Sukses

Kebangkitan Kopi-Kopi Dogiyai Papua

Liputan6.com, Moanemani - Aroma kopi yang sedang diseduh di ruang makan Pastori Gereja Katolik Maria Menerima Kabar Gembira yang terletak di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai menyebar ke seisi ruangan.

Kopi yang diseduh oleh Pastor Reynaldo Anthoni bukan sembarang kopi. Kopi Mapia merupakan kopi pilihan premium dari segala jenis kopi yang ditawarkan di Kabupaten Dogiyai. Jenisnya hanya ada dua, yakni klasik dan premium.

"Selain aromanya yang lebih kuat, menyeruput kopi jenis premium, membuat metabolisme tubuh lebih baik dari sebelumnya," kata Pastor Theodora Treka yang juga mendiami pastori itu.

Gereja di bawah Keuskupan Timika ini, sejak 2002 telah membeli kopi dari petani lokal. Harga yang ditawarkannya pun bisa dua kali lipat dari harga pasaran.

"Kami membeli kopi Rp 40 ribu per kilo. Masyarakat yang menjual kopi tak rutin. Kadang kala, per hari warga yang jual kopi bisa mencapi 9 hingga 16 kilogram," ucap Pastor Theo.

Kegiatan mengolah biji Kopi Mapia menjadi kopi bubuk yang bisa dipasarkan, dikerjakan di dalam kompleks pastori itu. Tiga pastor yang berasal dari Keuskupan Agung Jakarta itu bekerja mulai dari memisahkan dari biji klasik dan biji premium, menyangrai, membuat bubuk kopi hingga mengepak kopi untuk dipasarkan.

"Uang untuk membeli kopi berasal dari gereja dan hasilnya kami kembalikan ke gereja lagi. Selain itu, uang penjualan kopi juga digunakan untuk menyekolahkan sembilan anak laki-laki yang berada di asrama gereja," kata Theo.

Kopi yang dipasarkan hanya dalam 200 gram, dengan jenis kopi klasik ditawarkan Rp 100 ribu dan jenis kopi premium seharga Rp 125 ribu. Pemasaran Kopi Mapia tersebar ke seluruh Indonesia, tetapi pemesanan saat ini hanya bisa dilakukan melalui telepon selular.

Semangat melayani masyarakat untuk menjadi pelaku ekonomi terus dilakukan oleh para pastor tersebut. Intinya hanya satu, agar masyarakat mau bekerja dan kembali menjadi petani kopi.

"Kopi di Kabupaten Dogiyai beragam dan memiliki keunikan tersendiri. Kami berharap petani kopi dapat terus meningkatkan kualitasnya," ucap Pastor Lucky Nikasius yang menjadi pemimpin pada rumah pastori itu.

1 dari 3 halaman

Kopi Masih Dipandang Sebelah Mata

Kabupaten Dogiyai merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Nabire pada 2008. Saat ini, Kabupaten Dogiyai memiliki 10 kecamatan atau distrik dan 79 kampung. Sebanyak sembilan distrik di antaranya adalah penghasil kopi andalan.

Biji kopi Mapia yang khas Dogiyai dibawa oleh missionaris gereja pada 1964 saat menyebarkan injil pertama kalinya di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Saat itu, harumnya biji kopi Dogiyai yang disangrai oleh misionaris bisa memenuhi seisi kampung.

Namun, masyarakat setempat melihat potensi ekonomis kopi lebih rendah dibandingkan dengan potensi kacang tanah, ternak babi ataupun tumbuhan lainnya. Kebanyakan petani kopi masih memandang sebelah mata untuk kopi.

"Makanya mereka beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran dan peternak," kata Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Dogiyai, Andarias Gobai ketika ditemui di Dogiyai, Sabtu, 25 Maret 2017.

Dulunya, petani kopi lokal mengupas satu biji kopi dengan waktu 10-30 menit. Mereka lalu mengolah biji kopi secara manual karena tak memiliki mesin khusus. Meski begitu, ia mengungkapkan sejumlah pejabat di Papua berhasil disekolahkan dari uang kopi.

Untuk membangkitkan kembali kejayaan kopi Dogiyai, Pemerintah kabupaten setempat mengalokasikan dana Rp 2 miliar untuk pengembangan kopi jenis arabika Dogiyai.

"Kopi dalam bahasa kami adalah emas hijau yang tidak akan habis untuk keberlangsungan anak cucu kami. Tetapi, jika kami menyimpan uang pasti akan habis," ujar dia.

Saat ini, ada 5-6 kelompok petani kopi yang sudah memiliki mesin pengupas. Namun, penggunaannya terkendala dengan masalah listrik.

Upaya pemkab membangkitkan petani lokal lainnya adalah akan melatih tiga petani kopi per kampung dari 79 kampung yang ada untuk dilatih dan dikembangkan. Nantinya, para petani percontohan itu akan membagi ilmunya kepada petani lainnya di kampung.

Syarat untuk menjadi petani kopi percontohan harus memiliki komitmen yang kuat untuk tetap tinggal di kampung, lalu punya kebun kopi, mau bekerja dan yang terakhir adalah memiliki keinginan untuk menanam kopi kembali.

"Dalam waktu dekat Asosiasi Kopi Indonesia (Scopi) akan melatih para petani ini di Dogiyai. Kami juga harapkan peran BUMN sinergi untuk membantu era kebangkitan kopi Dogiyai," kata dia.

2 dari 3 halaman

Memilih Kopi Jagoan

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) optimistis akan kebangkitan petani kopi Dogiyai. PPI mengumpulkan empat jenis label kopi yang beredar di Kabupaten Dogiyai yakni Fransiscus Coffee yang dikembangkan oleh SMP Santo Fransiskus Moanemani, Dogiyai, Kopi Papua yang dikembangkan oleh tiga pastor bersama dengan masyarakat Distrik Mapia, kopi Moanemani yang dikembangkan oleh P5 dan Kopi Cenderawasih yang penyebarannya di wilayah Meepago.

Setelah mengumpulkan keempat jenis kopi ini, PPI yang bergerak dalam trading antarpulau, ekspor dan impor, akan melakukan uji lab terhadap empat jenis kopi untuk menentukan kopi mana yang bisa masuk dalam daftar ekspor atau dijual antarpulau.

Untuk ekspor, biasanya lebih diminati dengan biji kopi hijau mentah. Sebab, lebih murah dan kebanyakan pencinta kopi luar negeri memiliki pola masak sendiri hingga kopi dapat dinikmati.

"Kami akan kembalikan ke pasar, apakah sampel ini memenuhi standar atau tidak. Kemungkinan besar yang bisa ditawarkan di pasar adalah kopi Mapia yang dikembangkan oleh para pastor bersama dengan masyarakat adat di Mapia. Kopi Mapia kabarnya limited edition," kata Titin Fitriani, Assisten Senior Manger PT PPI.

Untuk memasarkan kopi Dogiyai, PPI juga akan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia, sebab saat kunjungannya ke Dogiyai, PT Pos sudah melayani masyarakat di daerah itu.

"PT Pos kami gandeng untuk suplai logistik. PT Pos akan membawa kopi ke pelabuhan terdekat yang dituju dan kembali ke Dogiyai pasti akanmembawa barang lainnya, sesuai dengan kebutuhan amsyarakat di sana. Intinya, monda-mandir trading barang supaya tidak kosong," ucap Titin.

Ketua Pokja Papua Judith Dipodiputro menyebutkan untuk meningkatkan ketertinggalan pembangunan di Papua dan Papua Barat, harus dikawal dengan kesejahteraan. Salah satunya adalah memandirikan masyarakat setempat dan tidak tergantung pada lembaga bantuan.

"Beberapa pusat pelatihan dan bimbingan kopi, misalnya Anomali, Caswel, Javanero, Tanamera dan Scoopi sudah bersepakat dan setuju, untuk membuat langkah pelatihan dan pembinaan tentang kopi Papua, khususnya di Dogiyai," kata Judith menambahkan.

Artikel Selanjutnya
Jejak Wisata 'Khayalan' Pantai Untia Makassar
Artikel Selanjutnya
Diam-Diam Australia Lirik Wisata Jambi