Sukses

Sekolah di Pedalaman Papua Bisa Mandiri Berkat Kopi Moanemani

Liputan6.com, Moanemani - SMP YPPK Santo Fransiskus Moanemani di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, berdiri teguh di atas lahan 2 hektare (ha). Siapa sangka sekolah yang dibangun pada 1964 itu masih terus bertahan dan menjadi sekolah tertua di pedalaman Papua berkat petani kopi lokal.

Cat biru pada dinding bangunan sekolah semipermanen itu memang mulai memudar. Namun, semangat untuk mempertahankan pelajaran tentang kopi sebagai muatan lokal siswa tetap membara.
 
Pelajaran tentang kopi di sekolah peninggalan Belanda di bawah Yayasan Persekolahan dan Pendidikan Katolik (YPPK) itu meliputi proses pembibitan, penanaman, panen, hingga proses pengepakan kopi yang siap dijual di pasaran.

Kepala Sekolah SMP YPPK Santo Fransiskus, Ernest Giyai, menyebutkan muatan lokal diterima oleh siswa kelas VII-IX SMP. Para siswa setiap minggunya dibimbing untuk pergi ke kebun kopi, memelihara tanaman kopi, menyangrai kopi, hingga mengemas kopi dalam bungkus kemasan yang telah disediakan.

"Kebun kopi ada di belakang sekolah dan kami memiliki lebih dari 1.000 pohon. Namun, 200 pohon sudah mulai tua dan harus diregenerasi," kata Ernest, Kamis, 23 Maret 2017.

Ernest berkisah, biji kopi Moanemani pertama kali dibawa oleh misionaris gereja yang bertugas di Dogiyai. Para misionaris saat itu berpikir Dogiyai merupakan daerah yang cocok untuk ditanami kopi.

Kopi Moanemani terkenal memiliki cita rasa khas berkat struktur tanah dan pupuk khusus. Penanaman kopi Moanemani hanya menggunakan pupuk buatan sendiri, yakni tanaman yang dikumpulkan pada sebuah kolam dan air di kolam itu yang akan mengalir ke pohon-pohon kopi.

"Setiap hasil panen Kopi Moanemani akhirnya dibawa sampai beberapa negara, di antaranya Belanda, Belgia, dan sejumlah negara bagian lain di Eropa. Uang hasil kopi itu yang digunakan untuk membangun sekolah dan membuat fasilitas lainnya di sekolah ini, agar terus berkembang dan maju," ucap Ernest.

Kopi Moanemani tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga menarik peminat kopi dari Belgia dan Belanda berkat rasanya yang khas. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Setelah para misionaris gereja meninggalkan Dogiyai dan berganti dengan guru-guru yang dilatarbelakangi oleh ilmu pertanian dan perkebunan, proses untuk terus melestarikan kebun kopi tetap dilanjutkan. Hingga kini, tercatat sudah 30 tahun lamanya, pendidikan lokal tentang kopi diajarkan di sekolah itu.

"Dana BOS itu kan baru ada beberapa tahun ini. Sebelumnya, sekolah ini sudah mandiri berkat dana penjualan kopi. Sampai saat ini, kopi hasil panen anak-anak di sekolah dipasarkan hingga Nabire atau bahkan para tamu yang datang ke Dogiyai membawa oleh-oleh khas kopi ini," tutur Ernest.

Para guru di sekolah itu yakin, dengan adanya muatan lokal, makin lama para siswa makin mahir untuk memperlakukan tanaman kopi hingga kopi bisa dihidangkan dengan baik kepada penikmatnya. Siswa pun akan terseleksi dengan sendirinya, hingga nantinya lulus dari SMP akan masuk ke sekolah SMA jurusan perkebunan.

"Kami sadar, tidak semua siswa lulusan sekolah ini akan menjadi pegawai negeri ataupun pegawai lainnya. Pasti ada yang berkebun dan meneruskan perjuangan orangtua mereka untuk menjadi petani kopi," kata dia.

Sisilia Mote, salah satu siswa kelas VIII menyebutkan ia belajar tentang kopi setiap Kamis. Jika di kebun kopi, Sisilia bersama puluhan teman sekelasnya membersihkan rumput di sekitar pohon kopi.

Jika buah kopi sudah merah dan siap panen, dia harus memetiknya, memotong daun kopi yang sudah kering. Sisilia kini bahkan mahir menyangrai kopi hingga mengemas kopi dalam label Fransiscus Coffee.

"Kami punya kebun kopi di rumah. Berkat pengenalan kopi ini, saya kadang memberitahukan kepada mama dan bapak, untuk merawat kopi dengan baik," kata Sisilia.

Artikel Selanjutnya
Mama Penjual Noken Makin Senang Hati dengan Transaksi Nontunai
Artikel Selanjutnya
Mari Menyesap Kopi dari 3 Era di Prawiro Coffee Festival I