Sukses

Simbol Rekonsiliasi Mario Viegas Carrascalao

Liputan6.com, Dili - Kabar dukacita datang dari Kota Dili, Timor Leste. Mario Viegas Carrascalao, mantan Gubernur Timor Timur dan eks Wakil Perdana Menteri Timor Leste, meninggal dunia dalam usia 80 tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Kota Dili, Timor Leste, Jumat pagi tadi.

Seperti dilansir media online Portugal, tvi24.iol.pt, Jumat (19/5/2017), Mario Carrascalao mengembuskan napas terakhir sehari setelah memperoleh Grand Collar of Timor-Leste Order, penghargaan tertinggi negara.

Menurut pihak keluarga, Mario Carrascalao meninggal saat mendapat perawatan di Rumah Sakit Nasional Guidu Valadares, Kota Dili. Dugaan awal, Carrascalao yang pernah menjabat Gubernur Timor Timur (nama Timor Leste sebelum berpisah dengan Indonesia) periode 18 September 1983-18 September 1992, mendapat serangan jantung.

Mobil yang dikemudikan Carrascalao ditemukan menabrak tembok pelabuhan Kota Dili. Namun, sejauh ini, belum diketahui kecelakaan itu terjadi sebelum atau setelah dia mendapat serangan jantung.

"Baru kemarin kami semua makan malam keluarga, dia sangat baik hati," kata Angela Carrascalao.

Adapun Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Pembangunan Pedesaan Portugal Capoulas Santos Lusa yang sedang berada di Kota Dili, menganggap Mario Viegas Carrascalao sosok menonjol dalam sejarah Timor Leste. Menurut dia, karier politik Carrascalao mengungkapkan semangat rekonsiliasi masyarakat Timor Leste.

1 dari 2 halaman

Tokoh Segala Zaman di Bumi Loro Sae

Dikutip dari sejumlah sumber, Mario Viegas Carrascalao dilahirkan di Uai-Talibu, Venilale, Baucau, Timor Timur, pada 12 Mei 1937. Ayahnya, Manuel Viegas Carrascalao, adalah pedagang kopi yang berasal dari Portugal. Sedangkan sang ibu, Marcelina Guterres, penduduk asli Timor Timur.

Boleh dibilang, Carrascalao semasa kecil hobi berkelahi dan menyabung ayam. Lantaran tabiat tersebut, Manuel Viegas Carrascalao menitipkan anaknya pada seorang pembuat roti yang terkenal sangat disiplin di Dili.

Tak sia-sia, kelakuan Mario Viegas Carrascalao berubah, bahkan sekolah dasar empat tahun dirampungkannya dalam setahun. Nilai Matematikanya pun selalu sembilan.

Usai menamatkan sekolah menengah pertama pada 1956, Mario Carrascalao dikirim ke Lisabon, Portugal. Ia melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas di Liceu D Joau de Castro.

Selanjutnya, setelah tujuh tahun kuliah di Instituto Superior de Agronomia Universidade Tecnica de Lisboa,  menyandang gelar insinyur. Pada 1977, Mario Carrascalao mengambil spesialisasi kehutanan tropis.

Saat pulang kampung, Timor Timur masih dikuasai Portugal, 1970. Mario Carrascalao pun bekerja dan kemudian menjadi Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Timor Timur.

Menjelang integrasi Timor Timur dengan Indonesia, ia adalah seorang pemimpin Partai Uniao Democratica Timorense (UDT) yang memihak Indonesia.

Integrasi Timor Timur

Pada 1976 atau setelah integrasi Timor Timur, Mario Carrascalao menjadi anggota delegasi RI ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebelum diangkat sebagai gubernur (1982), ia menjabat Minister Counsellor Perwakilan Tetap RI di tempat yang sama.

Setelah integrasi, ia kemudian lebih dikenal sebagai Gubernur Timor Timur (1982-1992). Dua tahun sebelumnya, ia sempat menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Carrascalao merupakan gubernur Timor Timur ketiga, sesudah Arnaldos dos Reis Araujo dan Guilherme Concalves. Ia mengakhiri jabatan Gubernur Timor Timur pada tahun 1992. Penggantinya adalah Abilio Jose Osorio Soares.

Adapun usai menjabat gubernur, Mario Carrascalao ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Rumania (1993-1997). Ia kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (1998-1999) saat masa Presiden ke-3 RI BJ Habibie.

Menikah dengan Maria Helena Stoffel Cidrak (kelahiran Portugal, 1968), Mario Carrascalao kemudian dianugerahi sepasang anak. Yakni, Pedro Carrascalao dan Sonia Carrascalao, yang masing-masing adalah artis Indonesia pada masanya.

Sebagai gubernur, Mario berhasil menjadikan Timor Timur sebagai kawasan terbuka pada 1989, setelah selama bertahun-tahun menjadi wilayah darurat militer.

Santa Cruz hingga Referendum

Namun insiden Santa Cruz pada 12 November 1991 menjadi antiklimaks. Insiden tersebut menelan banyak korban jiwa warga sipil, data komisi pejabat setempat memperkirakan korban tewas mencapai 74 orang.

Sejak insiden Santa Cruz, Indonesia mendapat tekanan dalam masalah Timor Timur di dunia internasional, termasuk adanya embargo militer dari Amerika Serikat. Hingga akhirnya digelar jajak pendapat atau referendum di Timor Timur pada 30 Agustus 1999.

Setelah referendum yang dimenangi kelompok prokemerdekaan, Mario Carrascalao kembali ke kampung halamannya yang berubah nama menjadi Timor Leste atau Bumi Loro Sae.

Menjadikan Mario sebagai simbol rekonsiliasi, Xanana Gusmao bahkan mengangkatnya menjadi Wakil Presiden CNRT (Dewan Perlawanan Rakyat Timor Timur) periode 1999-2002.

Pada tahun 2009, Mario Carrascalao menjabat sebagai Wakil Perdana Timor Leste saat pemerintahan Xanana Gusmao. Kini, Mario yang disebut sebagai tokoh segala zaman di Timor Leste itu telah berpulang. Selamat jalan Mario Carrascalao.

Artikel Selanjutnya
Sikapi Tragedi Rohingya, Yusril Ihza Surati Dewan HAM PBB
Artikel Selanjutnya
PBNU: Indonesia Harus Optimalkan Kepercayaan dari Myanmar