Sukses

Gubernur Bali Berharap Status Gunung Agung Diturunkan, tapi...

Liputan6.com, Denpasar - Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, mengharapkan status vulkanik Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, yang saat ini masih berstatus Awas (Level IV) dapat diturunkan. Dengan demikian, sebagian kegiatan perekonomian masyarakat setempat dapat kembali hidup.

"Kalau seandainya ini bisa diturunkan statusnya menjadi Siaga saja, radiusnya menjadi 6 kilometer," ucap Pastika usai menghadiri Sidang Paripurna DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Selasa (24/10/2017), dilansir Antara.

Bila radius 6 kilometer, berarti yang mengungsi itu tinggal setengahnya saja. "Jadi, kegiatan perekonomian setengahnya akan hidup," tutur Pastika.

Namun, ia tidak memungkiri jika berdasarkan keterangan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), belum berani menurunkan status.

Menurut dia, kalau dilihat fakta penetapan status Awas yang sudah sebulan lebih (sejak 22 September 2017) telah menimbulkan dampak yang panjang. Baik dari sisi ekonomi, psikologi, pendidikan, kesehatan, hingga pemuktahiran data pemilih, bahkan kejenuhan para pengungsi.

Di samping itu, ucap dia, dampak material bangunan menjadi tidak ada. Bukan saja masyarakat di sekitar Gunung Agung menjadi tidak bekerja, tapi bagi pekerja bangunan terpaksa menganggur juga. Hal ini akan berpengaruh pada tersendatnya target penyelesaian sejumlah proyek pemerintah hingga permasalahan anggaran.

Sebab, masalah kontrak proyek pemerintah itu tidak gampang. Misalnya tidak selesai tahun ini, dipotong di jalan, belum tentu bisa dipakai anggaran 2018. "Kalau harus dipakai pada anggaran 2018, perubahan itu sekitar November, berapa (lama) mundurnya itu," sebut Pastika.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

1 dari 2 halaman

Kondisi Sekarang Berbeda

Gubernur Bali mengatakan, dengan sistem early detection dan early warning, plus kemajuan transportasi, teknologi, dan komunikasi, seharusnya status Awas Gunung Agung bisa diturunkan.

Bila terus-menerus seperti itu, dampaknya panjang sekali. "Inilah yang juga dasar dari Menko Maritim untuk meminta kajian yang lebih realistis. Jangan diset maksimum semuanya indikatornya. Kalau diset maksimum, kan hasilnya maksimum," ujarnya.

Meskipun mengharapkan adanya penurunan status Gunung Agung, Pastika menegaskan pihaknya tidak ingin mencelakakan rakyat.

Berdasarkan adanya alat deteksi dini dengan peralatan yang canggih, semestinya kemungkinan erupsi bisa dideteksi lebih awal dan cepat diinformasikan, serta masyarakat cepat diungsikan.

Dia menjelaskan, kondisi sosial, budaya, dan intelegensi masyarakat sekarang sudah berbeda dan tidak bisa disamakan ketika terjadi erupsi Gunung Agung pada 1963.

"Waktu itu korban banyak kenapa? Karena alat komunikasi tidak ada, alat deteksi tidak lengkap, alat transportasi enggak ada, jalan masih rusak, dan kondisi masyarakat juga berbeda dengan sekarang," katanya.

Pastika mengatakan, pada 26 Oktober 2017 akan diadakan rapat koordinasi kembali. Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan telah meminta PVMBG untuk mengkaji kembali dan harus ada second opinion dengan memperhatikan berbagai dampak status Awas Gunung Agung.

Faktanya, menurut Pastika, kegiatan gempa menurun, hanya disebutkan lagi cadangan magma di bawah sekian.

"Okelah, cadangan magma sekian, kalau tidak naik kan enggak apa-apa," tuturnya.

Kalau ada tanda-tanda magma mau naik, PVMBG diharapkan menginformasikannya, apalagi ada alatnya. "Bukan saya ngeyel, tetapi ini akibatnya panjang," Made Mangku Pastika memungkasi.

Artikel Selanjutnya
Azwar Anas Belum Dapat Sinyal Dukungan PDIP di Pilgub Jatim 2018
Artikel Selanjutnya
Sultan HB X Kembali Menjabat Gubernur DIY