Sukses

Cinlok Dalam Bus Pasutri Korban Pembunuhan Sadis Cinta Lama

Liputan6.com, Mojokerto - Pasangan suami istri siri korban pembunuhan sadis suami sakit hati di Dusun Tambak Suruh, Desa Tambak Agung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengawali kisah cinta mereka dari dalam bus.

Berawal dari Komariah (44) yang menjadi penumpang setia angkutan bus kota yang dikemudikan Ahmad Wiyono (50), terjadilah cinta lokasi (cinlok) di antara keduanya.

Komariah bersama Taufik Hidayat (23), anak pertamanya, kerap bepergian menggunakan jasa angkutan bus kota jurusan Mojokerto-Pasuruan. Karena terlalu sering bertemu, Wiyono, pria asal Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, ini pun mulai tertarik dengan Komariah.

"Waktu itu, bapak (Wiyono) tanya soal ibu. Langsung tak bilang kalau ibu masih istri orang," kata Taufik, Rabu, 23 Agustus 2017.

Wiyono, yang saat itu berstatus duda, langsung meminang Komariah lima hari setelah berkenalan. Bahkan, dia berencana untuk membuat resepsi sederhana saat pernikahan mereka. Namun, permintaan cerai Komariah tak disetujui Saiman.

"Dulu, dia (Saiman) pernah ngomong sudah ikhlas kalau ibu nikah lagi, tapi kemarin-kemarin malah ngancam akan ngebunuh. Permintaan cerai ibu enggak dikasih izin," ucap Taufik.

Taufik mengatakan Wiyono jauh lebih baik ketimbang ayah tirinya, Saiman. Kebaikan hati Wiyono tersebut membuat anak-anak Komariah luluh dan lebih nyaman.

"Baik sekali, beda sama dia (Saiman). Bapak (Wiyono) sering ngasih uang, enggak pelit soal makan," ujar Taufik.

Karena sakit hati ibu dan ayah barunya dibunuh secara sadis, anak Komariah dari suami pertamanya itu berharap pihak kepolisian menghukum Saiman dengan berat. Bahkan, Taufik dan Muhammad Rizal, adiknya, berharap pembunuh ibu dan ayah sambungnya itu dihukum mati.

"Saya belum bisa membahagiakan orang tua saya, tapi kejadiannya seperti ini, sadis, kasihan saya. Nyawa dibayar nyawa, bakar hidup-hidup di depan saya sampai meninggal. Saya enggak terima kalau hanya dihukum 20 tahun," ucap Taufik.

Saksikan video menarik di bawah ini:



1 dari 2 halaman

Saiman Tak Menyesal

Sebelumnya, Saiman, tersangka kasus pembunuhan pasutri di Dusun Tambak Suruh, Desa Tambak Agung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berhasil ditangkap polisi hanya berselang sehari setelah pembunuhan.

Meski begitu, polisi butuh kerja keras untuk menangkap tersangka pembunuhan pasutri nikah siri tersebut. Tim Satuan Reserse Kriminal Polres Mojokerto harus mengejar Saiman sampai ke wilayah asalnya di Sampang, Pulau Madura.

Petugas sempat dibuat gigit jari setelah upaya penggerebekan rumah tersangka berbuah nihil. Ternyata, tersangka tidak berada di rumahnya.

"Kami gerebek di rumahnya tidak ada. Namun, tak lama kemudian, kami menemukannya di pinggiran Jalan Raya Desa Bucin, Kecamatan Rapah, Kabupaten Sampang," tutur Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata, Selasa, 22 Agustus 2017.

Saat gelar perkara di Mapolres Mojokerto, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun dari diri tersangka. Padahal, Saiman telah menghilangkan dua nyawa dengan cara yang sadis.

"Bojoku dikeloni wong (istri saya ditiduri orang)," ujarnya.

Komariah yang dibantai bersama Ahmad Wiyono (50), yang tak lain suami sirinya itu, memang dikabarkan sudah tinggal serumah sejak sepekan terakhir. Atas dasar itulah, tersangka merasa sakit hati. Sebab, dia dan Komariah masih berstatus sebagai pasangan suami istri yang sah.

"Saya enggak pernah cerai dan enggak minta cerai, tapi kata Taufik (anak Komariah dari suami pertama), istri saya beli surat cerai," ucap tersangka.