Sukses

Lamahu, Desa Digital Pertama di Indonesia

Liputan6.com, Gorontalo - Menerapkan sistem digital saat ini bukan hal yang mustahil. Dengan dukungan perkembangan kecanggihan teknologi dan informasi saat ini, maka cukup lewat telepon pintar masyarakat sudah bisa mengakses segala informasi dan kebutuhan dengan sekali 'sentuh'. Seperti yang dilakukan di Desa Lamuhu sebagai desa digital.

Konsep digital itu digagas jajaran aparat Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Bone Bolango, Gorontalo dalam mengembangkan Command Center berbasis Android. Konsep Desa Digital ini pertama di Indonesia dalam pelaksanaan pemerintahan daerah.

Sekilas saat menapakan kaki di Desa Lamahu tentu yang pertama kali terkesan adalah jauh dari pusat keramaian kota. Permukiman rumah warga yang berjejer di pinggiran jalan menjadi pemandangan yang lumrah menghiasi wajah pemekaran Desa Huntu itu. Untuk menjangkau pusat kantor desa pun harus menembus jalan kecil yang berada di antara pertengahan lahan persawahan warga.

Namun jangan hanya dipandang sebelah mata, meski wajah Desa Lamahu terkesan layaknya kawasan pedesaan lain, tapi Desa Lamahu kini menjadi pilot project desa digital pertama di Indonesia lewat Command Center.

Bagi Kota besar seukuran Jakarta, Surabaya, maupun Bandung, Command Center memang tak lagi asing di telinga. Command Center merupakan sebuah gagasan pelayanan respons cepat pemerintah yang berbasis Android. Di Desa Lamahu sendiri mereka lebih mengembangkan konsep Command Center dalam spektrum kedesaan.

Menurut Kepala Desa Lamahu, Hasan Hasiru saat bersama dengan tim ahlinya Syamsu Panna menjelaskan, Command Center merupakan perwujudan cita-cita pemerintah Desa Lamahu yang digagas bersama Karang Taruna dan Pemuda Elnino Center. Command Center dimaksudkan sebagai pusat pelayanan digital pemerintah desa yang banyak mendatangkan manfaat dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Cara kerjanya, Command Center nantinya menjadi satu pusat sistem Digital Desa untuk memantau aktivitas sekaligus memberikan layanan masyarakat dalam satu desa. Konsep desa digital itu juga ditunjang dengan 32 tiang cerdas atau smart pole dengan dilengkapi CCTV, WI-FI, lampu otomatis, serta sensor cahaya dan gerak. Semua itu dipasang di sembilan titik pada kawasan pinggiran desa dan 23 titik lagi di permukiman rumah warga serta lahan pertanian.

1 dari 2 halaman

Aplikasi Panic Button

Untuk memanfaatkan fungsi Command Center masyarakat yang memiliki smartphone berbasis Android harus memiliki aplikasi Panic Button di playstore. Aplikasi Panic Button di dalamnya tersedia tiga pilihan, diantaranya layanan keamanan, kesehatan, dan pelayanan pengurusan berkas kependudukan atau keterangan surat izin.

Dengan begitu ketika para pengguna aplikasi, dalam hal ini warga desa, kalau ada kejadian tindak kriminal maka warga hanya tinggal menekan tombol darurat pada aplikasi Panik Button itu. Seketika juga alarm akan berbunyi karena terintegrasi di smartphone Babinsa Babinkamtimas, aparat desa, dan kecamatan serta kepala Puskesmas.

"Jadi kalau ada pencurian tinggal langsung pencet saja tombol, maka direspon cepat warga dan aparat desa. Kalau pilih tombol layanan kesehatan pada aplikasi Panik Button itu berarti tandanya ada penanganan kesehatan yang segera ditangani, baik itu sakit, meninggal, atau ibu melahirkan," ujar Hasan.

Sementara kalau tekan tombol layanan pengurusan berkas maka warga yang menekan secara otomatis itu akan muncul data lengkap kependudukannya yang telah diinput. Data kependudukan itu muncul dengan mode tampilan meliputi nama, letak GPS, dan identitas lainnya. Lalu tinggal dipenuhi saja apakah warga minta dibuatkan surat keterangan atau berkas kependudukan dan surat izin usaha," ujar Hasan.

Syamsu Panna sebagai tim ahli Command Center menambahkan, dengan Command Center ini, satu kontrol akan mencakup banyak layanan kebutuhan masyarakat, diantaranya layanan E-Siskamling, internet rakyat, sampai dengan Smart Village. Khusus tambahan, Command Center itu juga menyediakan Wifi gratis dengan kecepatan 10 mbps untuk warga desa..

"Untuk mengakses login internet itu maka setiap warga harus terlebih dahulu menginput data kependudukannya berupa NIK dan password. Layanan itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan remaja yang selalu beralasan pergi keluar hanya demi ke warnet," ujar Syamsu.

Hasan dan Syamsu mengakui pembuatan Command center ini masih tergolong jauh dari kesempurnaan. Sebab masih juga ada sejumlah kendala yang dirasakan. Mereka pun memandang, hanya dengan bantuan pemerintah, maka Command center itu akan berjalan lancar.

Dalam pembuatannya Command Center diakui butuh memakan waktu dan sulit. Sebab selain alat dan perangkat, dibutuhkan juga hal lain, misalnya sofware aplikasi dan basis data. Tak heran pembuatan Desa Digital ini memakan waktu berbulan-bulan.

Artikel Selanjutnya
Permudah Pengguna Angkutan Umum, BPTJ Gandeng Moovit
Artikel Selanjutnya
OPINI: Kota Pintar, Wujud Masa Depan Indonesia Cerdas