Sukses

Fakta di Balik Kebangkitan Raja Rotan Cirebon

Liputan6.com,Cirebon - Warga Cirebon sedang intensif meningkatkan geliat industri rotan. Salah satu aksi simboliknya, mereka bergotong royong membuat kursi raksasa dari rotan untuk sosok imajiner Raja Rotan.

Bagaimana potret industri rotan Cirebon sekarang? Di tengah pertumbuhan usaha rotan Cirebon tak sebanding dengan jumlah pengrajin yang ada di pantura Cirebon itu sendiri.

Dari catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, jumlah perajin rotan mencapai 1.331 orang, sementara jumlah eksportir rotan mencapai 300 perusahaan.

"Jumlah itu masih kurang karena tiap tahun usaha rotan selalu tumbuh dan berkembang," sebut Kepala Disperindag Kabupaten Cirebon Deni Agustin, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan sejak bangkitnya industri rotan Cirebon, para perajin sebagian besar sudah banyak yang beralih profesi. Pemkab Cirebon pun tidak bisa memaksakan perajin yang beralih profesi itu untuk kembali menggeluti usaha kerajinan rotan.

Sementara itu, dari jumlah industri rotan yang ada, hanya sekitar 160 usaha yang aktif dan tergabung dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Cirebon. Tidak sebandingnya jumlah industri rotan dengan perajin berimbas banyaknya pengusaha rotan yang berebut perajin rotan.

Pemkab Cirebon pun mengaku sedang berusaha mencetak perajin dan penganyam rotan baru untuk kebutuhan industri baik skala besar maupun skala kecil. Pemerintah juga akan menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti lomba desain rotan hingga mendatangkan desainer furnitur, serta pameran berskala nasional maupun internasional.

Selain tidak sebandingnya industri dan pengrajin, para pengusaha rotan juga masih berorientasi ekspor. Karena itu para pengusaha rotan juga diminta untuk bekerja sama meningkatkan penjualan rotan di dalam negeri.

"Kita dari pemda terus mendorong agar produk rotan juga melirik potensi pasar di dalam negeri. Baik furnitur maupun handycraft disukai pembeli di dalam negeri," sebut dia.

Dalam upaya tersebut, Pemkab Cirebon menawarkan sistem substitusi antaran penjualan ekspor dan dalam negeri. Ketika ada musim di mana ekpor rotan menurun, maka di substitusi dengan penjualan di dalam negeri.

"Sampai saat ini kami juga belum ada catatan berapa penjualan kerajinan rotan di dalam negeri. Tapi kalau ekspor dari data Sucofindo mencapai 800 sampai 1.000 kontainer per bulan termasuk rotan. Tahun 2015 rotan ekspor rotan di atas 200 juta dolar," sebut Deni.

Sementara itu, salah seorang pengusaha rotan Cirebon Sumartja mengakui penjualan rotan dalam negeri masih minim. Namun, lanjut dia, minimnya penjualan rotan di dalam negeri karena melihat kebutuhan masyarakat pribumi.

"Kita harus jujur, di negara kita yang sudah memasuki strata fashion baru beberapa persen, lainnya baru strata kebutuhan hidup, sedangkan kami maunya kursi atau kerajinan furnitur rotan sebagai kebutuhan fashion. Kalau fashion bukan kebutuhan pokok, tapi prestise saat ini," Sumartja memaparkan.

Dia pun mengaku belum ada data konkret mengenai jumlah penjualan produk rotan di dalam negeri. Bahkan volume penjualan di dalam negeri lebih sedikit dibandingkan penjualan di luar negeri.

Dalam upaya meningkatkan penjualan dalam negeri, para pengusaha rotan meminta ketersediaan pemerintah untuk melakukan berbagai kerja sama. "Buat maskot untuk menarik minat wisatawan dalam negeri. Kedua ada kerja sama antara pemda dengan pengusaha dengan meminta semacam keputusan daerah untuk penggunaan produk dalam negeri rotan," kata Sumartja.