Sukses

2 Barak TNI yang Ringankan Beban Korban Longsor Ponorogo

Liputan6.com, Ponorogo - TNI saat ini membangun dua barak sebagai tempat penampungan warga yang menjadi korban longsor di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dua titik pembangunan barak untuk meringankan beban pemgungsi korban longsor itu, yakni titik atas dan titik bawah.

Pada titik atas ada 10 KK dan di titik bawah ada sembilan KK. Meski dua barak itu masih semi permanen, terdapat fasilitas dapur dan kamar mandi yang layak digunakan warga.

Kepala Staf Kodim Ponorogo, Mayor TNI Artileri Medan, Timbul Moejehartoyo saat ditemui di lokasi mengatakan, pihaknya akan membantu pembangunan barak penampungan sementara itu hingga selesai.

"Tenaga yang membantu pembangunan ada dari Yonif 501 sebanyak 1 pleton, Kodim dua pleton, relawan juga ada, masyarakat dan tukang ikut membantu. Bahkan, warga keluarga korban juga ada yang membantu proses pembangunan seperti Mas Dian yang kakaknya jadi korban," ujar Timbul kepada Liputan6.com, Senin, 10 April 2017.

Pembangunan barak itu, menurut Timbul, sebagai salah satu tempat penampungan sementara bagi korban longsor Ponorogo sembari menunggu selesai dibangunnya rumah permanen mereka. Warga diminta bersabar selama enam bulan tinggal di sini.

"Proses pembangunan rumah biasanya butuh waktu tiga bulan saja, tapi mengestimasi keterlambatan kami jadikan enam bulan," kata dia.

Adapun tanah yang dijadikan tempat barak merupakan hasil sewa antara BPBD dengan pemilik tanah dengan nominal sewa Rp 14 juta untuk enam bulan di dua titik barak ini. Meski jumlah pengungsi ada 28 KK, pembangunan barak yang mampu menampung 19 KK ini dirasa cukup untuk menampung korban longsor Ponorogo.

"Pasalnya, keluarga korban ada yang tinggal anaknya saja, akhirnya anak tersebut ikut sanak saudaranya, dan juga beberapa keluarga lebih memilih tinggal bersama dengan saudaranya, jadi kami rasa sudah cukup, namun jika ingin pindah ke barak kami juga siap menampung," ucap Timbul.

Ia berharap, pemberian material bahan bangunan juga tidak tersendat agar proses pembangunan bisa cepat diselesaikan. Mereka menargetkan pembangunan barak bisa selesai dalam dua hari.

"Namun karena kemarin pengiriman material tersendat akhirnya molor jadi tiga hari, yang jelas kami ingin secepatnya jadi," ujar Timbul.