Sukses

Warga Sulbar Makin Rajin Ronda Usai Kuliti 4 Ular Piton Raksasa

Liputan6.com, Mamuju Tengah - Hingga saat ini, warga di sekitar kebun kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) terus mengantisipasi serangan balasan ular piton.

Salah satu yang dilakukan warga setempat, selain mengendus persembunyian ular piton, adalah memperketat ronda hingga malam hari.

"Sampai sekarang, masyarakat lakukan ronda, baik di sekitar pemukiman hingga kandang ternak mereka," kata Danni (38), warga Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar kepada Liputan6.com, Jumat (7/4/2017).

Pemberlakuan ronda tersebut, kata Danny, sebagai upaya satu-satunya mengantisipasi kawanan ular piton yang kemungkinan kembali masuk ke pemukiman warga karena mencari makanan.

"Masyarakat sampai sekarang masih dihantui trauma pasca kejadian yang dialami petani kelapa sawit, Akbar (28) yang tewas tertelan hidup-hidup oleh ular piton berukuran 7 meter," kata Danni.

Dua hari setelah kejadian nahas tersebut, warga membalas terkaman itu dengan menangkapi kawanan ular piton di daerah tersebut. Tiga ekor ular piton raksasa jadi bulan-bulanan warga pada Senin, 3 April 2017.

Ketiga ekor ular yang ditangkap tersebut diyakini warga sebagai kawanan ular piton yang telah menelan hidup-hidup petani kelapa sawit hingga tewas.

Ketiga ekor piton sepanjang sekitar 7 meter itu ditangkap warga di lokasi yang berbeda, yakni di dekat kantor pajak Mamuju, dalam kanal Kompleks Pemda Mamuju serta di dekat Bandara Mamuju. Ketiga ekor piton itu langsung ditebas pakai parang kemudian dikeringkan di bawah terik matahari dan dikuliti.

"Ini sepertinya akan terus berlangsung jika semua pihak terkait tidak mencari solusi. Habitat ular piton akan punah demikian juga warga setempat akan terancam," kata Anriadi yang juga Ketua Mapala Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sebelumnya.

Menurut dia, seringnya ular piton menampakkan diri pada warga di daerah Mamuju menunjukkan kondisi hutan yang mulai kritis karena maraknya pembukaan lahan sawit. Saat ini, lahan sawit hampir menguasai seluruh area hutan yang ada di Sulawesi Barat (Sulbar).