Sukses

Ada Apa di Balik Isu Pemusnahan Tari Gending Sriwijaya Palembang?

Liputan6.com, Palembang - Merebaknya isu pemusnahan Tari Gending Sriwijaya yang menjadi tradisi budaya Sumatera Selatan (Sumsel) membuat pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan para seniman berang.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Palembang Sulaiman Teguh, pemberitaan yang menyebar tersebut adalah tidak benar.

"Untuk mengganti saja tidak pernah terucapkan, apalagi untuk memusnahkan.Tidak ada statement seperti itu," kata dia kepada Liputan6.com, Senin, 20 Maret 2017.

Tari Gending Sriwijaya diciptakan di masa penjajahan Jepang. Tari tradisional itu menggambarkan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan agama yang dianut dimasa itu, yaitu agama Hindu-Buddha. Beberapa gerakan tarian juga mengadopsi bentuk gerakan ibadah Hindu-Buddha.

Isu memusnahkan Tari Gending Sriwijaya tersebut mencuat setelah pihaknya mengadakan pertemuan dengan para seniman di Sumsel. Dalam pertemuan tersebut, Disbud Palembang mewadahi keinginan seniman untuk membuat tarian baru, yaitu Tari Palembang Darussalam.

"Kalau tarian khas Palembang belum ada, makanya kita ingin merancang membuatnya. Tapi, itu masih wacana awal," kata dia.

Nantinya, Tari‎ Palembang Darussalam akan diperuntukkan untuk menyambut para tamu dan disejajarkan dengan tiga tarian daerah lainnya, yaitu Tari Gending Sriwijaya, Tari Tanggai dan Tari Tepak Keraton.

‎Untuk merealisasikan Tari Palembang Darussalam, pihaknya akan mengadakan perlombaan untuk menentukan dari segi gerak, kostum hingga makna tariannya.

Sejarawan Sumsel Ali Hanafiah mengakui memang banyak unsur agama Hindu-Buddha digerakan tarian tersebut. "‎Gending Sriwijaya pertama kali ditampilkan saat koloni Jepang. Mereka minta tarian sambutan untuk tamu yang datang," katanya.

Jumlah penari Gending Sriwijaya harus berjumlah sembilan orang. Hal itu untuk menggambarkan jumlah Sungai Batanghari Sembilan.

Artikel Selanjutnya
Jawa Tengah Siaga I Jelang Aksi Bela Rohingya di Borobudur
Artikel Selanjutnya
Kapolri Larang Aksi Solidaritas Rohingya di Candi Borobudur