Sukses

Top 3 Berita Hari Ini: Kisah Polisi Selamat dari Lubang Buaya

Liputan6.com, Purbalingga - Top 3 berita hari ini, peristiwa 30 September 1965 dan pembantaian enam jenazah jenderal satu perwira TNI AD di Lubang Buaya, Jakarta Timur, merupakan sejarah kelam yang tak akan pernah dilupakan bangsa ini. Hingga kini, kisah kekejaman terhadap ketujuh Pahlawan Revolusi itu turut membekas pada warga Indonesia, terutama mereka yang menjadi saksi kunci dalam peristiwa tersebut.

Salah satunya Ishak, mantan anggota pasukan elite pengawal presiden, Cakrabirawa, dan seorang polisi bernama Sukitman. Ishak menceritakan, dirinya sempat diminta untuk menembak mati Sukitman yang tahu persis lokasi para jenderal dibantai dan dijebloskan ke dalam sumur tua.

Sementara di Garut, Jawa Barat, seorang remaja berusia 16 tahun, diancam akan masuk neraka jika menolak kemauan bejat sang guru mengaji. 

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini

1. Kisah Eks Anggota Cakrabirawa Selamatkan Polisi dari Lubang Buaya

Mantan Anggota Cakrabirawa, Ishak, berfoto dengan latar belakang lukisan saat masih aktif berdinas. Ia masih gagah di usianya yang ke 81 tahun. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Ishak adalah mantan anggota pasukan elite pengawal presiden, Cakrabirawa. Tugasnya di ring 1 adalah menjaga keselamatan presiden, sebagai unit yang selalu menempel ke mana pun presiden bergerak.

Sebelum menjadi pengawal paling dekat Presiden pertama RI Sukarno, dia adalah ajudan Letkol Untung, Komandan Cakrabirawa yang akhirnya divonis mati karena dinyatakan bersalah melakukan kudeta.

Ishak berkisah pada Jumat, 1 Oktober 1965, sedianya ia akan mengawal Presiden Sukarno ke Bogor, Jawa Barat. Tetapi, ia batal mengawal Presiden Sukarno. Ketika satu kompi Cakrabirawa bertugas menjemput para jenderal, ia tetap berada di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Di tengah kekalutan situasi kala itu, ia diperintahkan untuk menembak mati Sukitman. Ia adalah polisi yang ditangkap di sekitar kediaman Mayor Jenderal DI Pandjaitan.

Selengkapnya...

2. Ancaman Masuk Neraka dari Guru Ngaji Pencabul Belasan Santri

Ilustrasi Pemerkosaan 2 (Liputan6.com/M.Iqbal)

G (16), salah seorang korban pencabulan FA mengatakan, kelakuan bejat guru mengaji itu berlangsung dalam kurun waktu Mei hingga Agustus 2017. 

Saat itu, FA yang biasa menggelar pengajian di rumahnya di wilayah Lebak Jaya, Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jawa Barat, meminta gadis tersebut untuk menemaninya dengan alasan sakit.

G mengaku dipaksa mengikuti kemauan FA. Ia diancam akan masuk neraka jika menolak kemauan sang guru ngaji.

Namun, kelakuan bejat FA terbuka juga. Saat itu, Dedeh (38), ibu angkat G berencana menjenguk G karena sakit. Saat di rumah si guru ngaji, ujar Dedeh, roman ketakutan kentara di wajah putrinya.

Selengkapnya...

3. Kisah Cinta Mantan Anggota Cakrabirawa dan Putri Komandan Provos

 Setiap hari, Ishak yang merupakan mantan anggota Cakrabirawa itu membaca buku dan koran di gym kecilnya di samping rumah. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kisah cinta Ishak dan Sri Sumarni tampak sederhana. Namun, tidak bagi Ishak. Lelaki yang kini berusia 81 tahun itu mesti melewati pahit getir usai kejayaan pasukan Cakrabirawa rampung oleh rezim baru yang berkuasa, pasca-peristiwa 1965.

Ishak bercerita, kala ditangkap pada 1 Oktober 1965 sore di Istana Merdeka, Jakarta, istrinya di Purbalingga, tengah hamil muda. Ia memang baru menikah waktu itu. Sembari menunggu proses memperoleh rumah dinas di Jakarta, istrinya sementara waktu tinggal di rumah orangtuanya.

"Istri saya menceraikan saya. Istilahnya, rapak. Anak saya dibawa. Baru ketemu saat anak saya berusia 13 tahun, waktu saya sudah dibebaskan pada 1978," ujarnya.

Tetapi dia mengaku tak pernah mendendam pada istri pertamanya. Sebab, reputasinya sebagai anggota Cakrabirawa jatuh ke titik terendah.

Selengkapnya...

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Top3 Berita Hari Ini: Warna Suzuki Jimny Baru dan Polisi Sadis
Artikel Selanjutnya
Buaya Jumbo 1 Ton Kejutkan Tamu dan Pekerja Bengkel Ban Malaysia