Sukses

Rahasia Sensasi Mint Permen Davos yang Tak Lekang Oleh Waktu

Liputan6.com, Purbalingga - Gadis berjilbab biru itu memarkir sepeda motornya di depan sebuah toko. Satu lembar uang ribuan dikeluarkan dari kantongnya. Dari si pemilik toko, ia mendapatkan dua bungkus permen.

"Rasanya semriwing, tidak terlalu pedas dan pas dilidah," ujar Tenry Citra Dewi, 20 tahun, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Sabtu, 8 April 2017.

Dewi, begitu ia biasa disapa, menyukai permen Davos ukuran kecil yang lebih soft rasa mintnya. Sementara, permen Davos yang lebih besar dengan bungkus biru, rasanya lebih keras dan lebih disukai kalangan orang tua.

Seperti halnya, Susana Murniati, 68 tahun, warga Kober Purwokerto Barat mengaku lebih suka permen Davos ukuran besar. “Lebih terasa di tenggorokan dan bisa mengurangi batuk,” kata dia.

Permen dengan bungkus biru tua itu memang selalu dibawa Susana jika sedang bepergian. Meskipun rasanya cukup pedas, Susana mengaku menyukainya.

"Sudah puluhan tahun, saya makan permen Davos," imbuhnya.

Permen Davos berwarna biru memang banyak digemari orang tua. "Itu memang konsumen loyal kami," terang Nicodemus Hardi, Managing Director Operasional, PT. Slamet Langgeng, produsen permen Davos, saat ditemui Liputan6.com di ruang kerjanya.

1 dari 4 halaman

Permen Mint Pertama?

Konon, permen Davos merupakan permen mint pertama di Indonesia. Davos pertama kali dibuat tahun 1931.

Sejarah panjang ikut menyertai pasang surut permen ini. Nico, panggilan Nicodemus mengatakan, pendiri PT Slamet Langgeng adalah kakek buyutnya yang bernama Siem Kie Djian.

Pabrik permen sejak didirikan tanggal 28 Desember 1931 hingga sekarang masih ditempat yang sama, yakni di Jalan Ahmad Yani 67 Kelurahan Kandang Gampang, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Bangunan pabrik juga tidak banyak berubah. Temboknya tebal, sangat kokoh. "Dari pertama dibangun, ya sudah seperti ini," kata Nico.

Permen Davos merupakan produk pertama dan utama PT. Langgeng. Awalnya, selain Davos, Siem Kie Djian juga membuat permen mint dengan merek Kresna. Saat itu perusahaan tersebut masih cukup kecil. Produksinya pun belum banyak seperti sekarang ini.

Sukses membuat permen, dulu namanya kembang gula Davos, Siem mencoba membuat produk lain. Waktu itu ia membuat minuman limun. Limun milik Siem juga banyak diminati masyarakat Purbalingga dan sekitarnya.

Sepeninggal Siem tahun 1961, perusahaan dipegang oleh Siem Tjong An, anak dari Siem Kie Djian. Enam tahun berikutnya, yakni tahun 1967 perusahaan beralih pimpinan lagi ke Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata, masing-masing menantu dan anak Siem Kie Djian.

Dan kini, sejak tahun 1985 PT. Langgeng Slamet dipimpin oleh Budi Handojo Hardi atau generasi ketiga dari pendiri PT. Langgeng. Tak hanya pimpinan, sebagian besar karyawan yang bekerja juga merupakan keturunan karyawan PT. Langgeng sejak pertama berdiri.

Davos masa lalu pernah berjaya pada tahun 1933-1937. Saat ini penjualan permen ini hingga mencapai seluruh Jawa Tengah dan Jogjakarta. “Impor ada, tapi perorangan yang melakukannya,” kata Nico.

Pada awal pemasaran, Davos bahkan hanya mengandalkan gerobak sapi. Berbeda dengan sekarang yang menggunakan mobil boks.

Kinerja perusahaannya mulai turun drastis sejak kedatangan imperialis jepang tahun 1942. Penjualanannya terjun bebas. “Davos bangkit lagi tahun 1945 setelah Indonesia merdeka,” lanjut Nico.

Tahun 1959, perusahaan perorangan ini berubah menjadi persekutuan komanditer atau CV. Dan dua tahun berikutnya berubah lagi menjadi PT. Purbasari & Co.

Pada tahun 1961 perusahaan berganti nama menjadi PT. Slamet Langgeng & Co yang memproduksi permen mint merk Davos, Kresna, Alpina, dan Davos Lux. Selain itu juga membuat limun bermerek Slamet dan biscuit bermerk slamet. Produksi biscuit dihentikan tahun 1973 karena kesulitan bahan baku.

2 dari 4 halaman

Makna Perubahan Nama Perusahaan

Hingga tahun 2005, PT. Slamet memproduksi Davos rol dengan bungkus biru dan Davos Lux dalam bungkus kotak warna hijau. Davos biru lebih pedas dan semriwing, sehingga cocok untuk orang dewasa. Sedangkan Davos lux yang tidak terlalu pedas lebih disukai oleh remaja dan anak-anak.

Nama PT. Slamet Langgeng mempunyai makna tersendiri. Slamet diambilkan dari nama gunung terbesar di Jawa, yang juga terletak di Purbalingga, yakni Gunung Slamet. Sedangkan Langgeng adalah harapan agar perusahaan itu tetap abadi. Sedangkan Davos diambil dari nama sebuiah kota di Swiss yang berhawa sejuk, sehingga dipilih sebagai nama permen rasa dingin (menthol).

Sejak dibuat, Davos belum pernah mengalami perubahan bentuk maupun kemasan. Satu roll Davos berisi 10 butir. Satu butirnya berdiameter 22 milimeter. “Pernah kami merubah ukuran menjadi lebih kecil, konsumen langsung protes,” kata Nico.

Adiknya Davos, Davos Lux dikemas sedikit berbeda. Dibuat pertama kali pada 1981, Davos Lux berdiameter 10 milimeter. Dikemas dalam kotak warna hijau isi 10 butir. Davos lux lebih cocok untuk kalangan muda karena pedasnya sedang.

Sebagai pemain lama, pabrik Davos sebenarnya mempunyai mesin pencetak modern. Mulai dari mencetak permen hingga pengemasan, mesinnya ada semua. "Tapi kami memilih menggunakan mesin lama yang padat karya," kata Nico.

Saat ini PT. langgeng mempunyai 200 karyawan termasuk tim pemasaran. Pada awal 1980-an, karyawannya bahkan mencapai 400-500 orang. Waktu itu memang belum banyak kompetitor produk ini.

Saat ini ada 20 mesin pencetak permen yang dimiliki. Seharinya kapasitas produksi mencapai 5 ton.

Bahan yang digunakan, 98 persen gula dan sisanya mentol dan zat pengikat. "Racikan permennya, itu rahasia keluarga turun temurun yang hanya diketahui oleh keluarga," imbuh Nico.

Untuk menyiasati pasar yang terus berkembang, mereka juga membuat permen mint dengan kemasan sachet. Satu sachet satu butir.

Perusahaan tersebut, kata Nico, sejak awal berkomitmen untuk menampung masyarakat agar mendapat pekerjaan. "Kami bisa pakai mesin semua, tapi bagaimana nasib karyawan yang sudah turun temurun ini," katanya.

Di ruang pabrik, karyawan juga nampak akrab. Pabrik dibagi menjadi beberapa ruang. Ruang pertama untuk meracik bumbu dan komposisi permen. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ruang ini.

Ruang selanjutnya yakni pencetakan permen. Di ruang ini bau menthol terasa sangat menyengat. Semua karyawannya bahkan harus menggunakan masker. Memang rasanya seperti di pegunungan swiss, dingin menusuk hidung.

Di sebelah ruang pencetakan, ada ruang pengemasan. Di ruang ini puluhan orang duduk sambil memasukan permen ke dalam wadahnya.

3 dari 4 halaman

Rahasia Bertahannya Permen Davos

Ruang tempat pekerja mengemas permen terasa segar. Semerbak bau mint menyebar hingga sudut ruangan. Imajinasipun  terbang, serasa di pegunungan Swiss. Namun, dibalik dinginnya ruangan, ada sejumput kehangatan di antara ratusan karyawannya.

"Kami bekerja seperti saudara sendiri, kakek nenek saya juga dulu bekerja di sini," kata Wiwi Rohadi, Kepala Bagian Produksi pabrik permen Davos. Wiwi dengan ramah mengantar Liputan6.com  melihat-lihat seluruh bagian pabrik tempat Davos diproduksi.

Wiwi mengaku sudah bekerja di pabrik itu selama 30 tahun. Seperti halnya dirinya, hampir seluruh karyawan di perusahaan itu merupakan karyawan turun temurun.

Menurutnya, sikap kekeluargaan itulah yang membuat perusahaan itu bertahan hingga 80 tahun. "Kami sebenarnya bisa menggunakan mesin modern yang lebih efisien, tapi kami tidak melakukannya," kata Nico.

Menurut Nico, tidak menggunakan mesin modern memberikan berkah tersendiri sehingga perusahaannya tetap bertahan hingga saat ini. Selain itu, perusahaan bisa bertahan lama juga karena jaringan distribusi yang sudah terbentuk sejak lama.

Nico menambahkan, ia menerapkan pelayanan kepada pelanggan dengan sepenuh hati. Kadang, kata dia, pelanggan yang barangnya rusak bisa diganti oleh perusahaannya meskipun itu bukan kesalahan perusahaan.

Sebenarnya, kata dia, pihaknya bisa mengurangi rasa mint dalam permen itu. Namun, mengurangi kualitas produk dinilai hanya akan mengurangi konsumen. “Kami tetap mempertahankan rasa, bentuk dan kualitas permen mulai saat pertama dibuat hingga saat ini,” katanya.

Meski tanpa iklan, karena tipisnya keuntungan, mereka yakin bisa bertahan hingga ratusan tahun. Nico yakin, meski saat ini sudah dipegang oleh generasi keempat, perusahaannya akan terus hidup. “Prinsipnya, menjalankan perusahaan dengan prinsip kemanusiaan. Selanjutnya, terserah Tuhan saja,” ujarnya.

Artikel Selanjutnya
Nikmati Sensasi Makan Es Krim Rasa Pizza
Artikel Selanjutnya
Tak Hanya Enak, Ini Kegunaan Selai Kacang yang Perlu Anda Ketahui