizinkan Alun-Alun Utara menjadi arena pameran dan bazar.

"Salah satu alasan Muhammadiyah bisa tumbuh besar dan mencapai usia lebih dari satu abad karena didukung oleh Kesultanan Yogyakarta," ujar Sultan HB X dalam pidato sambutannya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

1 dari 2 halaman

Teladan Tokoh Muhammadiyah

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan jika semua merasa memiliki Indonesia, maka harus belajar hidup dalam kebersamaan yang autentik dan tidak egois.

"Mereka yang besar jangan menguasai, yang kecil pun tidak anarki," ujarnya.

Ia mengajak warga dan keluarga besar Muhammadiyah belajar dari jiwa kenegarawanan para tokoh Muhammadiyah sejak Kyai Dahlan hingga generasi sesudahnya dalam memupuk kebersamaan dan cinta bangsa.

Haedar mencontohkan, saat Ki Bagus Hadikusumo bersama tokoh Islam lainnya, menyampaikan gagasan keislaman dan kebangsaan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ini dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah seorang bangsa Indonesia tulen dan sebagai Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan merdeka.Soekarno pun bersikap sama ketika menyampaikan pidato 1 Juni 1945 tentang Pancasila, di dalam dadanya yang nasionalis, tersimpan jiwa Islam.

"Dengan spirit kebangsaan yang menyatu dengan keislaman yang mendalam, Muhammadiyah berkomitmen kuat untuk tetap dan terus berkiprah merekat kebersamaan melalui berbagai karya-nyata berkeunggulan, bukan dengan retorika dan keindahan kata-kata," ucap Haedar.

Artikel Selanjutnya
Mengingat Amanat 5 September Raja Yogyakarta 72 Tahun Lalu
Artikel Selanjutnya
Forum LSM: Raja dan Gubernur Yogya Urusan Internal Keraton