Sukses

Istimewanya Batik Kain Besurek Bengkulu hingga Go Internasional

Liputan6.com, Bengkulu - Bengkulu punya keunikan tersendiri jika kita berbicara tentang batik. Motif kaligrafi dengan ornamen flora dan fauna endemik seperti bunga Rafflesia Arnoldii dan bunga kibut hanya bisa ditemukan dalam ragam kreasi batik yang lebih dikenal dengan nama kain besurek.

Doni Roesmandani, salah seorang anak muda perajin kain besurek mengatakan, di tengah pasang surut perkembangan kain besurek, para perajin yang jumlahnya sangat terbatas saat ini mulai memasang target untuk lebih dikenal di mancanegara atau go internasional. Idealisme dan identitas lokal yang selalu dipertahankan dalam setiap lembar batik yang diproduksi merupakan modal utama.

"Budaya Islam sangat lekat dengan seni kaligrafi dan keunikan lokal yang kami pertahankan dalam batik kain besurek ini sebagai modal untuk Go Internasional," kata Doni di Bengkulu, Sabtu, 21 Oktober 2017.

Desainer terkemuka Samuel Wattimena, dalam satu kesempatan di Bengkulu mengatakan, motif kaligrafi yang ada di kain besurek cuma bisa ditemukan di Bengkulu. Tinggal bagaimana para perajin lebih berani melakukan eksplorasi berupa permainan warna dan melihat selera pasar.

"Unik tidak ada di daerah maupun negara lain, kreasi ini sangat layak jual, tinggal bagaimana mengemasnya saja," ujar Samuel.

Pemerintah Kota Bengkulu juga sudah menetapkan 18 November sebagai Hari Batik kain besurek. Bahkan, ornamen kain besurek dijadikan ikon menuju Visit Bengkulu Years 2020.

Budayawan Bengkulu, Alcala Zamora menjelaskan, nama kain besurek berasal dari bahasa Bengkulu. Kata tersebut berasal dari suku kata "be" termasuk awalan dengan pengertian "ber" dan "surek" yang berarti "surat" atau "tulisan".

Terjemahan bebas dari kata 'besurek' adalah 'bersurat' atau 'bertulisan'. Kain besurek berarti kain yang telah dipenuhi dengan surat atau tulisan berciri tulisan kaligrafi Arab.

Pada abad ke-16, Islam sudah berkembang pesat di daerah Bengkulu. Islam juga memengaruhi perkembangan seni budaya di Bengkulu.

Pengaruh luar masuk ke Bengkulu sejalan dengan datangnya pedagang bangsa India, China, Eropa, dan Arab. Kain Besurek sudah mengakar di masyarakat Kota Bengkulu pada masa itu, terbukti dari kekhasan motifnya kaligrafi tulisan huruf Arab.

Sejarah awal pertumbuhan kain besurek belum diketahui secara pasti. Menurut pemuka adat maupun pemuka masyarakat Bengkulu, penggunaan kain besurek sudah sejak lama dan pada upacara-upacara adat khususnya di Kota Bengkulu.

Ada teori yang menyebutkan sejarah awal perkembangan kain besurek di Bengkulu bermula sejak hijrahnya Sentot Alibasyah, Panglima Pangeran Diponegoro, serta sanak saudara dan pengikut-pengikutnya ke Bengkulu. Terbukti pada awalnya ternyata masyarakat pemakai dan perajin kain besurek sebagian besar dari keturunannya.

Penggunaan kain besurek pada mulanya hanya terbatas untuk upacara-upacara adat seperti dipakai untuk pengapit pengantin pria khususnya "destar" atau topi khas Bengkulu pada prosesi pernikahan.

Untuk acara calon pengantin putri juga digunakan saat prosesi pemandian, siraman, bedabung atau mengikir gigi, ziarah kubur, akad nikah hingga upacara perkawinan, sampiran bilik pengantin.

Pembinaan terus dilakukan, salah satunya oleh Bank Indonesia. Pelatihan peningkatan ketrampilan, manajemen pengelolaan produk serta mengikutkan batik kain besurek ke berbagai pameran tingkat nasional mengikutkan para perajin dari Bengkulu.

Untuk lebih memacu perkembangan dan melakukan pendampingan, Bank Indonesia melibatkan para mahasiswa terbaik penerima beasiswa yang tergabung dalam Generasi muda Bank Indonesia (GenBI) yang dilatih untuk mengelola pemasaran secara profesional.

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengatakan, jika tidak diperhatikan, kain besurek ini akan mengalami pasang surut. Apalagi gempuran kain industri yang diproduksi secara masal dengan harga murah sudah merambah motif kaligrafi ini dan digunakan oleh masyarakat Bengkulu.

"Kain besurek ini adalah batik tulis, ini yang kami lindungi dan dorong untuk maju dan mendunia," kata Endang Kurnia Saputra.

Batik Indonesia sejak Oktober 2009, diakui sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia) oleh UNESCO.

Salah satu pertimbangan Dewan Komite mengakui Batik Indonesia sebagai warisan budaya adalah kekayaan simbolisnya yang berhubungan dengan status sosial, komunitas lokal, alam, sejarah dan warisan budaya yang memberikan sense of identity untuk orang Indonesia dan keberlanjutannya sebagai komponen penting dari mulai kelahiran sampai kematian, serta terus berkembang tanpa kehilangan makna.

Saksikan video pilihan berikut ini!