Sukses

Kenalkan Peter 'Parto', Bule yang Jago Gamelan dan Berbahasa Jawa

Liputan6.com, Solo - "Aku mbiyen dolan-dolan neng ndeso Klaten, Boyolali, Magelang, Ambarawa. Mbiyen yo sok mangan nang angkringan. (Dulu aku sering jalan-jalan ke Klaten, Boyolali, Magelang, Ambarawa. Dulu suka makan di angkringan)," ujar Peter Smith, bule asal Inggris yang suka dipanggil Mas Parto, kepada Liputan6.com di Pendopo ISI Surakarta, Senin, 21 Agustus 2017.

Parto bukan hanya cas-cis-cus berbahasa Jawa Ngoko tetapi ia juga lihai bermain gamelan. Parto jatuh cinta dengan gamelan sejak berkuliah di Universitas York, Inggris.

Ia saat itu membantu menata gamelan milik sang guru yang menjadi pengajar gamelannya, Profesor Neil Sorrel. Begitu melihatnya, ia langsung jatuh cinta dengan ukiran gamelan.

"Kulo awale mboten ngertos blas. Pas dirungoke wah, kulo nggih langsung seneng, suarane nenangke (Saya awalnya tidak tahu, saat mendengarkan saya langsung senang, suara gamelan menenangkan)," kata Parto yang justru lancar Bahasa Jawa dibandingkan Bahasa Indonesia.

Peter 'Parto' lebih lancar berbahasa Jawa dibandingkan bahasa Indonesia saat berbincang dengan warga setempat. (Liputan6.com/Fajar Abrori)

Pada tahun 1992, Parto mendapatkan beasiswa Darmasiswa untuk belajar gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Awalnya, ia hanya ingin setahun di Solo, tapi karena kerasan Parto tinggal hingga tiga tahun lamanya.

"Gampang kerasan neng Solo (mudah betah di Solo)," tuturnya.

Di sini ia tidak hanya belajar gamelan, tapi juga bersosialisasi dengan teman-temannya, termasuk menjelajahi desa-desa temannya. Bahkan, ia juga ikut manggung bersama. Dalam Bahasa Jawa, manggung itu kerap disebut peye.

"Ya, melu peye yoan, neng ndeso-ndeso (Ya ikut manggung juga, ke desa-desa)," ujarnya.

Pulang ke London, Parto kemudian mempopulerkan gamelan. Ia menjadi pengajar gamelan di South Bank Center. Ia juga menginisiasi kelompok musik karawitan yang bernama Siswa Sukra. Semua personel merupakan siswa South Bank Center.

"Iki konco-konco ono sing seko  Kanada, Amerika, tapi sing paling okeh seko Inggris. Konco-konco iki ono sing ibu PNS, guru SD, guru SLB, ibu rumah tangga. Jumlah personele kabeh 25 mergo siji loro boyok terus ora melu (Anggotanya ada yang dari Kanada, Amerika Serikat tapi yang paling banyak dari Inggris. Anggotanya dari banyak kalangan ada guru SD, guru SLB, ibu rumah tangga. Jumlahnya ada 25, tapi karena ada satu sakit punggung, jadi tidak ikut)," tutur Parto.

Kini, Siswa Sukra bersama dengan Parto Smith menjelajah Indonesia. Bersama dengan KBRI Indonesia dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mereka menggelar acara bertajuk Gamelan Pulang Kampung dari Inggris ke Indonesia. Pertama-tama, mereka mentas di Museum Jakarta pada 6 Agustus 2017 dan lanjut ke Magelang dan Festival Kesenian Yogyakarta.

Peter 'Parto' lebih lancar berbahasa Jawa dibandingkan bahasa Indonesia saat berbincang dengan warga setempat. (Liputan6.com/Fajar Abrori)

"Lanjut ndelok wong sing gawe gamelan neng Sukoharjo. Minggu malam (20 Agustus) pentas neng Trucuk, Klaten bareng Ki Dalang Widodo. Nah, penutupe neng ISI Solo, Senin malam, 21 Agustus.(Lanjut nonton orang buat gamelan di Sukoharjo. Minggu malam pentas di Trucuk, Klaten, bareng Ki Dalang Widodo. Nah, penutupannya di ISI Solo)," kata Parto.

Kasubdit Diplomasi Budaya Luar Negeri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Mahendra menjelaskan acara Gamelan Pulang Kampung dari Inggris ke Indonesia sebagai strategi diplomasi budaya.

"Acara ini juga bagian dari Festival Gamelan di London pada 15-16 September dan Festival Gamelan Internasional 2018 di Solo," ujarnya.

Saksikan video menarik di bawah ini: