Sukses

Raup Untung Saat Equinox atau Hari Tanpa Bayangan di Pontianak

Liputan6.com, Pontianak - Tur bersepeda pada saat kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa. Itulah program yang digelar Komunitas Tamasya Puri Wisata Pontianak, Kalimantan Barat.

Adalah Herfin Yulianto selaku Direktur Tamasya Puri Wisata yang membawa sejumlah wisatawan ke pesona kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa, Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Batu Layang, Kota Pontianak.

Herfin menjelaskan, dengan membawa turis dari luar tujuanya untuk mengenalkan tur bersepeda ke tempat destinasi wisata. Apalagi, pada Maret ini ada fenomena alam langka yang terjadi di Tugu Khatulistiwa, yakni equinox menyebabkan Hari Tanpa Bayangan yang memakan waktu 5-10 menit.

"Tadi kita bawa tamu berjumlah 8 orang. Mereka senang lihat fenomena langka ini," ucap Herfin kepada Liputan6.com di Tugu Khatulistiwa, Selasa, 21 Maret 2017.

Menurut Herfin, September mendatang, ia akan membawa turis dari mancanegara seperti Belanda, Australia, Malaysia, Eropa, dan Korea Selatan. "Rata-rata mereka mengabadikan momen-momen di Tugu Khatulistiwa."

Ia menjelaskan, tur bersepeda ke Tugu Khatulistiwa memiliki keunikan tersendiri. Hal itu terlihat dari sejumlah momen yang diabadikan turis.

"Dari tugu itu, mereka bisa melihat dua sisi garis utara dan selatan. Ini jarang sekali orang bisa berdiri di dua sisi. Nah di sini bisa dua, selatan dan utara," ujar Herfin.

Tak hanya equinox, fenomena alam kulminasi matahari yang menyebabkan bayangan menghilang juga terjadi di Tugu Khatulistiwa. (Liputan6.com/Raden AMP)

"Ini efek dari matahari, itu pas pukul 11.50 WIB, bayangan kita tak ada atau Hari Tanpa Bayangan selama 5-10 menit," ia menambahkan.

Masih menurut Herfin, Tugu Khatulistiwa pun tak jauh dari pusat Kota Pontianak. Siapa pun bisa mencapai Tugu Khatulistiwa. "Ini hanya berapa kilometer saja dari kota (4,4 km)."

Herfin menilai, pesona kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa memiliki potensi wisata luar biasa. Sebab, hal itu terlihat setiap tahunya selalu banyak yang berkunjung ke Tugu Khatulistiwa.

"Ini sebenarnya potensi wisata luar biasa di dunia. Di Tugu Khatulistiwa itu ada pemandu menjelaskan peraga telur berdiri pada saat jam tertentu, yakni pukul 11.50 WIB," kata dia.

Herfin mengamati, setiap turis yang ia bawa selalu tak ingin melewatkan momen yang ada. Itu terlihat ketika berada di Tugu Khatulistiwa yang menjadi ikon Kota Pontianak. "Turis-turis tuh memfoto momen-momen di titik kulminasi berdiri."

Lalu, apa kesan para turis?

"Mereka bilang, 'Ini nih kita berdiri antara selatan dan utara. Saya bangga bisa berdiri di ini. Ini unik,'" ucap Herfin Yulianto, menirukan ucapan seorang turis mancanegara asal Australia.

Ia menambahkan, banyak turis baik mancanegara dan lokal, jumlahnya ratusan yang ke Tugu Khatulistiwa dengan sepeda. Adapun harga paket tur sepeda sebesar Rp 600 ribu, sudah termasuk makan, pemandu, foto-foto. Sedangkan keuntungan yang diperoleh dari setiap turis sebesar Rp 100 ribu.

Artikel Selanjutnya
Tulisan di Uang Bongkar Pencabulan Anak oleh Penambal Ban
Artikel Selanjutnya
Identitas 2 Wanita yang Nekat Terjun dari Apartemen di Bandung