Sukses

Pengabdian 'Pendekar' Suling Bambu dari Kepulauan Sangihe

Liputan6.com, Sangihe - Lebih dari 47 tahun Agustinus Sasundu mengabdikan dirinya untuk mengembangkan alat kesenian tradisional musik bambu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Meski tanpa apresiasi pemerintah daerah, dia tetap berupaya melestarikan kesenian itu.

Agustinus dengan teliti memotong bambu dengan gergaji, kemudian menempelkan dan menyusun potongan-potongan itu sehingga terbentuk sebuah alat musik seperti terompet.

"Pekerjaan membuat alat musik bambu ini saya awali dengan memilih bambu di hutan. Kemudian membuat berbagai jenis alat musik menyerupai terompet, suling, hingga saxophone modern," ujar Agustinus, Sabtu, 9 September 2017, sore.

Dia turun langsung untuk memilih bambu yang akan digunakan sebagai upaya ikut melestarikan tumbuhan itu. Dengan cara mengetuk batang pohon itu, Agustinus bisa mengetahui bambu mana yang layak ditebang untuk dibuat alat musik.

"Kalau kita sembarang menebang, dan ternyata tidak digunakan itu artinya kita sudah menyia-nyiakan tumbuhan itu," tutur dia.

Rumahnya yang terletak di pinggir jalan Kampung Likuang, Kecamatan Tabukan Utara, disulap menjadi bengkel untuk memproduksi berbagai jenis alat musik bambu. "Saya sudah belajar membuat peralatan musik bambu sejak 1969," ujar dia.

Selama lebih 47 tahun itu, Agustinus sudah mewariskan keterampilannya kepada hampir semua penduduk kampung yang ada di Sangihe, termasuk para nelayan yang buta huruf. Tidak hanya mengajarkan bermain alat musik bambu, tetapi dia juga mengajarkan cara membuatnya.

"Saya tidak hanya mengajarkan mereka meniup musik bambu, tapi bagaimana memproduksi alat-alat musik itu dengan potensi daerah yang memiliki banyak tumbuhan bambu," Agustinus menuturkan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

 

1 dari 2 halaman

Mimpi Sang Maestro Lestarikan Musik Tradisional di Tanah Nusa Utara

Melalui bengkel kerjanya yang sederhana itu, Agustinus tidak hanya menghasilkan ratusan set peralatan musik bambu, tetapi dia juga sudah mewariskan ilmunya tersebut ke banyak orang dengan tujuan agar kesenian tradisional itu tetap lestari.

Untuk setiap order satu set alat musik bambu, Agustinus membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mengerjakannya. Sedangkan harga tiap setnya berkisar Rp 40 juta.

"Saya biasa lebih suka mengerjakan pesanan ini di kampung mereka, agar keterampilan ini bisa saya tularkan kepada mereka," kata dia.

Setelah mengerjakan sejumlah pesanan alat musik, Sabtu malam itu Agustinus ditemani sang istri menuju ke kampung Sawang. Di sana sudah menunggu puluhan warga di aula sebelah gereja.

"Kampung ini meminta saya untuk melatih mereka memainkan musik bambu. Karena akan ada perlombaan," ujar Agustinus.

Dia menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk melatih puluhan warga di sana. Jelang tengah malam, dia kembali ke kampungnya. Agustinus ternyata tidak hanya terampil membuat alat musik, tetapi juga mahir memainkannya. Dia bahkan tampil sebagai pelatih serta pengaransemen lagu yang dibawakan.

"Memang tak mudah mengaransemen partitur musik bambu yang sedikitnya terdiri dari 40 jenis peralatan musik. Tapi sudah saya jalani puluhan tahun," ujar dia.

Salah satu kelompok musik bambu di Sangihe yang dilatih Agustinus Sasundu. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Salah satu pengalaman menarik Agustinus adalah ketika diminta melatih kelompok musik bambu di Pulau Nanekele yang hampir semua warganya belum bisa baca tulis. Mereka hidup sebagai nelayan tradisional dan jauh dari perkembangan modern karena transportasi laut yang masih susah waktu itu.

"Mereka 99 persen buta huruf. Hanya bisa menghapal bunyi. Sehingga saya punya strategi khusus mengajari mereka," ujar dia.

Agustinus tidak pernah memasang tarif untuk jasanya melatih atau mengaransemen lagu. Namun, totalitas Agustinus yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan musik bambu ternyata tak cukup menarik perhatian pemerintah daerah setempat.

"Belum ada apresiasi dan penghargaan khusus yang diberikan," ungkap Martha Macpal, istri Agustinus. 

Tak ada apresiasi dari pemerintah setempat, tetapi kerja keras Agustinus ternyata mendapat perhatian dari Yayasan Kehati melalui Penghargaan Kehati Award sebagai pemenang untuk kategori Citra Lestari Kehati 2014.

"Penghargaan ini menjadi kebanggaan saya," ujar Agustinus sambil menunjukan sebuah sertifikat yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya. 

Di sela-sela kesibukannya mengawasi beberapa orang yang mengerjakan pesanan alat musik, sebuah suling bambu melekat di tangan Agustinus. Sesekali dia meniup suling itu, memperlihatkan kemahirannya memainkan salah satu dari sekian jenis alat musik. Tiupan merdu sang maestro musik bambu ini terus terdengar untuk melestarikan kesenian ini di bumi Nusa Utara.

Artikel Selanjutnya
Rumah Bung Karno dan Benteng Penjajah di Kanvas Sang Maestro
Artikel Selanjutnya
Mencari Jejak Manusia Prasejarah di Maluku