Sukses

Mbah Sadiyo, Pemulung yang Ikhlas Menambal Jalan-Jalan Berlubang

Liputan6.com, Sragen - Memikirkan kepentingan bersama layaknya menjadi sebuah sikap yang mahal harganya pada saat zaman serba materialis ini. Ikhlas menjadi modal berharga untuk selalu memikirkan kepentingan bersama. Itulah yang dilakoni Sadiyo Cipto Wiyono, warga Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Dari sosok lelaki berusia 65 tahun itu ada sebuah pelajaran berharga dalam zaman yang serba individualis saat ini. Mbah Sadiyo, begitu sapaan akrabnya, menunjukkan bahwa keikhlasan menjadi buah kegembiraan dan bermanfaat untuk yang lain.

Hebatnya lagi, Mbah Sadiyo ini adalah seorang pemulung yang pekerjaannya memungut rongsokan di pinggir jalan. Tak hanya itu, ternyata kegiatan mulia yang dia lakoni adalah menambal jalan-jalan rusak yang tidak segera diperbaiki oleh pemerintah. Motivasi utama Mbah Sadiyo untuk menambal jalan agar orang lain tidak celaka.

Empati Mbah Sadiyo begitu tinggi. Sifat ini yang membuatnya tergerak menambal jalan rusak. Ihwal menambal jalan rusak itu berawal saat dirinya juga pernah merasakan musibah akibat jalan rusak.

Begini kisahnya. Pada 2012, Mbah Sadiyo begitu membutuhkan uang untuk arisan. Kala itu ia butuh uang Rp 300 ribu. Ia kemudian menjual rongsokan hasil pencariannya untuk mendapatkan uang.

Mbah Sadiyo kemudian membawa sejumlah barang rusak itu kepada juragannya. Namun saat di Jalan Gondang, Sragen, ia berebut jalan halus dengan pengendara sepeda motor.

Sadiyo Cipto Wiyono (65), pemulung yang kerap menambal jalan berlubang di Sragen, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Abrori)

"Jadi saya berebut jalan halus. Saya waktu itu bawa barang rongsok dengan becak saya ini. Nah yang naik motor enggak mau mengalah. Akhirnya saya yang mengalah dan becak saya malah terperosok ke kubangan. Pelek ban saya rusak, jadi angka delapan," Mbah Sadiyo mengenang.

Berawal dari kejadian pahit itulah, ia bernazar seandainya punya rezeki, ia akan menambal jalan yang rusak tersebut. Dan niat baik itu pun ada jalannya. Mbah Sadiyo lalu menambal Jalan Banaran-Gondang, Sragen, sejauh lima kilometer.

"Saya nambal itu dari tanggal 5 April hingga 11 Juni. Saya nambal itu juga beli pakai uang sendiri, pakai uang hasil jual rongsok," ucap sang penambal jalan itu saat ditemui Liputan6.com di rumahnya, kawasan Grasak, RT 42 RW 11, Kecamatan Gondang, Sragen, beberapa hari lalu.

1 dari 2 halaman

Bukan Cari Popularitas

Setelah memperbaiki jalan itu, ia kemudian menambal Jalan Tunjungan-Gondang. Ia menambal jalan itu lantaran ada kabar tetangganya jatuh di jalur tersebut, bahkan harus menjalani opname di rumah sakit.

Bagi Mbah Sadiyo, menambal jalan rusak bukan sebuah aktivitas untuk mencari popularitas, melainkan perbuatan penuh keikhlasan.

"Saestu (benar) saya tidak ingin cari-cari. Saya ikhlas melakukannya. Saya itu cuma mikirnya, kalau semisal jalan ditambal paling tidak itu bisa mengurangi kecelakaan," tutur dia.

Mbah Sadiyo menambal jalan saat dirinya mencari barang rongsok. Jadi di becak yang tiap hari menemaninya mencari barang rongsok, selalu tersedia pacul, serok, dan semen. Sementara untuk pasir, ia meminta-minta dari orang yang sedang renovasi rumah.

"Saya itu memang miskin. Insya Allah hati saya tidak miskin. Saya itu cari rongsok juga bukan dari rumah ke rumah, tapi di jalan-jalan. Saya menghindari hal tidak diinginkan. Yang penting saya ini tidak mencuri," kata dia.

Dari hasil kerja memulung, Mbah Sadiyo hanya mendapatkan duit sekitar Rp 150 ribu selama lima hari. Dari uang itu, ia lalu membelikan semen satu sak. Sisanya diberikan kepada istrinya untuk makan sehari-hari.

Ia juga kerap membantu tetangga yang sedang renovasi rumah. Dari pekerjaan itu, Mbah Sadiyo mendapatkan Rp 50 ribu.

"Enggak apa-apa, pokoknya hidup seadanya. Yang penting ada beras untuk makan," ujar sang penambal jalan yang juga menjadi penggali kubur saat ada tetangga yang meninggal itu.