Sukses

Pengunjung Teras Cihampelas Membeludak, Dompet PKL Malah Cekak

Liputan6.com, Bandung – Diresmikan sejak pertengahan Februari 2017, pengunjung ke Teras Cihampelas membeludak. Namun, kehadiran mereka belum berdampak signifikan pada penghasilan pedagang kaki lima (PKL) yang direlokasi ke jembatan layang dekat jejeran toko jins itu.

Sebagian PKL mengeluh pendapatan mereka justru menurun. Dessy (23), misalnya. Wajahnya murung karena seharian menunggu, pengunjung tak banyak mampir membeli baju anak dan dewasa dagangannya.

Di kios bercat cokelat itu, perempuan berbaju hitam dan celana jins itu menjual barang dagangannya seharga Rp 25 ribu. Sejak direlokasi ke Teras Cihampelas, pendapatan Dessy justru menurun. Jangankan hari kerja, pada akhir pekan pun omzet berjualan pakaian tidak sesignifikan dulu.

"Dapat Rp 500 ribu sehari juga sudah susah sekarang. Kebanyakan orang hanya selfie (swafoto)," ucap Dessy ditemui Senin, 11 April 2017.

Dessy mengatakan, sebelum direlokasi, omzetnya bisa mencapai Rp 1 juta. Meski begitu, kata dia, pengelola tidak membebankan uang sewa. "Paling bayar uang kebersihan, listrik, dan keamanan Rp 5.000 per hari. Kiosnya gratis," kata Dessy yang melanjutkan usaha mertuanya tersebut.

Ilan (28), pedagang sendal di Teras Cihampelas juga merasakan hal serupa. Menurut wanita berkerudung kuning itu, pendapatannya menurun drastis.

"Kalau sekarang sehari bersihnya paling Rp 100 ribu-200 ribu. Dapat Rp 500 ribu itu susahnya minta ampun, kebanyakan nawar," tutur ibu dua anak ini.

Ilan mengaku sudah 10 tahun berjualan di Jalan Cihampelas. Biasanya, dia berjualan sejak pukul 11.00 siang dan tutup pukul 22.00 malam. Setelah pemerintah merelokasi, ia hanya bisa mematuhi aturan.

"Waktu ini dibangun, kan kita tidak punya tempat berjualan. Akhirnya pinjam uang ke sana sini buat makan," kata dia.

Warga yang tinggal di kawasan Cihampelas itu mengaku pasrah dengan kondisi saat ini. Dia berharap, teras yang semakin ramai membuat para wisatawan tertarik membeli barang dagangannya.

"Ya kita mah pasrah aja, gimana orang yang datang," ucap dia.

Keluhan juga disampaikan Rudin (42), seorang pedagang bakso. Pria asal Garut itu sehari-harinya menjual bakso dengan harga Rp 15 ribu. Rata-rata baksonya habis 50 mangkok per hari.

"Modal jualan Rp 600 ribu, ya kalau ramai bisa Rp 700 ribu-800 ribu," kata Rudin.

Meski tidak membayar sewa kios, setiap hari Rudin mengaku membayar retribusi sebesar Rp 20 ribu. "Untuk bayar kebersihan, keamanan dan listrik," ujar dia.

Pertanyaan menurunnya pendapatan para pedagang bisa diwakili oleh pernyataan Yulia. Salah seorang pengunjung Teras Cihampelas itu menyebut dagangan PKL, termasuk kios makanan, masih terbilang kurang ramah di kantong.

"Biasanya jajanan Bandung kan murah-murah, di sini kayaknya masih agak mahal," ucap dia.

[vidio:]()

1 dari 2 halaman

Ide Ridwan Kamil

Pembangunan Teras Cihampelas berawal dari ide Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk menata Jalan Cihampelas yang sering macet, terutama saat akhir pekan. Selain menjadi jalur pedestrian, skywalk itu juga menjadi ajang berbelanja.

Dalam pantauan Liputan6.com, kios-kios di teras itu sudah sebagian besar terisi. Para pedagang menjajakan baju, jins, sendal hingga makanan. Terdapat 192 kios bercat aneka warna, merah, cokelat, hijau dan biru.

Masing-masing kios berukuran 1,5 meter x 1,2 meter. Kios-kios tersebut dihuni oleh pedagang yang dulunya berjualan di sepanjang Jalan Cihampelas.

Ratusan kios tersebut dibagi ke dalam beberapa blok. Sebanyak 52 kios di antaranya khusus untuk pedagang kuliner. Sedangkan sisanya menawarkan aneka suvenir, pakaian sendal dan sepatu.

Ridwan Kamil mengatakan, skywalk ini merupakan sarana publik yang diperuntukan untuk pejalan kaki. Namun, pihaknya juga turut memfungsikan sarana tersebut sebagai ruang publik dan ruang komersial sehingga PKL yang awalnya berjualan di trotoar dan bahu jalan dipindahkan ke atas.

"Suatu hari pejalan kaki di Kota Bandung bisa berjalan di atas, dikombinasi secara komersial. Dapat suasana yang nyaman bagi para pejalan kaki dan dapat suasana yang menguntungkan bagi PKL yang berjualan," ucap Ridwan belum lama ini.

Pria yang akrab disapa Emil itu beralasan memilih Jalan Cihampelas karena kawasan sendiri sudah menjadi salah satu ikon Kota Bandung. Dengan begitu, hanya memerlukan sedikit publikasi untuk menyebarkannya kepada para turis.

Emil berharap ke depannya bisa membuat kontruksi seperti ini di tempat lainnya di kota Bandung. "Saya ingin kota ini tertata tetapi ekonomi PKL tidak terganggu. Kunci pelayanan publik adalah kepercayaan, makanya saya turun langsung untuk berkomunikasi langsung dengan para PKL yang terkenal imbas dari pembangunan ini," kata dia.

Artikel Selanjutnya
Bingung Libur Lebaran di Bandung? Wisata ke Sini Saja
Artikel Selanjutnya
Semarang Kian Genit Sambut Pemudik dengan Terowongan Pelangi