Sukses

5 Perayaan HUT ke-72 RI Paling Tak Lazim di Berbagai Daerah

Liputan6.com, Jakarta Ingar-bingar perayaan HUT ke-72 RI terasa sampai pelosok daerah di Indonesia. Berbagai perayaan unik digelar untuk memperingati hari penting berdirinya Republik Indonesia. Berikut lima perayaan HUT ke-72 RI paling tidak lazim dari berbagai daerah di Indonesia.

1 dari 6 halaman

Kali Code - Yogyakarta

Ratusan warga Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta, mengikuti upacara bendera peringatan HUT ke-72 RI di Kali Code, Kamis, 17 Agustus 2017 pagi. Upacara di tengah sungai itu juga disertai dengan aksi teatrikal Pertempuran Kotabaru.

"Selain sebagai hiburan memeriahkan HUT RI, juga untuk mengenang pejuang yang telah gugur di Pertempuran Kotabaru," ujar Octa Viantary, Ketua RW 13 Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta.

Salah satu jejak pertempuran itu adalah tetenger yang berlokasi di Jalan Jagalan Purwokinanti, Pakualaman, Yogyakarta. Tetenger itu mencantumkan nama-nama korban pertempuran Kotabaru yang sama persis dengan nama yang tercantum di monumen yang berada di Kotabaru.

Upacara di tengah sungai, tepatnya di bawah Jembatan Jambu RW 13 Danurejan, baru pertama kali dilakukan oleh warga. Biasanya, warga mengikuti upacara HUT RI di Kantor Kecamatan Danurejan.

Octa menjelaskan acara bertajuk Pitulas Teles (17 basah) ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang keberadaan Sungai Code yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga sekitar. Sekaligus menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga serta memelihara sungai. Selain itu, upacara di tengah sungai ini juga merespons kebutuhan ruang publik bagi masyarakat.

"Selama ini kami tinggal bersebelahan dengan sungai, minim tempat berkumpul. Jadi, mengapa tidak memanfaatkan Sungai Code saja yang selama ini akrab dengan kami," ucapnya.

Setelah upacara bendera dan teatrikal, warga menggelar perlombaan yang juga dilakukan di tengah sungai untuk memeriahkan HUT ke-72 RI tahun ini, meliputi lomba gebuk guling, melawan arus, mengambil ikan dalam kolam, serta mengambil koin dalam pepaya.

2 dari 6 halaman

Tower - Serang

Kapolres Serang, AKBP Wibowo dan wakilnya, AKP Heri Sugeng, menaiki tower setinggi 40 meter di atas Gunung Pinang yang berada di Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, untuk mengibarkan bendera Merah Putih berukuran 4x6 meter.

"Selain mensyukuri kita diberi kemerdekaan hingga ke-72, juga menunjukkan bahwa Polri selalu siap menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

"Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi semua pihak untuk sama-sama dapat menjaga perbedaan. Karena Indonesia negara besar, besar sukunya, besar pulaunya," kata AKBP Wibowo, Kapolres Serang Kabupaten, yang ditemui sebelum memanjat tower, Rabu, 16 Agustus 2017.

Di atas Gunung Pinang dengan ketinggian 300 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, sebanyak 127 personel kepolisian pun menggelar upacara penghormatan kepada bendera Merah Putih.

Gunung Pinang masuk ke dalam kawasan hutan lindung. Tower-nya sendiri dikelola PT Telkom Indonesia dan pernah meraih penghargaan sebagai pengelola SITE/SITLOK terbaik nasional tahun 1996 dari Telkom Indonesia.

"Kita ingin mengakomodir local wisdom, Gunung Pinang ini lintasan strategis. Tower ini bisa dilihat oleh masyarakat luas," jelasnya.

Pengibaran bendera Merah Putih berlangsung sejak pukul 16.30 WIB dan selesai pada pukul 18.10 WIB. Perlu diketahui tower di Gunung Pinang bisa dilihat oleh masyarakat di Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kabupaten Serang.

3 dari 6 halaman

Hantu - Bandung

Peringatan HUT ke-72 RI dirayakan oleh berbagai kalangan di Kota Bandung. Baik oleh pejabat negara dari tingkat provinsi dan kabupaten kota, penghuni penjara, kelompok disabilitas, serta unsur kelompok masyarakat lainnya.

Bahkan berbagai jurig (hantu) di Kota Bandung pun ikut serta dalam barisan kirab kemerdekaan yang digelar di depan Kantor Gubernur Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Bandung.

Jurig ini bukan sembarang hantu yang sering bergentayangan di lokasi angker pada umumnya. Mereka adalah Kelompok Jurig Bandung yang berpartisipasi merayakan Indonesia terlepas dari penjajahan bangsa lain.

Anggota Komunitas Jurig Bandung, Dicky (30), yang mengenakan kostum pocong mengaku mengikuti perayaan hari kemerdekaan pada hari ini bersama kelompok lainnya hanya untuk mengisi kekosongan waktu saja.

"Ikut 17 Agustusan ini daripada bengong di rumah," kata Dicky saat menumpang tank milik tentara, di Jalan Dipenogoro, Bandung, Kamis, 17 Agustus 2017.

Alasan mengikuti perayaan kemerdekaan itu membuat Dicky tidak melakukan persiapan khusus. Selain seluruh kostum dan piranti riasannya sudah disediakan oleh komunitasnya, dia juga sudah terbiasa berperan sebagai pocong.

Dicky mengatakan berperan menjadi pocong merupakan profesi yang sudah ditekuninya beberapa waktu ini. Pada hari biasa, Dicky mangkal di Teras Cikapundung Bandung sebagai pocong, lengkap dengan kain putih yang dikenakannya.

"Tapi karena hari ini kain putihnya sedang dicuci di laundry, ya akhirnya jadi pocong pake kain pink," ujar Dicky.

Meski berperan sebagai pocong pink, Dicky menanggapi serius makna kemerdekaan saat ditanyakan Liputan6.com yang kembali diperingatinya pada tahun ini.

Menurut dia, kemerdekaan kini belum bermakna karena masyarakat umum, terutama ekonomi lemah, belum merdeka sepenuhnya.

Dia mencontohkan masyarakat dengan perekonomian lemah masih belum merdeka dalam hal memperoleh pendidikan, kesehatan, kebersihan, dan lain sebagainya.

"Harus dibenahi dari dua arah jaminan sosial, baik dari aturan maupun masyarakat yang menuntutnya," ujar Dicky.

4 dari 6 halaman

Banjir Rob - Semarang

Berbagai cara dilakukan warga Jawa Tengah untuk memeriahkan HUT ke-72 RI, Kamis (17/8/2017).

Di Kota Semarang, ratusan pegiat wisata mengelar upacara di kawasan mangrove obyek wisata Maerokoco. Di kawasan yang disebut juga miniaturnya Jawa Tengah, pengelola tempat wisata dan hotel menggelar upacara di atas perahu.

Berbeda dengan perayaan di lain lokasi, mereka mengkonsep upacara di tengah miniatur Laut Jawa di Kompleks Grand Maerakaca.

Tepat pukul 10.00 WIB, sejumlah perahu merapat menuju tiang bendera yang sudah disiapkan sebelumnya.

"Kami memang sengaja menghadirkan upacara yang berbeda dan unik, di mana upacaranya kami gelar di tengah laut dengan background pemandangan hutan mangrove,” ucap Koordinator Pegiat Wisata Kota Semarang Nurul Wahid.

Menurut dia, upacara ini tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Pasalnya, perahu yang digunakan tidak bisa tenang karena terus bergerak sesuai arus.

Meski demikian, tiang bendera dan podium untuk pembina upacara sudah disiapkan agar tenang tidak terbawa gelombang. Namun demikian, perahu beberapa peserta upacara terus bergerak sepanjang upacara.

"Hanya saat penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, kami usahakan perahu tenang meski harus dikunci jadi satu dengan cara para pendayung berpegang satu sama lain," tukasnya.

Di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, peringatan upacara dilaksanakan di dalam genangan air rob. Peringatan HUT ke-72 RI, lengkap dengan pengibaran sang Merah Putih dilaksanakan di tengah tambak bandeng.

Upacara yang dipimpin Edi Catur, kepala kelurahan, tetap mempertahankan agar bendera Merah Putih tidak basah kendati ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

Di Alun-Alun Purwodadi, ribuan peserta upacara disuguhkan treatikal kepahlawanan Nyi Ageng Serang. Pahlawan wanita yang diingat warga dimakamkan di tengah Waduk Kedung Ombo itu melawan pasukan VOC hanya bermodal selendang.

"Drama perjuangan ini menggali sejarah daerah agar generasi muda memahaminya, jangan hanya mengenal nama pahlawan, tetapi juga sejarahnya," kata Dandim 0717 Purwodadi, Letkol Arh Jan Pieter Gurning.

Ia berharap ada kredit poin di sekolah masing-masing bagi pelajar yang terlibat dalam drama kolosal yang mampu membangkitkan nilai patriotisme.

"Semoga adik-adik yang terlibat maupun yang melihat semakin terpupuk jiwa nasionalismenya," tambahnya.

Ide penyuguhan drama disela upacara 17 Agustus membuat peringatan HUT ke-72 RI tidak hanya bersifat seremonial.

"Ini sangat kreatif, semoga bisa terus dikembangkan,” tambahnya sambil menjelaskan ada 130 peserta, yakni 125 siswa dan lima anggota TNI terlibat dalam drama berdurasi 30 menit tersebut.

5 dari 6 halaman

Parit - Pontianak

Inilah cara berbagai komunitas di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melaksanakan upacara pengibaran bendera di parit (parit). Itu dilakukan dalam rangka HUT ke-72 RI, 17 Agustus 2017. Cuaca di bantaran Parit Nenas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, mendung.  Namun, hal itu tak menyurutkan semangat.  Ratusan warga berdatangan sejak pukul 06.00 WIB. Mulai anak kecil, dewasa, tua, kakek-kakek hingga nenek.

Tepat pukul 08.00 WIB pengibaran bendera Merah Putih berlangsung. Camat Pontianak Utara, Aulia Chandra, didapuk sebagai inspektur upacara. Lagu "Indonesia Raya" menggema. Merinding. Semua khidmat. Suara mereka terdengar keras dan bersemangat.

Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi, menuturkan upacara di dalam parit merupakan momen bersejarah untuk semua.  Sebab, pengibaran bendera Merah Putih di parit baru ada kali ini.

"Ini pertama kalinya di Kalimantan Barat. Kita ajak sanak saudara dan keluarga mengambil andil dan menjadi saksi sejarah," kata Syamhudi.

Pengibaran bendera pertama ini direspons warga dengan antusias. Pengibaran bendera di parit sebenarnya menyingkronisasi semangat kemerdekaan dengan semangat mempertahankan kondisi parit di kota yang mendapat julukan Kota Seribu Parit.

"Pengibaran Merah Putih ini diinisiasi Kreasi Sungai Putat dan diusung oleh komunitas dan masyarakat sekitar. Pengibaran berlokasi di Parit Nenas, Kelurahan Siantan Hulu," kata Syamhudi.

Pasukan pengibar bendera terdiri atas perwakilan Kreasi Sungai Putat, Ormas Oi Pontianak, dan PPI Kota Pontianak. Warga Parit Nenas, Ramzi, menuturkan, panjang Parit Nenas kalau ditarik dari Sungai Kapuas ke ujung 6 kilometer dengan luas 10 meter.

"Ikan endemiknya tapah. Warga Parit Nenas ada tradisi nanggok tapah. Disaat musim kemarau," kata Ramzi.

Camat Pontianak Utara, Aulia Candra, mendukung penuh kegiatan masyarakat. Itu terlihat ketika pas upacara di atas parit. "Wujud kecintaan masyarakat terhadap negara dan lingkungan sekitarnye bisa dijadikan dalam satu kegiatan," kata Aulia Candra.

Ke depan, dia  berharap tradisi ini bisa dilaksanakan terus menerus.  Bahkan harus lebih baik lagi. "Kita juga berharap ini menjadi ‘virus’ baik yang menyerang seluruh masyarakat Kecamtan Pontianak Utara untuk dapat mencintai parit di lingkungan sekitar mereka. Sehingga keinginan untuk memelihara dan menjaga kualitas parit menjadi prioritas masyarakat," ujar Aulia Candra.

Lurah Siantan Hulu, Tirta Arifin, menyebut,  niat awalnya adalah keinginan untuk memasyarakatkan kembali upacara pengibaran bendera yang selama ini mungkin hanya diikuti oleh masyarakat yang berprofesi sebagai PNS, TNI, Polri maupun karyawan kantor.

"Sedangkan mayoritas warga di Kelurahan Siantan Hulu berprofesi sebagai petani atau buruh yang pastinya jarang mengikuti upacara bendera apalagi upacara 17 Agustus," kata Tirta Arifin.

Diharapkan, dengan digelarnya upacara bendera di atas Parit Nenas dapat meningkatkan semangat serta kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan parit yang ada di Kelurahan Siantan Hulu.  Karena di Siantan Hulu bisa dikatakan cukup banyak memiliki parit.

"Dan Parit Nenas ini merupakan salah satu parit yang cukup lebar. Menjadi muara parit-parit lainnya baik yang dari Kabupaten Mepawah maupun Kabupaten Kubu Raya, sehingga harus dijaga keberlangsungannya," kata Tirta Arifin.

 

Artikel Selanjutnya
Maruarar: Jangan Takut Hadapi Terorisme dan Radikalisme
Artikel Selanjutnya
Jokowi Bagi-Bagi Suvenir di Karnaval Kemerdekaan, Apa Saja?