Sukses

Sekolah di Lereng Gunung Slamet Ini Bisa Bayar Pakai Apa Saja

Liputan6.com, Cilacap - Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis terletak di Grumbul Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Lokasinya terpencil dan benar-benar jauh dari hiruk pikuk kota. Maklum saja, sekolah ini berada di ketinggian lereng selatan Gunung Slamet, dikepung hutan lindung di sebelah utara dan perkebunan pinus di sisi barat dan timur.

Berbeda dengan sekolah lain yang menyandarkan pada pembelajaran akdemik dalam kelas, sekolah ini memadukan standar kurikulum dengan belajar lewat alam.

Seperti namanya, MTs Pakis berasal dari gabungan kata piety yang berarti kesalehan, achievement berarti prestasi, knowlegde atau ilmu pengetahuan, integrity atau integritas, dan sincerity atau keikhlasan. Sekolah ini memberikan pendidikan untuk para pemberani di lereng Gunung Slamet yang benar-benar jauh dari fasilitas pendidikan standar.

"Dalam pengertian lokal, pakis juga merupakan tumbuhan khas hutan Gunung Slamet yang banyak manfaatnya. Pucuk pakis bisa dimasak, yang agak tua bisa untuk makanan ternak. Pakis juga perlambang lestarinya hutan," ucap Kepala Sekolah MTs Pakis, Isrodin, Sabtu, 19 Agustus 2017.

Isrodin bercerita, seluruh siswa MTs Pakis berasal dari keluarga yang kurang mampu. Itu sebabnya sekolah benar-benar menggratiskan sekolah ini, mulai dari biaya pendaftaran, daftar ulang, hingga biaya bulanan. Mungkin lantaran tak enak hati, sering kali orangtua siswa membawa hasil bumi, seperti beras, ketela pohon, pisang, ubi jalar, dan ayam.

"Tahun pertama, mengawali dengan alat pertanian. Tahun kedua, hasil bumi. Jadi ada yang bawa talas, pisang. Yang penderes, ya bawa gula. Kemudian yang kemarin, bibit tanaman. Benih kaya gitu. Ada yang membawa biji, ada juga yang membawa sudah jadi bibit," ujarnya.

Di sekolah, siswa tak melulu menghabiskan hari di kelas. Mereka beraktivitas di kebun. Di waktu lain, mereka sibuk memberi makan ternak. Di waktu-waktu tertentu, mereka belajar dari alam, mengenal keragaman hayati Hutan Lindung, Gunung Slamet.

"Bagaimana membuat anak-anak di pinggir hutan punya ketrampilan terkait pertanian, perdesaan, dan kehutanan. Itu makanya kami menyebut pendidikan kami berkonsep agroforestry. Jadi pendidikannya itu menekankan pada kearifan. Bagaimana mengintegrasikan dunia peternakan, pertanian, kehutanan, dan ini, memanfaatkan potensi lingkungan," Isrodin menerangkan.

Dia menjelaskan, konsep awal sekolah ini tak lepas dari kegiatan sanggar belajar Paket C di Grumbul Pasawahan. Di kampung itu, sejak awal 2010-an, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Argowilis membuka Paket C untuk masyarakat di Dusun Pesawahan.

Seorang siswa, Yuli mengaku senang bisa bersekolah di MTs Pakis. Sebab, ia tak mesti menghabiskan waktu sepanjang hari di kelas. Di sekolah ini, ia bisa berlatih pertanian secara organik.

Pertanian yang diterapkan di MTs Pakis menurut dia berbeda dengan apa yang dilakukan orangtuanya kala bertani. Orangtuanya masih menggunakan pupuk kimia. Menurut dia, pupuk kimia tak sehat dan menyebabkan tanah rusak.

"Kalau di rumah itu menggunakan pupuk kimia. Kalau di sini menggunakan pupuk organik. Bagus yang memakai pupuk alami. Kalau yang kimia itu merusak tanah. Kalau di sini. Saya mendapatkan ilmu bertani, yang menggunakan pupuk secara organik,” ucap Yuli.

Siswa lainnya, Syahroni, bercita-cita menjadi pesepak bola profesional. Dilihat dari tubuhnya yang terhitung paling mungil dibanding rekan sebayanya, remaja berumur 14 tahun ini terlihat lincah. Namun, kerap kali dia terkendala main bola lantaran tidak ada lawan tanding.

Kawan sekampungnya, menurut Syahroni, lebih banyak merantau. Kalaupun di rumah, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di hutan untuk menyadap pinus maupun mencari kayu bakar.

Namun, anak-anak ini rupanya memiliki cita-cita setinggi anak-anak pada umumnya. Mereka bercita-cita menjadi pilot, polisi, bahkan pembalap.

"Saya ingin jadi pemain bola profesional. Kalau Yuli katanya ingin menjadi pembalap," ujar Syahroni, tertawa.

Artikel Selanjutnya
Puluhan Siswa SD Harus Seberangi Sungai untuk Sampai ke Sekolah
Artikel Selanjutnya
Mencekoki Jamu Tertua di Yogyakarta