Sukses

Misteri Luka di Dada yang Diduga Renggut Nyawa Mahasiswa Kupang

Liputan6.com, Kupang - Bagi pihak keluarga, penyebab kematian Jems Ridwan Kase (20), mahasiswa semester II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menjadi misteri.

Jems ditemukan tewas usai mengantar kekasihnya, pada Kamis, 6 Mei 2017, sekitar pukul 02.00 Wita, di kilometer 15 Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah. Sepeda motor yang dikemudikannya bertabrakan dengan Yamaha Vixion yang dikemudikan lelaki berinisial DOM, warga RT 021 RW 008, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah.

Ironisnya, kondisi luka korban tidak seperti umumnya korban kecelakaan sepeda motor. Kendaraan roda duanya rusak, namun korban hanya mengalami luka robek di bagian dada. Pihak keluarga menduga kematian Jems tidak wajar.

Sebelumnya, pihak kepolisian menyebut bahwa kematian Jems murni kecelakaan lalu lintas. Kasat Lantas Polres Kupang, Iptu M Fakhruddin mengatakan, Jems meninggal dunia karena terjadi benturan yang keras, sehingga mengalami ruka robek di dada. Selain itu, korban juga mengalami luka lecet di punggung dan tangan kanan.

Ia membenarkan, kecelakaan lalu lintas itu terjadi pada Kamis, 6 Mei 2017, sekitar pukul 02.00 Wita, di Jalan Timor Raya Kilometer 14-15 Desa Mata Air, Kupang Tengah. Saat itu, sepeda motor Honda Beat bernomor polisi DH 3861 HP bertabrakan dengan motor Yamaha Vixion berpelat nomor DH 6151 BM.

"Pengendara Honda Beat mengalami luka robek di bagian dada kanan, luka lecet pada punggung tangan kanan, dan meningggal dunia," kata Fakhruddin.

Sementara, pihak keluarga belum menerima kematian Jems Kase. Keluarga yakin, Jems meninggal bukan karena kecelakaan, melainkan dibunuh. Untuk mengetahui persis penyebab kematian korban, tim dokter Polda NTT menggelar autopsi terhadap jenazah Jems.

Ayah korban, Sem Kase mengungkapkan, keluarga belum menerima dengan ikhlas kematian anaknya. Menurut dia, keluarga besar mengakui adanya kecelakaan itu, namun pihaknya meyakini korban meninggal karena luka tusuk di dada kanan.

"Hanya dengan autopsi supaya penyebab kematian korban bisa diketahui," ujar Sem Kase kepada Liputan6.com, Jumat, 18 Agustus 2017.

Ia mengatakan pula, ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan di tempat kejadian perkara atau TKP. Sebab, helm mahasiswa Kupang tersebut yang tidak dipakai saat itu dalam keadaan utuh. Begitu pula dengan kondisi motor korban yang tidak begitu parah, jika dibandingkan dengan motor yang bertabrakan dengan Jems.

1 dari 2 halaman

Luka Bekas Tusukan?

Selain itu, baju yang dipakai korban juga tidak robek di bagian dada kanan atau tepatnya pada bekas luka seperti tusukan itu. Kondisi tubuh korban juga hanya lecet di bagian tangan dan pergelangan kaki.

Ayah korban, Sem Kase menambahkan, dalam kecelakaan itu korban hanya mengalami luka seperti tusukan di dada kanan. Namun, anehnya, baju yang dikenakan korban tidak robek. Luka di dada juga mengeluarkan darah segar dan berbeda dengan luka lecet.

"Kalau ada luka tusukan di dada otomatis ada baju yang robek, tapi ini tidak ada robekan. Ada apa sebenarnya dan jadi pertanyaan besar kami keluarga," katanya.

Jems menuturkan, anaknya itu baru pertama mengikuti pesta bersama teman-teman kuliahnya di Kelurahan Noelbaki, Kabupaten Kupang. Awalnya, Jems sudah pulang sekaligus mengantar temannya ceweknya, namun saat itu teman-temannya menahan helm dan handphone milik korban yang memaksa korban harus kembali ke Noelbaki.

Dalam perjalanan pulang setelah mengambil handphone atau telepon seluler (ponsel) dan helm itulah korban mengalami kecelakaan dan meninggal dunia di tempat. Ia mengatakan, banyak kejanggalan yang ditemukan. Termasuk, motif dari teman-temannya menahan ponsel dan helm Jems, sehingga korban harus kembali mengambil barangnya di Noelbaki.

"Sebenarnya anak kami tidak celaka dan mati, karena dia sudah pulang pukul 22.00 Wita ke Kupang, dengan teman nonanya," ujar ayah korban.

Nah, karena helm dan ponsel masih ditahan di tempat acara di Noelbaki, maka Jems harus kembali ambil karena besok mau dipakai kuliah. "Justru itu, sebenarnya penyidik (harus) lihai dan mereka harus merujuk kenapa handphone dan helm di tempat acara itu," katanya.

Dia menambahkan, jika penyidik Polres Kupang hanya mengusut penyebab kematian akibat kecelakaan lalu lintas, maka kasus kematian akibat luka seperti tusukan itu tidak terungkap. Penyidik, lanjut Sem Kase, harus bisa mengungkap benda apa yang menusuk korban ketika terjadi kecelakaan, karena luka sangat kecil dan cukup dalam.