Sukses

Orangutan Endemik Kalimantan Kian Sulit Ditemui

Liputan6.com, Kutai Timur - Beberapa waktu lalu, masyarakat dikejutkan dengan pembantaian orangutan. Usai dibunuh, tubuh orangutan itu dimasak lalu dikonsumsi. Sejumlah pihak mengecam aksi keji tersebut hingga polisi menangkap para pelakunya.

Konflik orangutan dengan manusia bakĀ fenomena gunung es, di mana hanya puncaknya saja yang terlihat. HalĀ itu juga diakui tim Rescue Centre for Orangutan Protection (COP), Ramadani.

Ramadani mengungkapkan, praktik pembantaian orangutan kian meningkat setiap tahunnya. Dalam catatan pihaknya, terdapat 11 kasus konflik antara masyarakat dan orangutan sepanjang 2016.

"Cenderungnya makin meningkat konfliknya, dari pembunuhan hingga penangkapan orangutan," kata Ramadani, Kamis, 2 Maret 2017.

Tak cuma soal konflik dengan manusia, Ramadani menambahkan, habitat alam orangutan juga semakin terdesak keberadaan perusahaan kelapa sawit, pertambangan, HPH hingga pemukiman warga.

Dengan kondisi demikian, para orangutan akhirnya mencari makanan di sekitar permukiman masyarakat yang justru membahayakan orangutan itu sendiri.

Ramadani mengatakan, masyarakat cenderung melukai satwa primata tersebut ketika berada di permukiman. Dia mengeluhkan, minimnya pengetahuan masyarakat saat mendapati keberadaan orangutan di permukiman.

"Mereka tidak tahu mau diapakan. Masyarakat tidak tahu fungsinya dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang harus dilapori soal keberadaan satwa dilindungi ini," ujar dia.

1 dari 2 halaman

Orangutan Kian Sulit Ditemui

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa mengatakan satwa orangutan masuk kategori sangat terancam punah. Hasil riset Badan International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan keberadaan orangutan yang terdesak aktivitas manusia.

"Sesuai data IUCN sudah sangat terancam punah saat ini," ujar Sunandar.

Sunandar menyebut, kajian sejumlah badan konservasi soal populasi orangutan Kalimantan saat ini menyebut 50 ribu individu orangutan. Namun, dia meragukan akurasi pendataan populasi orangutan tersebut mengingat keberadaanya sulit dijumpai manusia.

"Orangutan sangat sulit ditemui. Survei jumlah populasi orangutan ini hanya berdasarkan sarangnya yang berhasil ditemui di pohon-pohon," paparnya.

Sunandar pun meminta seluruh pihak menjaga kelestarian hutan-hutan di Kalimantan. Pemprov Kaltim, kata dia, sudah berinisiatif membentuk Tim Satuan Tugas Bahaya Kebakaran di masing-masing perusahaan perkebunan dan HPH setempat.

Sebab, kebakaran hutan kian mengancam kelestarian dan eksistensi orangutan yang sudah sangat terancam punah itu. "Kebakaran menjadi ancaman utama populasi orangutan. Saat ini, sudah terbentuk 50 regu Satgas Kebakaran di seluruh wilayah Kaltim," tegasnya.

Sejumlah pihak di Kalimantan memang konsen terhadap orangutan. Keberadaannya yang makin terkikis kian menambah miris.

Selain habitatnya yang semakin ludes dibabat, eksistensi orangutan juga semakin terancam oleh manusia. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya konflik orangutan dengan manusia.

Konflik terakhir yang menjadi sorotan ketika sejumlah orang diduga membantai seekor orangutan beberapa waktu lalu. Orangutan itu dibunuh di areal perkebunan kelapa sawit di Desa Tumbang Puroh, Kecamatan Sei Hanyu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Usai dibunuh, tubuhnya kemudian dimasak dan dikonsumsi.

Di sisi lain pembantaian orangutan yang menjerat tiga pegawai perusahaan sawit sebagai tersangka itu membuktikan konflik antara manusia dan orangutan di wilayah perkebunan kelapa sawit masih sering terjadi.

Artikel Selanjutnya
Elang-Elang Jawa Langka Kawasan Merapi
Artikel Selanjutnya
Nasib Harimau Sumatera dalam Ancaman Jerat