Sukses

Penjemputan Mbah Fanani Petapa Dieng Dirancang Sejak 2 Tahun Lalu

Liputan6.com, Cirebon - Rencana  penjemputan Mbah Fanani, petapa yang mendiami Dieng selama 20 tahun dan dikabarkan hilang misterius itu ternyata sudah dirancang sejak Januari 2015.

Toha, salah satu peenjemput pulang Mbah Fanani ke Indramayu, mengaku sengaja mengulur waktu sehingga penjemputan baru terlaksana pada Kamis, 13 April 2017. Toha adalah anak Abah Rojab, orang yang melakukan kontak batin sekaligus penerima pesan Mbah Fanani tentang keinginannya pulang.

Toha menuturkan setelah ayahnya memintanya menjemput petapa itu, ia aktif berkomunikasi dan meminta petunjuk kepada kiai dan aulia yang berada di Wonosobo Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

"Saya telepon Kang Wildan, ponakannya Mbah Fanani, adiknya Kang Ohan. Saya minta dibantu semoga siap menjalankan apa yang diperintahkan beliau. Kang Wildan menjawan apapun permintaan uwak (Mbah Fanani), Kang Toha harus ikhlas, ridho, kemana pun uwak minta," kata Toha kepada Liputan6.com, Selasa, 18 April 2017.

Toha juga mengatakan menitipkan pesan kepada keponakan Mbah Fanani agar para kerabat petapa itu yang berada di Cirebon, Benda Ktrep hingga Plered diberitahu tentang rencana kepulangan Mbah Fanani.

"Pesan Kang Wildan yang penting tidak gegabah. Akhirnya, saya yakin dan membawa pulang Mbah Fanani dengan selamat di Padepokan Dampu Awang," tutur Toha.

Toha menyayangkan menyebarnya isu penculikan menyertai kepulangan Mbah Fanani ke Indramayu. Padahal, ia sempat mendatangi rumah Ono, warga Dieng yang suka memberi makan Mbah Fanani, untuk menjemput orang itu pulang sekaligus berpamitan.

"Tapi, pas saya ketuk pintu tidak ada respons jadi saya langsung bawa Mbah Fanani. Beberapa waktu kemudian, Pak Ono keluar dan memohon maaf kepada kami sebelum pergi ya merasa kehilangan karena sudah 20 tahun di Dieng," ucap Toha.

Mbah Fanani merupakan warga Cirebon yang bertapa di pinggir jalan Dieng Wonosobo, Jawa Tengah itu banyak dikenal masyarakat Dieng Wonosobo dan menjadi salah satu tokoh penting dalam setiap ritual adat di Dieng. Selain Toha, ia turut dijemput oleh anggota DPRD Kabupaten Indramayu Azun Mauzun pada Kamis malam, 13 April 2017.

"Tidak ada kendala saat melakukan penjemputan dan Mbah Fanani pun mau kami jemput," kata Azun, awal pekan ini.

1 dari 2 halaman

Akan Ada Bencana Besar?

Penjemputan itu berdasarkan kontak batin yang dilakukan Mbah Fanani kepada Abah Rojab. Kedekatan petapa Cirebon itu dan Abah Rojab sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.

Meski begitu, keluarga Abah Rojab tidak mengetahui seberapa dekat hubungan mereka berdua hingga akhirnya Abad meminta sang anak, Toha, menjemput Mbah Fanani pulang dan dibawa ke Indramayu.

"Yang paham dan sering komunikasi ya hanya beliau berdua. Kalau dengan saya, biasanya hanya pakai bahasa isyarat dan itu pun tidak semua orang mengerti. Kadang kedip mata atau colek-colek kaki saya pertanda permintaan Mbah Fanani," tutur Toha.

Alasan kepulangan Mbah Fanani itu, mengutip penjelasan Abah Rojab, adalah untuk menjaga Indramayu dari ancaman bencana besar.

"Bocorannya karena Indramayu salah satu kawasan badan pertahanan pangan nasional dengan luas lahan sawah yang banyak, namun setelah diresmikannya Waduk Jatigede, Indramayu terancam akan terjadi bencana nasional," kata Toha.  

Selain itu, ancaman bencana juga diprediksi datang dari kondisi Sungai Cimanuk yang rusak. Saat ini, sambung Toha, sungai itu banyak disekat dan rawan meluap.

"Mungkin salah satu penyebabnya juga dari kiriman air waduk Jatigede dan sungai tidak menampung. Itu sih bocoran dari bahasanya mbah saya Abah Rojab," ujar dia.

Artikel Selanjutnya
Top 3 Berita Hari Ini: Lafaz Allah Hiasi Penjemputan Mbah Fanani
Artikel Selanjutnya
Ada Lafaz Allah di Langit Saat Penjemputan Mbah Fanani