Sukses

Alasan Sopir Razia Berdarah Ngebut Saat Dihentikan Polisi Terkuak

Liputan6.com, Palembang - Enam penumpang mobil Honda City hitam bernopol BG 1488 ON menjadi korban insiden razia berdarah yang digelar tim gabungan dari Polres dan Polsek Lubuk Linggau. Hal itu terjadi setelah sang sopir memilih tancap gas saat diminta polisi berhenti.

Menurut Wawan, suami salah satu korban selamat razia berdarah Novianti (30), sopir mobil bernama Diki itu memang berusaha kabur dari kejaran polisi karena merasa takut tertangkap razia yang digelar di Jalan Patmawati, Lingkar Timur, Lubuk Linggau.

Mengutip istrinya, kata Wawan, Diki mengaku kepada korban lainnya jika ia tidak mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM). Ditambah mobil yang dibawanya tersebut mati pajak.

Novianti sempat meminta Diki menghentikan kendaraannya saat dikejar polisi. Novianti takut ditembak setelah mendengar suara tembakan peringatan sebanyak tiga kali di belakang mobilnya.

"Istri saya takut ditembak, tapi Diki bilang tidak mungkin ditembak. Makanya dia terus ngebut," ucap Wawan.

Diki bukanlah bagian keluarga besar Novianti ataupun Wawan. Karena kedekatan yang sudah terjalin lama, mereka menganggap Diki sebagai bagian keluarga.

Meski dia mengakui kelalaian Diki, Wawan berharap polisi yang menembak keluarganya hingga mengakibatkan ibu mertuanya meninggal dan anggota keluarga lainnya terluka tersebut dihukum dan tidak dibebaskan.

Wawan menyesalkan tindakan anggota Polres Lubuk Linggau yang menghujani keluarganya dengan tembakan berkali-kali dalam operasi razia itu.

"Anak saya sudah cacat, istri saya mengalami trauma hebat. Saya mau polisi yang menembak keluarga saya harus bertanggung jawab," ucap Wawan.

1 dari 2 halaman

Bakal Dirujuk ke Palembang

Empat dari enam korban penembakan razia berdarah, yakni Novianti (30), Dewi Marlina (40), Diki (30), dan Genta (2) masih dirawat di RS Dr Sobirin Lubuklinggau. Kemungkinan keempat korban juga akan dirujuk ke RSMH Palembang untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Direktur Umum (Dirut) RS Dr Sobirin Lubuklinggau Harun mengungkapkan kondisi para korban sudah membaik, tapi harus ada penanganan medis yang lebih lengkap. Pasalnya, di RS Dr Sobirin Lubuk Linggau tidak mempunyai alat bedah yang lengkap.

Novianti dan Dewi Marlina harus dioperasi untuk pemasangan pen di tubuhnya yang terkena tembakan. Sementara, kondisi Diki yang sudah melewati masa operasi pengangkatan peluru di perutnya dan sudah berangsur membaik.

"Kita akan rujuk para pasien untuk dirawat di RSMH Palembang. Di sana alatnya juga lengkap. Untuk pasien Diki, juga akan dirujuk ke Palembang jika kondisinya menurun pasca-operasi," katanya.

Sementara itu, Kapolres Lubuklinggau AKBP Hajat Mabrur Bujangga mengatakan pihaknya akan terus membantu pembiayaan pengobatan seluruh korban penembakan tersebut.

Ia juga sudah bertandang ke rumah duka korban Surini di Curup Bengkulu dan membesuk para korban lainnya yang dirawat di RS Lubuklinggau. Pihaknya berjanji akan terus mengusut tuntas kasus ini, meskipun harus menyeret anak buahnya, yaitu Brigadir K, yang menembak para korban saat insiden tersebut.

Dalam kasus penembakan itu, Kapolres Lubuklinggau mengakui jika ada kelalaian yang dilakukan anggotanya, sehingga menimbulkan korban tembak dan meninggal dunia. "Untuk itu (penggunaan senjata api) inisiatif sendiri dari Brigadir K dan memang bukan (digunakan) untuk razia," katanya.

Pihaknya berjanji akan menindak tegas anggotanya jika memang terbukti bersalah. Brigadir K terancam Pemberhentian dengan Tidak Hormat (PDTH) dan tindak pidana akibat razia berdarah itu.

Artikel Selanjutnya
Pria Bertubuh Besar Tiba-Tiba Mengamuk dan Rampas Senjata Polisi
Artikel Selanjutnya
Kesal Motor Digadai, Pria di Semarang Bunuh Kekasihnya