Sukses

Hati-Hati Aksi Si Pencari Untung Status Awas Gunung Agung

Liputan6.com, Denpasar - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali meminta peritel dan distributor tidak menimbun sembilan bahan pokok (sembako) dengan memanfaatkan situasi siaga darurat Gunung Agung yang berstatus awas."Ini terkadang dimanfaatkan oleh oknum tertentu berspekulasi menimbun sembako dengan harapan nanti dijual lebih mahal, ini sangat merugikan masyarakat," kata Ketua Aprindo Bali Gusti Ketut Sumardayasa di Denpasar, Senin (25/9/2017), dilansir Antara.Menurut dia, kebutuhan masyarakat terhadap sembako mengalami kenaikan pada pekan ini mengingat banyak masyarakat yang membeli dalam jumlah besar untuk disumbangkan dan atau dicadangkan untuk menghadapi bencana.Dia akan merekomendasikan tindakan tegas kepada pemerintah jika ada spekulan yang mempermainkan harga dalam situasi masyarakat yang sedang dilanda kesusahan.

Senada dengan Sumardayasa, Sekretaris Aprindo Bali I Made Abdi Negara menambahkan, pihaknya akan segera mengirim surat ke Satgas Pangan, kepolisian dan Dinas Perdagangan untuk berkoordinasi sekaligus menegaskan komitmen keberpihakan kepada masyarakat."Jangan sampai kami sebagai pengusaha, mengorbankan hati nurani dengan memanfaatkan situasi seperti ini untuk mendapatkan keuntungan. Masyarakat yang terdampak sudah sangat menderita, jangan sampai ikut menari di atas penderitaan tersebut," ucapnya.Beberapa anggota Aprindo Bali, kata dia, juga telah beraksi cepat menanggapi siaga darurat dan secara khusus juga mendirikan posko peduli bertempat di parkir Keramas Aero Park di Jalan By Pass Ida Bagus Mantra Kilometer 28 Keramas, Gianyar yang akan mulai dioperasikan pada Senin ini.Jaga Frekuensi Posko BencanaSementara itu, Ketua Relawan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Karangasem, Made Wijaya Mataram mengimbau kepada pengguna radio amatir tidak mengganggu frekuensi yang digunakan Orari Karangasem atau posko bencana Gunung Agung."Saya mengimbau kepada warga masyarakat atau pengguna radio amatir tidak menganggu frekuensi yang digunakan Posko Bencana Gunung Agung, salah satunya frekuensi 14.680 Mhz," kata Wijaya dikonfirmasi dari Denpasar, dilansir Antara.Ia mengatakan, belakangan ini frekuensi radio amatir tersebut diganggu (jemper) oleh para pengguna radio yang tidak bertanggung jawab. Hal itu menyebabkan petugas posko sering terganggu saat berkoordinasi mengenai bencana kegawatdaruratan Gunung Agung, padahal status Gunung Agung adalah Awas sejak ditetapkan PVMBG pada Jumat malam, 22 September 2017."Oknum yang menganggu frekuensi itu, antara lain dengan cara berteriak-teriak, memutar lagu-lagu atau berkata jorok. Tindakan mereka seakan tidak peduli dengan kemanusiaan," ucapnya.Wijaya juga sudah melaporkan ke Balai Monitor (Balmon) Bali untuk mengingatkan dan mengawasi mereka yang sengaja menganggu frekuensi yang digunakan Orari atau posko bencana. Ia menegaskan dukungan komunikasi melalui radio amatir sangat diperlukan dalam penyaluran logistik pengungsi yang tersebar di Bali."Mari sama-sama peduli dengan bencana alam Gunung Agung ini, dengan sikap tidak menganggu frekuensi yang digunakan Orari Karangasem," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini: