Sukses

Tekad Tegal Kembali Menjadi Jepangnya Indonesia

Liputan6.com, Tegal - Kota Tegal, Jawa Tengah sempat dijuluki sebagai Jepangnya Indonesia. Sebab kota dengan jumlah penduduk sebanyak 276.734 jiwa ini mempunyai beberapa industri pengecoran dan pengerjaan logam yang sengaja dibangun pada 1940 untuk mencukupi kebutuhan peralatan perang bagi tentara Jepang.

Dari situ, masyarakat mulai mendapatkan keterampilan untuk mengerjakan logam sehingga keahlian tersebut digunakan untuk membangun bengkel-bengkel sederhana di masa setelah itu.

Entah sejak kapan Tegal dijuluki sebagai Jepangnya Indonesia karena disebut-sebut sebagai daerah yang mampu berinovasi di berbagai bidang industri otomotif dan industri logam.

Selain dikenal memiliki kreativitas tinggi, masyarakat Tegal juga terkenal handal di bidang industri logam untuk alat-alat pertanian, onderdil motor dan mobil atau bahkan perhiasan. Semua itu dapat tercipta dari tangan-tangan dingin nan kreatif masyarakatnya.

Lebih dahsyat lagi, semua produk industri tersebut hanya dikerjakan dengan alat dan mesin standar serta bahan baku rongsokan yang dikerjakan di bengkel rumahan.

Maka tak salah jika deretan kantor-kantor besar yang dibangun di wilayah eks Karesidenan Pekalongan--meliputi Brebes, Tegal, Slawi, Pemalang, Kajen, Pekalongan, dan Batang--berpusat di Tegal. Seperti, Kantor pusat Cabang Perbankan, Bank Indonesia (BI), beberapa kantor Pemerintah Provinsi dan Nasional serta berkembangnya pusat perbelanjaan dan tempat hiburan dari tahun ke tahun.  

Dari segi Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) pun, Tegal menjadi daerah dengan UMK tertinggi di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

Padahal, di lihat dari geografisnya, wilayah Tegal tidak begitu luas dan masuk ke dalam lima Kota terkecil di Indonesia. Namun Tegal menjadi pusat perekonomian di pesisir Pantai Utara (Pantura) Barat.

Kendati demikian, julukan Jepangnya Indonesia mulai terancam dengan banyaknya perajin industri logam dan industri otomotif karena mulai gulung tikar. Hal itu tak lepas dari akibat era globalisasi dengan kebijakan perdagangan bebas dalam dua tahun belakangan.

Menurut Ketua Kelompok Usaha Bersama Logam Tegal, Sukamto (50) mengakui, terpuruknya industri logam di Tegal akibat kurang bergairahnya perekonomian global. Selain itu, banyak beredarnya hasil-hasil industri dari luar negeri yang membanjiri pasar domestik membuat produk lokal pun tak mampu bersaing juga jadi faktor lain.

"Bukannya tidak mampu bersaing karena teknologi hasil produksi logamnya, tapi industri lokal di sini tidak mampu mengikuti harga hasil industri dari luar negeri. Ya meskipun kualitas bahan di sini lebih bagus, tapi kalau barang dari luar itu harganya lebih murah dari pada harga lokal," ucap Sukamto belum lama ini.

Akibatnya, dalam dua tahun belakangan ini produk hasil logam lokal pun sulit dipasarkan, lantaran banyaknya barang masuk dari luar negeri dengan harga yang murah.

Untuk itu, pelaku usaha industri logam di Tegal meminta kepada pemerintah setempat untuk memberikan solusi atau mencarikan investor untuk membantu mereka tetap bertahan.

"Harapannya pemerintah berikan solusi atau ya dicarikan investor yang bisa bantu mengembangkan industri logam lokal. Karena sejak setahun belakangan ini kami order hanya sesuai permintaan dan pesanan saja. Karena nggak berani nyetok dulu yang berisiko rugi," dia menambahkan.

Kondisi ini, kata Sukamto, juga diperparah dengan mahalnya bahan baku. Misalnya, harga besi cor yang biasanya dibeli Rp 10 ribu per kilogram naik jadi Rp 15 ribu kilogram. Kemudian Aluminium dan kuningan juga naik 20-30 persen dari harga normalnya.

"Kalau sekarang ini saja kuningan sekarang Rp 50 ribu, semula hanya Rp 40 ribu,” katanya.

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku ini disebabkan karena harga minyak yang tidak stabil. Tentu ini juga turut berperan akan lesunya perajin logam lokal di Tegal.

"Kondisinya sekarang ini, akibat lesunya produksi logam ini, banyak perajin yang menutup usahanya," jelasnya.

1 dari 2 halaman

Gayung Bersambut dari Pemkot

Berangkat dari sejarah itulah Pemerintah Kota Tegal melalui Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno bertekad mengembalikan kejayaan industri logam di Kota Tegal.

"Dengan industri logam kita bertekad mengembalikan Kota Tegal sebagai Jepangnya Idonesia," ucap Siti.

Ia menyebut, akan terus mengembangkan potensi lokal di Kota Tegal melalui kerja sama dengan daerah lain. Misalnya melakukan kerja sama dengan Provinsi Bali untuk memperkuat program pembangunan nasional dengan keunggulan anak bangsa.

Siti menerangkan, Pemkot Tegal telah berkomitmen untuk mengembangkan sentra-sentra industri potensial untuk akselerasi pertumbuhan industri unggulan Kota Tegal seperti industri logam. Pengembangan itu telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tegal tahun 2014 – 2019.

Kata Siti, untuk mendukung iklim investasi di Kota Tegal, dengan kebijakan, regulasi dan payung hukum yang mendukungnya. Diantaranya pelayanan satu pintu secara online melalui Sistem Informasi Manajemen One Stop Service (SIMOSS), penyederhanaan sistem dan prosedur, perizinan pararel yaitu pelayanan beberapa jenis perizinan (Izin Gangguan, IMB, SIUP, TDP) yang dapat diselesaikan secara bersama dalam satu waktu, waktu penyelesaian perizinan tepat waktu dan pemberian keringanan pajak dan retribusi sesuai ketentuan.

Termasuk bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Kota Tegal memberikan kemudahan akses keuangan bagi IKM Logam.

"OJK secara konsisten mendorong perbankan untuk menyalurkan pembiayaan kepada industri logam utamanya kredit dengan skim khusus seperti Kredit usaha Rakyat. Outstanding KUR di Kota Tegal pada akhir tahun 2016 mencapai Rp 454 miliar," ujar Siti.

Tegal punya keunggulan seperti letak geografis, kebijakan pro investasi, kemudahan akses modal kerja, tarif UMK yang bersaing serta komitmen peningkatan quality control. Dengan keunggulan itu, Pemkot Tegal menawarkan kesempatan kerja sama kepada pihak-pihak yang memiliki komitmen untuk turut mengembangkan IKM logam di Tegal melalui proses pembinaan yang didukung dengan kepastian akses pasar.

Aktivitas usaha industri logam yang ada di Kota Tegal terdiri atas industri pengerjaan logam, industri pengecoran logam, serta dok dan galangan kapal.

"Perusahan besar konsumen industri logam diharapkan melibatkan IKM logam Kota Tegal dalam value chain untuk mendapatkan nilai dan keuntungan yang kompetitif. Kemitraan tersebut dapat direalisasikan dengan memberikan quota supply produk sekaligus memberikan pembinaan teknis," jelasnya.

Siti bersama Kepala OJK Tegal, Akhmad Yulius Eka Putra juga sudah meninjau langsung industri logam yang ada Kota Tegal. Peninjauan dilakukan dalam upayanya mengawali langkah Pemkot Tegal bersama OJK Tegal yang berjanji akan membantu mengembangkan industri logam di Kota Tegal dari industri rumahan menjadi industri berskala besar.

"Ini adalah angin segar dari Pemkot Tegal dan OJK Tegal untuk membantu pengembangan industri logam di Kota Tegal, embrionya sudah ada, tinggal pengembangan dengan cara meningkatkan potensi yang ada. Sehingga branding Kota Tegal sebagai Jepangnya Indonesia harus kita hidupkan kembali," kata Siti.

Artikel Selanjutnya
Kota Industri Bisa Jadi Solusi Pemerataan Ekonomi
Artikel Selanjutnya
Ekspor Industri Tekstil Capai US$ 2 Miliar