Sukses

Benarkah Semarang Dirancang Thomas Karsten?

Liputan6.com, Semarang Siapa perancang kota Semarang? Ini pertanyaan sepele, namun bisa jadi jarang dipikirkan banyak warganya, juga Pemerintah Kota Semarang. Sejauh ini kabar ngetop di luaran menyebut bahwa Semarang adalah salah satu hasil rancangan arsitek Thomas Karsten. Benarkah?

Untuk menjawab hal ini, arsitek Wijanarka balik bertanya. Melalui bukunya "Semarang Tempo Dulu ~ Teori Desain Kawasan Bersejarah" WIjanarka mengajukan tiga kemungkinan atas hal ini.

Pertama, Semarang memang dirancang oleh Thomas Karsten. Kedua, Karsten hanya melakukan finishing atas Kota Semarang. Ketiga Karsten merancang bangunan-bangunan yang ada di Semarang.

"Kita lihat sejarah. Karsten lahir 1884. Karsten aktif di Semarang 1914. Namun berdasar peta Semarang tahun 1909 (Semarang en Omstreken), struktur kota sudah dirancang," kata Wijanarka.

Yang dimaksud oleh Wijanarka adalah bahwa dalam peta tersebut ternyata struktur kota di kawasan Candi Baru belum tergambar. Demikian pula wilayah Semarang Timur, Kawasan Jalan Pahlawan, dan sekitar Simpanglima juga belum terbangun. Meski demikian namun sudah digambar.

Thomas Karsten sendiri pada 1909 baru lulus dari TU Delft, artinya Karsten bukan perancang Kota Semarang. Karena pada tahun 1909 itu Kota Semarang sudah dirancang.

Sekarang mari kita lihat peta Semarang tahun 194, kawasan-kawasan Semarang Timur, Jl Pahlawan, Erlangga, dan juga sekitar Simpanglima memang belum digambar. Namun struktur kawasan Candi Baru sudah digambar. Dalam gambar struktur kawasan Candi Baru, arsitektur yang digambar hanyalah rumah dinas eks Walikota, RS Elisabeth dan Sekolah Kartini di depan pasar Kagok.

"Kita bandingkan dengan peta Semarang tahun 1946. Kawasan yang belum dirancang tahun 1909, sudah masuk rancangan pada tahun 1946. Kawasan Candi Baru sudah digambar strukturnya dan arsitekturnya," kata Wijianarka.

Untuk kawasan Timur (Halmahera), sekitar RS Telogorejo, Taman KB, dan kawasan Erlangga juga sudah digambar strukturnya. Namun gambar tersebut masih berupa garis putus-putus.

"Artinya, kawasan itu baru merupakan rencana. Artinya, kawasan itu belum dibangun," kata Wijianarka.

Kawasan yang sekarang merupakan kawasan Kecamatan Semarang Timur yang sudah digambar adalah pemukiman sewa Mlaten. Pemukiman ini dibangun pada 1924, dirancang oleh Thomas Karsten. Dalam peta 1946 itu pula ada gambar struktur segitiga Jl.Sultan Agung - Jl. Sisingamangaraja - Jl. Dr Wahidin. Gambar struktur segitiga itu juga digambar dengan garis putus-putus.

Dalam buku Architectuur & Stedebouw In Indonesie 1870/1970 (Arsitektur & Kota di Indonesia 1870/1970) gubahan Huib Akihari tidak menyebutkan siapa yang merancang kawasan-kawasan tersebut. Padahal dalam buku itu berisi data arsitek dan karyanya, baik karya arsitektur maupun karya kawasan.

Namun Huib menulis bahwa RS Elisabeth (1926), Taman Diponegoro (1928), Rumah Dinas Ex Wali Kota (1929) dan Pasar Jatingaleh (1930) serta kawasan Nieuw Tjandi adalah karya Thomas Karsten.

Dalam buku itu, Huib menunjukkan keragu-raguannya. Di halaman 65 buku itu Huib menyebut Candi Baru sebagai karya Karsten, Namun di halaman 115-120, tidak menuliskan struktur kawasan Candi baru sebagai karya Karsten. Di buku karya Huib ini malah disebutkan bahwa karya urban design dari Thomas Karsten hanyalah pemukiman Sewa Mlaten.

Yang pasti ada penegasan bahwa Thomas Karsten hanyalah membuat finishing beberapa bangunan di kawasan Candi Baru, namun tidak merancang kawasan Candi Baru. Siapa perancangnya?

1 dari 2 halaman

Sumbu Bojong

Jika kita membandingkan peta Semarang tahun 1995, 1719, 1741, 1800, 1811, 1813, 1825, 1866, 1892, 1909, 1941, dan 1946, ada sebuah konsistensi di sana. Yakni adanya Sumbu Bojong. Hingga kini juga tak diketahui kapan sumbu Bojong tersebut dirancang. Namun jika mengacu pada peta Semarang tahun 1741, sumbu tersebut belum digambar. Bandingkan dengan peta 1800, di mana sumbu ini sudah digambar, yang berarti sudah dirancang.

"Berarti sumbu Bojong dirancang antara tahun 1741 hingga tahun 1800. Pertanyaan berikutnya, mengapa sumbu Bojong? Mengapa tidak embrio kota (alun-alun), Litle Netherland, atau pecinan?" tulis Wijianarka dalam bukunya.

Dijelaskan pula bahwa sumbu Bojong ini ternyata mempengaruhi struktur kota Semarang secara menyeluruh. Dengan adanya sumbu Bojong ini, ternyata citra struktur Kota Semarang secara umum mirip sumbu Bojong.

Hingga kini belum diketahui siapa yang merancang sumbu Bojong. Meski demikian, para peminat sejarah kota setidaknya telah memengetahui petunjuk-petunjuk identitasnya. Petunjuk tersebut, hidup diantara tahun 1741 hingga 1800.

Perancang itu juga terpengaruh teori desain renaisance. Dan petunjuk identitas terakhir adalah karyanya terpengaruh konsep trivium yang terdapat dalam rancangan Villa Montalto Roma.

"Dengan petunjuk itu, semoga dapat bermanfaat untuk menemukan siapa perancang Kota Semarang yang sesungguhnya," kata Wijianarka.

 

Artikel Selanjutnya
Badai Pasir Ungkap Situs Kota Kuno Islam dari Abad Pertengahan
Artikel Selanjutnya
Menjelajahi Jejak Portugis di Gereja Tugu