Sukses

Sisi Penuh Kasih Bidan 'Jagal' Sorong Papua

Liputan6.com, Jayapura - Rumah tinggal Maria Bota, bidan yang diduga membuka praktik aborsi ilegal di kediamannya sendiri, ternyata juga dipenuhi oleh anak asuhnya. Ada sekitar 10-12 orang anak yang berada di rumah itu. Umur anak asuh Suster Merry, panggilan akrab Maria, mulai dari 8 bulan hingga ada yang berusia dewasa ataupun kuliah.

"Paling kecil yang saat ini kami rawat adalah si kembar, berumur 8 bulan. Ada juga yang berumur 3 tahun, 4 tahun, bahkan hingga yang sudah bekerja. Kami baku rawat dan baku jaga bersama adik-adik lainnya," kata salah satu anak angkat Suster Merry, Yan Marius Fatie, lelaki dewasa berusia sekitar 30-an tahun kepada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Yan tak pernah mengetahui bahwa bidan yang disebutnya mama itu membuka praktik aborsi di rumahnya sendiri. Namun, Yan bersama dengan adik-adik asuhnya selalu diminta oleh sang mama untuk tidak turun ke lantai satu karena banyak perempuan yang ingin melahirkan.

"Kami memang tinggal di ruangan terpisah. Kami makan dan tidur serta aktivitas lainnya dilakukan di lantai dua. Sementara mama pu (punya) tempat kerja ada di lantai satu, sehingga kami tak mengetahui aktivitas mama," ucap dia.

Informasi yang didapat Liputan6.com di Sorong, akses untuk ke lantai dua di rumah itu dibuat tangga tersendiri di luar rumah, terpisah dengan tangga di dalam rumah. Jika ada yang ingin turun naik dari lantai dua, tak lagi melewati tempat praktik bersalin tersebut.

Meski begitu, Yan dan adik-adik yang lainnya selalu bertanya-tanya jika mama mereka kembali menerima bayi baru yang harus dirawat. Tak hanya bayi dari suku Papua, tapi ada juga dari Manado, Jawa, dan berbagai suku lainnya yang meninggalkan bayi di rumah Suster Merry.

"Ada saja bayi baru di rumah. Kami selalu menanyakan kepada mama, kenapa ada bayi baru hari ini yang harus kami rawat. Lalu kenapa ada lagi bayi yang baru lahir esoknya lagi dan harus kami rawat kembali, begitu saja seterusnya. Namun, mama hanya menjelaskan kepada kami bahwa ini adalah titipan Tuhan dan mama hanya membantu orang lain," kata Yan.

Meski terkadang mengeluh, Yan mengakui kebaikan ibu angkatnya. Sebab, sang mama selalu menyekolahkan anak-anak angkatnya itu hingga kuliah dan mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya menikah.  

Yan, misalnya, dikuliahkan Suster Merry di salah satu perguruan tinggi di Bandung, hingga akhirnya dia menikah dan bekerja.

Lalu, jika ada seorang ibu hamil dan akan melahirkan, tetapi tak memiliki uang, Suster Merry hanya berpesan kepada orangtua bayi tersebut. Jika bayi itu laki-laki harus diberi nama sesuai dengan nama sang suami. Namun, jika bayi itu adalah perempuan, nama yang diberikan haruslah sesuai dengan nama dirinya.

Tak sedikit pula, para ibu hamil yang tinggal di dalam rumah bidan itu sampai akhirnya melahirkan dan tak mau membawa sang bayi. Akhirnya, Suster Merry harus merawat sang bayi hingga dewasa.

"Beberapa kali ada seorang ibu atau anak muda yang minta digugurkan kandungannya, tetapi karena mama tidak mau, maka mama anjurkan orang hamil itu untuk tinggal di dalam rumah sampai melahirkan. Tetapi banyak juga seorang ibu hamil yang sudah ditolong oleh mama dalam proses melahirkan, langsung meninggalkan bayinya begitu saja di rumah," kata Yan.

1 dari 2 halaman

Dipaksa Aborsi Ibu Hamil

Suster Merry tak pernah lelah menghadapi para ibu hamil yang ingin membuang anaknya sendiri. Menurut Yan, tak terhitung lagi anak asuh Suster Merry yang sudah hidup berkeluarga, termasuk dirinya. Bahkan, Yan pernah menawarkan Suster Merry agar membuka panti asuhan.  

Maka itu, ia kaget atas tuduhan aborsi ilegal kepada Bidan Maria. Di hadapan Yan, Suster Merry mengaku terpaksa melakukan itu karena dimintai tolong atau didesak para ibu hamil yang ingin menggugurkan janinnya.

Seingat Yan, Suster Merry menolong orang yang ingin menggugurkan kandungannya, dengan perjanjian bahwa Suster Merry hanya menolong dan dosanya tetap dikembalikan kepada  orang tersebut yang ingin menggugurkan bayinya.

"Bahkan pernah ada perempuan muda yang saya usir dari rumah ini, karena terlalu paksa mama untuk mengeluarkan janinnya. Padahal mama sudah tidak mau. Si perempuan itu justru tantang mama ingin dibayar berapa. Saya sedih sekali mama diperlakukan seperti itu, makanya saya usir dia," kata Yan.

Yan bercerita sang mama bersama ayah angkatnya datang ke Kota Sorong sejak 1987 dan tak memiliki pekerjaan. Hingga akhirnya, Suster Merry mendapatkan pekerjaan sebagai suster di Kota Sorong.

Suster Merry cukup dikenal sebagai sosok sosial di sekitar rumahnya. Ia juga murah senyum, sering menyapa dan membantu orang lain yang mendapat kesusahan dan tak pernah menutup diri. Saat ini Suster Merry hanya tinggal bersama anak asuhnya, selepas sang suami meninggal pada 2004 dan anak perempuan tunggalnya tinggal di Jakarta.

"Semua media menyebutkan mama pelaku aborsi dan tinggal di rumah angker. Tetapi kami yang dibesarkan di rumah ini membantah hal itu. Ini rumah yang nyaman bagi kami dan mama selalu mengajarkan berdoa dan bersyukur. Mama itu orang yang kuat dalam berdoa dan memuji Tuhan. Bahkan, mama memiliki ruang doa sendiri," ucap Yan.

Menurut Yan, Suster Merry membuka praktek klinik bersalin pada 1999 dan ada surat izin resmi untuk praktik itu. Namun, terkait surat izin yang sudah tak berlaku lagi, Yan juga tak mengetahuinya.

"Saya minta kepada polisi untuk melihat sisi baik mama juga untuk proses hukumnya. Ini memang ranah polisi untuk menjerat mama, tetapi tak selamanya mama juga melakukan hal itu karena kemauannya sendiri. Saya juga minta polisi untuk melihat praktek-praktek aborsi lain yang belum terungkap," ucap Yan.

Artikel Selanjutnya
Pengakuan Pembunuh Bayaran yang Disewa Istri untuk Bunuh Suami
Artikel Selanjutnya
Tembusnya Ilmu Kebal Korban Pembunuh Bayaran Orderan Istri