Sukses

Cabai Bikin Pagi Jadi Hangat di Puncak Lenganeng

Liputan6.com, Sangihe - Matahari belum lama keluar dari peraduannya. Embun pagi juga masih menempel di dedaunan. Suara berbagai jenis burung seakan memberi semangat bagi para petani yang mulai sibuk menggarap lahan pertanian mereka di perbukitan perbatasan kampung Lenganeng dan Raku, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Kampung Lenganeng ini punya cerita sendiri, karena merupakan pusat penyebaran aliran penganut Islam Tua atau Masade di Sangihe. Di samping sebagai saksi sejarah, kawasan ini memiliki tanah yang subur. Berbagai jenis tanaman bisa berkembang di lahan pertanian kawasan ini.

"Ada beberapa hektare lahan pertanian yang kami olah di sini, ditanami berbagai jenis tanaman termasuk cabai," kata Agus Sasundu, warga Kampung Likuang, Kecamatan Tabukan Utara.

Pagi itu Agus ditemani istrinya Martha Macpal memetik cabai. "Memang sudah siap panen. Biasa kami menjualnya di pasar setempat," ujar Agus.

Meski mengolah lahan pertanian organik, tetapi Agus mengaku harga hasil panennya tidak berbeda jauh dengan harga hasil panen lahan pertanian anorganik di pasar.

"Mungkin kalau di perkotaan warga pembeli bisa membedakan antara organik dan anorganik. Tapi di sini harganya sama saja," ujar Agus yang juga pelatih kesenian musik bambu khas Sangihe ini.

Sambut pagi dengan memetik cabai di Puncak Lenganeng, Kepulauan Sangihe. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Agus mengatakan salah satu keuntungan yang diperoleh menggunakan pupuk organik yaitu tanaman tahan terhadap serangan hama.

Untuk 500 pohon cabai yang ditanam, Agus mengaku bisa menghasilkan 15 kilogram cabai. "Masa panen selama tiga bulan terus-menerus, selama lima hari sekali," tutur pria 69 tahun ini.

Sementara, Agus menambahkan harga cabai mengikuti naik-turunnya harga di pasaran yakni antara Rp 60 ribu–100 ribu per kilogram.

Selain Agus dan Martha, di lahan pertanian yang berada di atas perbukitan di Kepulauan Sangihe itu, sejumlah petani juga terlihat sibuk menggarap lahan mereka. "Pagi-pagi kami ke sini, nanti saat matahari sudah tinggi baru kami kembali ke kampung," ujar Agustinus Makatengkeng, petani setempat.

Artikel Selanjutnya
Embun Es Dieng, Si Beracun yang Memikat Hati
Artikel Selanjutnya
Siapa Mau Berburu Embun Es Pagi di Dieng Awal September?