Sukses

Frustasi, Pemuda Baduy Ingin Curhat ke Mendikbud

Liputan6.com, Lebak - Warga Suku Baduy Luar yang memiliki Kelompok Belajar (Pokjar) 'Baduy Membaca' ingin menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy guna mengadukan pegawai Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Lebak yang diduga mencuri program pendidikan bagi warga Baduy.

"Saya lagi frustasi soalnya dapat program dari Kemendikbud, eh malah dicuri orang-orang Dinas Kabupaten Lebak dengan modus meminta data warga belajar saya buat direkomendasi oleh dinas, ternyata program saya mereka ambil alih," kata Mulyono, warga Suku Baduy Luar, Jumat (21/4/2017).

Mul yang juga seorang pemain bola di Baduy FC itu bersama teman-teman di Suku Baduy Luar mendapatkan program dari Kemendikbud melalui Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Persoalan muncul setelah seorang pegawai Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Lebak meminta data lengkap peserta Wajib Belajar dari suku Baduy Luar ke Sarpin, seorang warga Suku Baduy Luar yang mendirikan Komunitas Pokjar Baduy Membaca.

Pegawai yang tak disebutkan namanya tersebut berdalih akan membantu proses pencairan dana dari Kemendikbud melalui Disdik Lebak. Namun menurut Mul, data tersebut digunakan untuk mengambil alih dana dari Kemendikbud yang akhirnya digunakan untuk pengajuan proposal PKBM Perangi Ilmu.

"Saya terus terang tidak senang dengan kejadian ini. Karena ini pencurian data, kami yang belajar bersama warga di Baduy, sedangkan pihak lain yang memegang uang dari program itu. Kami belajar tidak saat sedang ada program saja, karena kami setiap hari belajar bersama anak-anak di Baduy," tutur Mul.

Pria berusia 26 tahun yang juga menjadi tenaga pengajar di Pokjar Baduy Membaca itu khawatir program Baduy belajar yang telah berjalan beberapa tahun itu dijadikan alat oleh pegawai Disdik Lebak untuk mendapat kucuran dana dari Kemendikbud dan pertanggungjawabannya tak susah. Padahal, ia dan kawan-kawan menantang aturan adat Baduy saat hendak membentuk komunitas.

"Adat istiadat Baduy sebenarnya melarang anak-anak di Baduy bersekolah formal. Tetapi ini kan bukan sekolah formal, tapi ini kan alternatif demi kemajuan generasi anak-anak di Baduy. Saya dan kawan-kawan memberanikan diri membentuk komunitas ini," celoteh Mul.

Tanggapan Disdik Lebak Soal Curhat Suku Baduy

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak mengaku tidak mengetahui bantuan pendidikan dan keaksaraan dari Kemendikbud untuk Suku Baduy melalui program Komunitas Adat Terpencil (KAT).

"Itu kan haram hukumnya bagi suku Baduy bersekolah. Mungkin itu progam Indonesia Pintar, itu mah pusat langsung. Seingat saya enggak ada program wajar di Baduy dari pusat. Karena sekolah bagi orang Baduy tidak diperbolehkan menurut adat," kata Wawan Hermawan, Kepala Dindukbud Lebak, saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya, Jumat (22/4/2017).

Meski begitu, ia mengakui telah mengajak orang Baduy Luar untuk bersekolah secara sembunyi-sembunyi untuk tingkat SD dan SMP. "Alhamdulillah sudah mulai ada yang sekolah di PKBM 2 untuk paket kesetaraan dan beberapa siswa sekolah formal SD, SMP, meski secara sembunyi-sembunyi," kata Wawan.

Pihaknya juga membantah dugaan pencurian data Suku Baduy yang mengikuti Kelompok Mengajar (Pokjar) Baduy Membaca. "Saya juga jengkel kalau ada orang Baduy dibegitukan, ada juga program keaksaraan. Kalau memang ada penggelapan kan memang harus di proses juga kan," kata Wawan.

 

Artikel Selanjutnya
35 Tahun Berpisah, Paidi Akhirnya Bertemu Lagi dengan Ibunya
Artikel Selanjutnya
Galang Siapkan Kejutan, Kirana Buka Rahasia Hubungan dengan Surya