Sukses

Senjakala Tukang Cukur Favorit Serdadu Belanda dan Jepang

Liputan6.com, Cirebon - Wajah lelaki tua berkacamata itu masih memancarkan semangat. Meski peci hitam yang dikenakan tak mampu menyembunyikan rambut berubannya, lelaki tersebut tak kehilangan harapan menanti kedatangan pelanggan yang ingin menggunakan jasanya sebagai tukang cukur rambut 'DPR' (di bawah pohon rindang).

Karduyun yang kini berusia 87 tahun hanya bermodalkan meja cukur terbuat dari kayu jati hampir rapuh. Ada beragam gunting cukur kodok dan air sabun yang disimpan dalam botol plastik. Serta, papan kertas menggantung di antara pohon rindang dan tenda kecil bertuliskan potong dewasa Rp 10.000 dan potong anak-anak Rp 7.000.

Di Jalan Tentara Pelajar, Kota Cirebon, Jawa Barat, Karduyun mengawali usahanya. Di depan sebuah bengkel mobil, tukang cukur tua itu kerap duduk termenung di tengah gempuran salon dan barber shop dengan beragam pelayanan yang disediakan.

Sesekali ia memainkan gunting kodoknya untuk mengecek kondisi dan ketajaman alat cukurnya. Warga Jalan Cangkring, Kota Cirebon, ini dikenal sebagai tukang cukur "DPR" lebih dari setengah abad atau 50 tahun lalu.

Ditemani sang istri Masniah (106) yang berjualan nasi lengko khas wilayah pantura, kakek kelahiran tahun 1930 ini tak kenal lelah mencari rezeki.

"Kadang satu minggu hanya satu pelanggan yang datang minta saya cukur rambutnya. Sering sekali sepi apalagi pelanggan tetap saya banyak yang sudah meninggal," ucap Karduyun kepada Liputan6.com, Rabu, 15 Maret 2017.

Dengan peralatan sederhana, Mbah Karduyun sudah melayani jasa cukur rambut sejak zaman pendudukan tentara Jepang dan perang kemerdekaan. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Sedikit demi sedikit Karduyun mencoba mengingat kembali masa kejayaannya menjadi tukang cukur rambut. Ia mulai menggeluti dunia potong rambut sejak usia remaja.

Ketika itu, menurut Karduyun, belum banyak jasa tukang cukur di Cirebon yang selalu mangkal dan buka setiap hari. Bahkan, tak sedikit pelanggan yang rela mengantre untuk mendapat jasa cukur rambut dari Karduyun.

Sebagian besar pelanggan Karduyun adalah tentara penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Namun, setiap membuka cukur rambut "DPR", ia kerap bersembunyi.

"Kalau ada suasana perang, ya sembunyi sampai situasi aman saya buka lagi," tuturnya.

Semasa muda, gaya mencukur Karduyun banyak disukai pelanggan yang ada di Cirebon. Meski hanya di bawah pohon rindang, ia kerap memberi pelayanan ramah kepada siapa pun yang menggunakan jasa cukurnya.

Mbah Karduyun (87), tukang cukur rambut di bawah pohon rindang, kawasan Jalan Tentara Pelajar, Kota Cirebon, Jabar. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Bahkan, saking banyaknya pelanggan, dalam satu hari penghasilannya mampu membeli sepeda Onthel di waktu yang sama. "Sekarang mah sudah sepi dan sepedanya sudah ada di rumah tidak bisa dipakai," tutur dia.

Menjamurnya salon hingga barber shop di Kota Cirebon, pun dianggap tidak mengganggu usaha cukur rambut "DPR" yang dirintis Karduyun. Menurut dia, berdagang lebih terhormat dibandingkan meminta-minta.

"Saya kan ditemani istri dan anak angkat. Kadang satu minggu sekali saya dapat pelanggan lumayan uangnya buat tambahan makan. Kalau tidak dapat ya disyukuri saja mungkin sudah tidak banyak yang tertarik cukur rambut di sini," tutur sang tukang cukur yang telah memasuki usia senja.

Artikel Selanjutnya
Colenak, Kuliner Manis Pelengkap Minum Kopi, Pernah Coba?
Artikel Selanjutnya
Viral, Cukur Rambut Pakai Besi Panas Aksi Kakek Bikin Takjub