Sukses

Penghormatan Rakyat Maluku untuk Pemilik Kerangka Makam Nomor 21

Liputan6.com, Bandung - Sejumlah makam berderet tanpa nama di di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kristen Pandu, Kota Bandung. Tak ada hiasan, hanya ada ukiran angka di setiap batu nisan, juga besi berbentuk bambu runcing. Tiang besi dengan bendera Merah Putih bertuliskan "pejuang".

Makam-makam itu tempat para pejuang bersemayam. Salah satunya bernomor 21, itulah makam salah satu pahlawan perintis kemerdekaan, Alexander Jacob Patty dari Maluku.

Tokoh yang dikenal dengan nama A.Y Patty ini merupakan seorang perintis dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang lahir pada 1889 di Desa Nolloth, Pulau Saparua, Provinsi Maluku. Dia meninggal di Kota Bandung pada 16 Januari 1953 akibat hipertensi.

A.Y Patty dituduh berbahaya oleh pemerintah Belanda karena mendirikan Sarekat Ambon pada‎ 9 Mei 1920. Dengan organisasi ini dia mengusung ide nasionalisme Indonesia. Kemudian dia masuk ke dalam Gabungan Partai Radikal (Radikale Consentratie).

Karena dituduh melanggar hukum dan menghasut rakyat, A.Y Patty ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Dia kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh Raad Van Justitie.

Setelah dihukum, A.Y Patty kemudian dibawa oleh penjajah ke Bengkulu hingga akhirnya diasingkan ke Boven Digul, Papua, hingga pecah Perang Dunia II. Pada masa penjajahan Jepang, dia meloloskan diri ke Australia.

Saat revolusi kemerdekaan, A.Y Patty berjuang bersama Presiden Soekarno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1 dari 2 halaman

Kembali ke Maluku

Kerangka tokoh yang menjadi nama jalan utama di Ambon yang dikenal dengan A.Y Patty itu akan segera dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pahaha, Ambon.‎ Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Sartono Pinning mengatakan, pemindahan itu berdasarkan usulan dari masyarakat Maluku, ahli waris A.Y Patty, dan keluarga.

"Kami bermaksud menempatkan kerangka beliau ke tempat yang layak di daerah kelahirannya. Kita bermaksud spirit semangat almarhum ‎yang berjuang mengusir Belanda saat itu menjadi contoh generasi muda di sana," kata Sartono usai berdoa bersama di makam A.Y Patty, Rabu (22/3/2017).

Sartono mengatakan, proses sebelum pemindahan kerangka A.Y Patty membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain dari pihak ahli waris dan keluarga, dia pun perlu melakukan langkah persuasif dengan masyarakat Maluku yang ‎ada di Kota Bandung dan Ambon.

"Kita melakukan kordinasi intensif dengan Pemprov Jawa Barat, Pemkot Bandung, maupun Kodam III Siliwangi. Ini adalah keinginan masyarakat Maluku yang sudah lama ingin dilakukan," ucap dia.

"Ceritanya satu tahun yang lalu, persatuan masyarakat Maluku menyampaikan secara resmi ke bapak Gubernur Maluku untuk pemindahan makam almarhum ke Maluku, dan usulan itu direspons dengan cepat oleh bapak Gubernur," ujarnya.

‎Proses penggalian tanah kuburan dan pemindahan kerangka A.Y Patty berjalan dengan lancar. Satu persatu bagian tulang A.Y Patty dikumpulkan dan dipindahkan ke peti jenazah kecil berwarna puti dan dibalut bendera merah putih saat diangkut ke mobil ambulan.

"Malam ini langsung diberangkatkan ke Ambon menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta. Nanti di sana ada acara berdoa dulu, baru dikuburkan kembali di Taman Makam Pahlawan Pahaha," jelasnya.

Artikel Selanjutnya
Akhir Konflik Keraton Solo Jelang Lebaran
Artikel Selanjutnya
Info Mudik dan Wisata Asyik di Malang