Sukses

Kisah Dokter Pribadi Sukarno Jadi Bapak Sandi Negara Indonesia

Liputan6.com, Yogyakarta - Sejarah belum banyak mengungkap sosok Roebiono Kertopati, dokter pribadi Presiden Pertama RI Sukarno. Lelaki kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 11 Maret 1914 itu ternyata merupakan Bapak Sandi Negara Indonesia.

Perannya selama masa perjuangan dan pasca-proklamasi tidak bisa dipandang sebelah mata. Informasi bawah tanah berhasil dihimpun untuk menyelamatkan kemerdekaan RI lewat profesinya sebagai dokter.

Roebiono mengawali kariernya sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda di Merauke pada 1941-1942. Setelah itu, ia menjadi dokter tentara sekutu di Papua dan Australia merangkap intelijen.

"Dia mencuri ilmu sewaktu ditugaskan sebagai dokter di Australia, sebelum 1945, mencuri ilmu intelijen lewat prajurit yang diobatinya," ujar Setyo Budi Prabowo, Koordinator Museum Sandi kepada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Keahlian intelijen yang diperoleh dokter pribadi Sukarno saat itu, termasuk menguasai kriptologi atau ilmu yang mempelajari aspek tulisan rahasia.

Menjadi intelijen untuk Indonesia ternyata sempat membuat Roebiono dicurigai sebagai mata-mata Sekutu. Peristiwa itu terjadi ketika pendaratan tentara Sekutu di Surabaya. Dia ditangkap tentara Indonesia walaupun belakangan dibebaskan.

Dokter pribadi Sukarno itu mampu menulis buku kode untuk acuan sandi negara dengan tangan kanan dan kiri sekaligus dalam satu waktu. (Liputan6.com/Switzy Sabandar)

"Berkat kemampuannya di bidang intelijen, Roebiono dimasukkan ke Kementerian Pertahanan," kata Setyo.

Roebiono menjadi Ketua Lembaga Sandi Nasional (Lemsanas) pada 1946-1984 setelah Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin memerintahkannya untuk membentuk Dinas Kode pada 4 april 1946.

Latar belakang dibentuknya Dinas Kode adalah komunikasi tentara Indonesia kala itu mudah dipecahkan dan gampang ditebak, sehingga tidak ada kerahasiaan informasi. Dinas Kode berkantor di Kotabaru, Yogyakarta.

Dokter pribadi Soekarno era 1958-1965 itu juga membuat buku kode sebagai sandi negara. Uniknya, Roebiono menulis buku kode langsung dengan kedua tangannya, kanan dan kiri.

"Demi menjaga kerahasiaan buku kode, maka yang mengetik saudaranya sendiri, dicetak enam buah dan tulisan asli dokter pribadi Soekarno itu kami simpan di Museum Sandi," ucap Setyo.

Saksikan video menarik di bawah ini:

Artikel Selanjutnya
Sekjen PDIP Ungkap Dialog Megawati dan Jokowi‎ di Idul Adha
Artikel Selanjutnya
Syafii Maarif Minta Pendidik Baca Kembali Sejarah Pendiri Bangsa