Sukses

Pagi yang Hangat di Pulau Oksigen Giliyang

Liputan6.com, Sumenep - Kabupaten Sumenep, Jawa Timur memiliki 126 pulau. Dari jumlah itu, hanya 46 pulau yang berpenghuni. Di antara pulau yang berpenghuni, ada satu pulau yang menurut penelitian LAPAN memiliki kandungan oksigen terbaik nomor dua di dunia, setelah kawasan laut mati di Jordania. Pulau oksigen itu bernama Giliyang. Kadar oksigen di sana berkisar antara 3,3 hingga 4,3 di atas normal.

Juli lalu, saya mengunjungi pulau itu. Naik perahu dari Pelabuhan Dungkek, jarak tempuh satu jam. Kata nahkoda, ombak di jalur Dungkek-Giliyang selalu besar sepanjang tahun, cukup bikin mulut penumpang komat-kamit merapal doa sepanjang perjalanan. Tapi  ongkosnya murah Rp 10 ribu perorang. Kalau carter Rp 400 ribu, pulang pergi.  

Secara administratif, Giliyang masuk wilayah Kecamatan Dungkek. Pulau seluas 1.000 kilometer itu berpenduduk kurang lebih 10.000 orang. Ada dua desa di Giliyang: Banra'as dan Bancemarah. Penduduk paling banyak tinggal di Bancemarah.

Meski seluruh Pulau Giliyang merupakan pesisir, namun 80 persen penduduknya bertani dan sisanya nelayan. Komoditi utama pertanian adalah jagung. Kegiatan cocok tanam sekali setahun, tiap musim hujan. Mayoritas lahan pertanian tadah hujan.

Di Giliyang, saya tinggal di Desa Bancamarah, warganya ramah. seorang tokoh berbaik hati menawarkan tempat bermalam. Menpora Imam Nahrawi juga pernah bermalam di pulau ini, dia dan rombongan tidur di sebuah gardu desa, tidur tanpa selimut. Imam melakukan itu untuk merasakan langsung apa perbedaan antara suhu di Pulau Oksigen dengan suhu di daratan biasa.

"Udara di sini sejuk, baik siang atau malam hari," kata Imam Nahrawi April 2017 lalu.

Dari pengalaman saya bermalam, suhu di Giliyang stabil di level hangat. Baik pagi, siang atau malam hari. Berbeda dengan daratan biasa, di mana siang hari begitu terik dan malam hari dingin menusuk tulang. Apalagi di bulan Juli yang merupakan awal musim kemarau.

Tapi tidak semua wisatawan bisa merasakan betul perbedaan suhu di Giliyang dan tempat lain. Junaidi, wisatawan lokal, merasa kondisi di Giliyang tak jauh berbeda dengan tempat tinggalnya di Desa Ganding, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.

Setelah bermalam di Giliyang, ia merasa malam hari nyamuk di Giliyang tak sebanyak di rumahnya. "Terus kalau kita hirup udara dalam-dalam, udara di sini sejuknya seperti menghirup udara dari AC namun alami," tutur dia.

Artikel Selanjutnya
Australia Bersiap Hadapi Musim Dingin 'Terganas'
Artikel Selanjutnya
Pagi Menawan di Pantai Buan Liman