Sukses

Langkah Kecil Cegah Kekerasan Anak di Perbatasan

Liputan6.com, Atambua - Sebuah langkah awal pencegahan tindak kekerasan anak di daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste dilakukan melalui kegiatan lomba menggambar dan mewarnai. Ratusan anak usia dini di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi peserta dalam lomba tersebut.

Kegiatan itu diselenggarakan di areal lapangan RRI Kota Atambua Kabupaten Belu, Senin, 13 Maret 2017. Kegiatan yang disponsori beberapa lembaga swasta ini bertujuan meminalisir tindak kekerasan anak yang cukup tinggi di daerah perbatasan.

Selain itu, kegiatan ini juga sebagai wujud membentuk kreatifitas anak dan pengembangan pengetahuan anak usia dini khususnya di daerah perbatasan.

"Kita tahu tingkat kekerasan terhadap anak di daerah perbatasan  sangat tinggi. Sehingga dengan kegiatan ini bisa membantu anak-anak mengenali diri," ujar Ketua Panitia, Thomas Klau.

Menurutnya, dengan melatih terhadap hal-hal baik dari usia dini akan membantu anak-anak untuk berkreasi dan menghindari kegiatan-kegiatan negatif yang dapat merusak budi pekerti.

Dalam kegiatan ini panitia penyelenggara tidak mewajibkan anak-anak untuk mengambar sesuai dengan tema yang ditentukan. Panitia memberikan kebebasan pada anak-anak untuk menyalurkan imajinasi mereka yang dituangkan dalam hasil karya mengambar dan mewarnai.

Clara (10), salah seorang peserta lomba yang masih duduk  di bangku  kelas 5 SD mengaku sangat senang dengan adanya lomba ini.

"Saya sangat senang ikuti lomba ini. Saya gambar RSUD Atambua," ujar Clara.

Ummy, guru pembimbing mengatakan, kegiatan itu sebagai wujud menunjang kreatifitas dan peningkatan pengetahuan anak, khususnya di daerah perbatasan.

"Dengan lomba Ini anak-anak bisa diajarkan bagaimana meningkatkan kreativitas dan berani berbuat sesuatu yang baik di depan umum," kata Ummy.

Dia berharap, pemerintah setempat dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif lainnya yang lebih menarik untuk anak-anak usia dini, terutama kegiatan untuk mencegah tindak kekerasan anak.

Artikel Selanjutnya
Kelompok Militan Ini Jadi Alasan Aparat Myanmar Serang Rohingnya
Artikel Selanjutnya
Guru Besar UI: Kemarahan pada Myanmar Jangan Mengarah Kekerasan