Sukses

Potongan Mentok Nikmat dalam Sepiring Kupat Blengong Tegal

Liputan6.com, Tegal - Pemerintah Kota Tegal, Jawa Tengah, meluncurkan Tegal sebagai kota wisata kuliner pada hari ini atau Jumat (17/3/2017). Kupat blengong pun bakal menjadi salah satu ikon kuliner khas Tegal.

Kompleks Kupat Blengong di Jalan Sawo Barat, Tegalsari, pun bakal menjadi salah satu lokasi favorit yang bisa disambangi para pencinta kuliner. Termasuk di Kompleks Sawah Pari, lokasi para pedagang kupat blengong dari Kelurahan Sumurpanggang.

Di Kota Tegal, kupat blengong memang dapat dijumpai di sepanjang Jalan Sawo, Kelurahan Kraton dan kawasan Tegalsari.

Blengong merupakan sejenis hewan hasil persilangan antara itik betina dan entok jantan, yang juga dikenal dengan sebutan mentok. Dagingnya lebih empuk dan terasa lezat, terutama bila dijadikan bahan utama kuliner kupat blengong.

Biasanya, kupat blengong disajikan dalam sepiring ketupat yang diberi kuah agak kental dan dimakan bersama dengan sate blengong atau daging blengong. Untuk sambalnya disajikan dengan cara diulek pada saat awal memesan, jadi bukan sambal jadi.

Kuliner ini sudah ada di Tegal, sejak setengah abad lalu. Awalnya, Komunitas Kupat Blengong terbentuk dari satu gerobag kupat blengong yang melayani kelompok penggemar balap merpati. Seiring berjalannya waktu, jumlah gerobak penjual kupat blengong kian bertambah.

Gerobag Kupat Blengong juga khas Kota Tegal, yakni berwarna hijau dan biru dengan meja lesehan. Selain gerobak, para pedagang kupat blengong ada yang membuka kios dengan bangunan permanen, baik itu milik sendiri maupun sewa.

Kupat blengong, kuliner khas Kota Tegal, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Lokasi para pedagang kupat blengong, saat ini menjadi tempat favorit warga Kota Tegal yang merantau. Sedangkan warga Tegal memanfaatkan lokasi kuliner tersebut sebagai tempat menjamu tamu dari luar kota.

Saat malam Minggu, semua penjual kupat blengong mendulang rezeki lebih awal. Terbukti pada pukul 20.00 WIB, kuliner khas Tegal tersebut sudah ludes terjual.

Seperti diungkapkan salah satu penjual kupat blengong di kawasan tersebut, Sihin. Menurut lelaki berusia 40 tahun tersebut, saat malam Minggu, tingkat penjualannya mengalami peningkatan. Sebab, masyarakat meluangkan waktu senggang di malam akhir pekan untuk berkumpul bersama teman maupun keluarga, termasuk para muda-mudi.

Kupat blengong adalah khas Tegal, beda dengan kupat glabed. "Kalau kupat blengong dan sate balungan, dagingnya menggunakan blengong asli," ujar penjual klupat blengong yang beralamat di Sumurpanggang, Kota Tegal.

Menurut dia, pengunjung cukup merogeh kocek Rp 5.000 mendapatkan satu porsi kupat blenggong. "Belum termasuk sate kulit, blengong goreng, dan sate yang lain."

Bumbu kuning khas kupat blengong juga cukup kental, dengan ketupat lontong yang dipotong. Dengan bumbu kuah kuning mendidih dan berasal sangat nikmat untuk disantap di sore dan malam hari. Belum lagi taburan bawang goreng serta kerupuk yang membuat makanan tersebut semakin lezat.

"Mari dukung Kota Tegal menjadi Kota Kuliner, ini waktunya kuliner Tegal menjadi kebanggaan bersama dan nantinya dapat dikenal di daerah lain," penjual kuliner khas Tegal itu memungkasi.


Artikel Selanjutnya
Lebaran, Kuliner, dan Wisata di Solo
Artikel Selanjutnya
Semarang Kian Genit Sambut Pemudik dengan Terowongan Pelangi