Sukses

Saudara Si Kembar Juga Sempat Berhenti Sekolah karena Seragam

Liputan6.com, Pekanbaru - Vila Selvia Sitinjak (7), saudara si kembar yang putus sekolah, dalam tiga pekan terakhir berhenti sekolah meski baru masuk pada Juli 2017. Siswi kelas 1 SDN 107 Rumbai, Kota Pekanbaru, itu terpaksa berhenti setelah ia belum juga membayar tunggakan biaya seragam sebesar Rp 400 ribu.

Menurut ibu Vila, Mega Lubis, sekolah menetapkan biaya seragam sebesar Rp 800 ribu untuk tiga pasang baju. Orangtua Vila baru mampu membayar setengahnya saat mendaftar ke sekolah itu.

Belakangan, pihak sekolah membuka kembali pintu bagi Vila. Bocah itu bisa kembali bersekolah pada Kamis, 19 Oktober 2017. Namun, ia justru mendapat intimidasi dari seorang guru berinisial RB.

Sang guru diceritakan Vila tak mau mengajar kalau ada dirinya di kelas. RB disebut baru mau mengajar kalau orangtua Vila, Mega Lubis, meminta maaf karena membuat heboh sekolah dengan pemberitaan terkait seragam.

"Tadi disuruh pulang lagi, katanya orangtua harus minta maaf," kata Vila ditemui wartawan, Kamis siang.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Kepala SDN 107 Rumbai, Sri Hartati, kaget dengan pengakuan Vila itu. Dia menyebut persoalan Vila terkait seragam dan pencurian donat karena tak punya uang sudah selesai.

"Sudah selesai, apalagi. Sudah diberikan seragamnya, saya yang memakaikan. Berarti ini baru lagi ya," ucap Sri di ruangan kerjanya.

Sri pun menghubungi RB supaya datang ke ruangannya. Namun, guru agama itu sempat berkilah berada jauh dari sekolah dan tidak bisa datang. Sri juga menyuruh guru lainnya menghubungi RB supaya datang segera ke sekolah.

Dalam percakapan via telepon, Sri menanyakan apa masalah yang terjadi. Karena RB bersikukuh tak mau datang, Sri terlihat marah dan memintanya datang dalam hitungan menit ke ruangannya.

"Kemarin semua guru sudah saya kasih tahu supaya tidak mengingat soal seragam itu," ucap Sri.

Saksikan video pilihan berikut ini:

1 dari 2 halaman

Pengakuan Guru RB

Tak lama berselang, RB datang ke ruangan. Di hadapan Liputan6.com, dia mengakui perbuatannya kepada Vila dan meminta maaf atas kejadian tersebut.

"Saya minta maaf atas kejadian ini, tidak akan diulangi, saya tidak punya waktu banyak, dan harus pergi dari sini," kata RB.

Diingatkan soal tugasnya sebagai pendidik dan tidak boleh mengintimidasi murid, RB terlihat marah. Dia pun menyebut sudah tahu tugasnya dan tidak perlu diingatkan lagi.

"Itu tidak perlu disebutkan, tahu saya. Dan saya minta maaf atas kejadian tersebut, sekian dan saya harus pergi dari ruangan ini," ucap RB sambil berdiri dari kursi dan keluar dari ruangan kepala sekolah.

Atas kejadian ini, Sri sebagai atasan para guru di SDN 107 berjanji segera mengumpulkan anak buahnya. Dia menyebut akan menindak guru yang mengintimidasi murid dan melaporkannya ke Dinas Pendidikan Pekanbaru.

"Besok (hari ini) saya adakan rapat, saya kumpulkan guru. Saya kasih tahu nanti tugasnya, beri pengarahan supaya kejadian ini tak berulang lagi," kata Sri.

Dan atas surat pernyataan bermaterai terhadap Vila supaya tidak mencuri lagi, Sri meminta maaf. Dia juga berjanji mendidik muridnya itu secara baik dan mengarahkan guru serta murid lainnya tak mengintimidasi.

Selain Vila, kakak kembarnya sempat bernasib serupa karena tak mampu bayar SPP. Sementara, kakak sulungnya yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan Vila sempat tidak mau belajar karena merasa malu adiknya tak bayar seragam.

Masalah si kembar perlahan sudah mendapat solusi. Difasilitasi anggota DPRD Pekanbaru Dapot Sinaga, sang kakak Simon bisa sekolah, sementara adiknya harus mencari sekolah lain dengan alasan harus dipisahkan.

"Harus dipisahkan, kalau bersama terus, nakal berdua ini. Sekarang sedang dicari sekolahnya," kata Dapot.

Artikel Selanjutnya
35 Tahun Berpisah, Paidi Akhirnya Bertemu Lagi dengan Ibunya
Artikel Selanjutnya
Video Guru Tampar 20 Murid Gegerkan China