Sukses

Ponpes Buntet, Peristiwa 10 November, dan Rencong Cut Nyak Dien

Liputan6.com, Cirebon - Pondok pesantren (Ponpes) Buntet yang berada di wilayah timur Cirebon didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada 1750. Pendirian pesantren itu sebagai bentuk kekecewaan sang pendiri yang sebelumnya menjabat sebagai penghulu di Keraton Kanoman Cirebon.

Salah seorang keluarga Ponpes Buntet Cirebon Ahmad Rovahan menerangkan, kekecewaan itu dilatarbelakangi keberpihakan keraton pada kolonial Belanda. Oleh Mbah Muqoyyim, sambung dia, pesantren itu tidak hanya menjadi salah satu pusat pendidikan agama Islam, tetapi juga basis perlawanan kepada penjajah.

Posisinya yang sangat anti terhadap penjajah membuat gerak-geriknya selalu dibatasi dan diawasi. Perjuangan yang dilakukan Mbah Muqoyyim juga diikuti oleh anak cucunya dalam meneruskan estafet perjuangan memerdekakan Indonesia, yakni KH. Abbas Buntet dan KH. Amin Sepuh Babakan Ciwaringin.

Mereka berjuang bersama melawan penjajah dengan bergabung bersama para kiai lainnya di Jawa Timur dalam peristiwa 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sosok kiai pada masa perang kemerdekaan, lanjut dia, merupakan salah satu kiblat komando bagi masyarakat pribumi untuk melawan penjajah.

Kondisi tersebut menjadikan para kiai pendiri dan penerus ponpes di Cirebon, banyak terlibat dalam beberapa peristiwa peperangan, baik berada di Cirebon maupun luar Cirebon.

"Seperti KH. Abbas dari Buntet dan juga KH.Hasyim Asy’ari dari Jombang, merupakan contoh dari sekian banyak Kiai yang memiliki peranan penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Perannya sangat ditakuti oleh para penjajah, karena mampu menggerakkan gelora masyarakat dan santri dalam berjuang," ujar Ahmad.

Dalam sejarah juga tercatat pesantren berperan sebagai benteng terakhir bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lahirnya Indonesia tidak lepas dari peranan ulama dan santri. Pesantren berhasil menjaga Indonesia dari pemberontakan komunis dan separatis pengacau.

"Kondisi inilah yang membuat penjajah Belanda saat itu khawatir akan peran ulama dan pondok pesantren yang tersebar di Indonesia. Perlawanan yang sebelumnya banyak dilakukan oleh elit kerajaan, saat itu sudah diambil alih perannya oleh para santri, ulama dan masyarakat lokal yang berpusat di sejumlah pondok pesantren," ujar Ahmad.

Menurut KH. Amiruddin Abdul Karim, Mbah Muqoyyim juga pernah diundang secara khusus oleh Cut Nyak Dien dalam pertempuran di Aceh. Sebagai ucapan terima kasih, Cut Nyak Dien memberikan sebuah rencong sebagai kenang-kenangan.

Ketika berada di Aceh, Mbah Muqoyyim dan Cut Nyak Dien sempat mendirikan sebuah tajug (musala). Konon, tajug kecil yang tetap kokoh berdiri diterjang tsunami pada 2004 lalu itu adalah tajug yang dibangun oleh Mbah Muqoyyim.

Perjuangan Mbah Muqoyyim untuk mendirikan Ponpes Buntet tidaklah mudah. Kekuatan ulama yang cukup besar saat itu bisa menjadi senjata utama menggerakkan santri dan masyarakat dalam melawan penjajah. Kondisi itu membuat Ponpes, termasuk Buntet, menjadi incaran penjajah untuk dihancurkan.

"Pendidikan pesantren menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang umat Islam di Indonesia. Pada masa-masa sulit, jauh sebelum kemerdekaan dan pada saat revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, cukup banyak pesantren berdiri sebagai bentuk perlawanan terhadap para penjajah dan syiar Islam di Indonesia," kata Ahmaddia.

Artikel Selanjutnya
Ulama Perempuan dan Perwakilan 16 Negara Kumpul di Cirebon
Artikel Selanjutnya
Kisah KH Hasyim Muzadi, Anak Tukang Roti yang Go Internasional