Sukses

Pesta Rakyat Equinox, Saat Hari Tanpa Bayangan

Liputan6.com, Pontianak Panasnya terik matahari menyengat kulit tak menghalangi ratusan warga berbondong-bondong menuju Sungai Putat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Siang itu, Kamis, 23 Maret 2017, mereka tak menghiraukan panasnya cuaca demi equinox.

Warga rela berpanas-panasan hanya untuk melihat fenomena langka equinox. Di Sungai Putat, RT 001, RW 30, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, warga ingin menyaksikan langsung kulminasi matahari atau matahari tegak lurus di atas. Karena ini, benda apa pun seolah tanpa bayangan. Sebelumnya, warga sudah menggelar kegiatan surver pada 21-23 Maret 2017.

Ketua Kreasi Sungai Putat (KSP) Syamhudi menyebut apa yang dilakukan warga Sungai Putat ini adalah pesta rakyat kulminasi Sungai Putat. Pesta rakyat saat hari tanpa bayangan.

"Ini dilakukan sejak tanggal 21 hingga 23 Maret 2017," kata Syamhudi kepada Liputan6.com.

Syamhudi menjelaskan, warga bersama pemerintah setempat, yaitu pihak Kelurahan Siantan Hilir, mengisi acara dengan pemaparan Lurah Siantan Hilir soal garis khatulistiwa di Sungai Putat.

Tak hanya itu, kata Syamhudi, warga dengan sukarela mengumpulkan ribuan telur untuk didirikan. Hal itu dilakukan guna mengetahui, apakah benar di Sungai Putat dilintasi garis titik kulminasi atau tidak.

"Anggapan warga benar. Mendirikan telur 1.000 butir, tanpa bayangan," ucap dia.

Tak ingin melewatkan momen bersejarah itu, warga dengan spontanitas melakukan lomba mendirikan telur. "Lomba mendirikan telur terbanyak dan tercepat. Menetapkan garis nol dengan alat sederhana berupa GPS Garmin," kata Syamhudi.

Syamhudi menuturkan, ribuan telur dibawa oleh warga Sungai Putat atas kesadaran dan kepedulian. Sebab, mereka bangga titik kulminasi ada di Sungai Putat.

"Warga bahagia dengan adanya kegiatan ini. Sementara yang lebih penting adalah pengetahuan baru bagi warga soal garis khatulistiwa," Syamhudi menjelaskan.

Lokasinya ternyata berada di sekitar lokasi kediaman mereka. Kegiatan dimulai pada pukul 11.50-12.30 WIB.

Seorang warga, Deman Huri Gustira, mengatakan aksi mendirikan telur yang dilakukan warga Sungai Putat juga sebagai salah satu cara untuk mengetahui keseimbangan gravitasi antara Kutub Selatan dan Kutub Utara Bumi.

Lebih lanjut, Deman bercerita, saat ikut menyaksikan pencarian titik kulminasi matahari di Sungai Putat, estimate position error (EPE) atau perkiraan kesalahan letak garis khatulistiwa mencapai 2 meter.

"Baru kali ini 2 meter. Kalau biasanya kawan-kawan seperti GIS Spesialis, errornya mulai dari tiga sampai enam meter," kata Deman.

Artikel Selanjutnya
Tulisan di Uang Bongkar Pencabulan Anak oleh Penambal Ban
Artikel Selanjutnya
Identitas 2 Wanita yang Nekat Terjun dari Apartemen di Bandung