Sukses

Kuburan Kelilingi Rumah Megah Bidan Jagal di Sorong

Liputan6.com, Jayapura - Rumah pribadi Bidan Maria Bota, pelaku dugaan aborsi di Sorong berdiri kokoh di atas lahan kuburan di kawasan Kompleks Rumah Sakit Mutiara Kota Sorong atau tepat di samping Kompleks Taman Makam Pahlawan Kota Sorong.

Suasana mencekam dan horor menyelimuti rumah berlantai dua permanen itu. Rumah yang berdiri di atas tanah 100 x 25 meter memiliki 20-an kamar tidur. Empat kamar tidur berada di lantai satu, tempat biasa Bidan Maria melayani praktik aborsi kepada pasiennya. Sementara, kamar sisanya berada di lantai dua.

"Merinding juga masuk ke rumah itu. Rumahnya terkesan gelap dan horor lah," kata salah satu penyidik Polres Sorong yang ikut dalam penggeledahan rumah yang dikenal sebagai Klinik Aborsi Bidan Maria, Minggu, 26 Februari 2017.

Lorong-lorong di rumah itu juga nampak gelap. Kamar yang berjejer bersebelahan di lantai satu biasanya digunakan untuk istirahat atau pemulihan para pasiennya usai aborsi.

"Izin klinik bersalin sang bidan sudah ada sejak 1980-an. Klinik ini terselubung," kata Kapolres Sorong Kota AKBP Edfrie R. Maith.

Salah satu warga, Stefanus Kareth yang rumahnya tak jauh dari rumah itu menyebutkan letak rumah Bidan Maria menyendiri, terpisah dari kompleks perumahan di sekitar Rumah Sakit Mutiara. Di samping kanan dan kiri rumah tersebut hanya kebun kosong.

"Lorong ke lokasi rumahnya juga menyendiri. Jalan ke lokasi rumah bisa juga dimasuki oleh sebuah mobil. Walaupun nampak angker, si suster memang tinggal di rumah itu," tutur Stefanus yang mengaku bahwa Bidan Maria adalah orang yang sopan dan selalu menyapa orang lain.  

Dalam penyelidikan, polisi yang bekerja sama dengan salah satu dokter rumah sakit setempat menyebutkan Bidan Maria sengaja mengeluarkan janin secara paksa atau abortus. Bukti ini ditemukan pada beberapa potongan daging yang diduga sebagai janin bayi.

"Saat penggeledahan di rumah Bidan Maria, ditemukan beberapa potongan daging dan saat pemeriksaan bahwa potongan janin itu berapa kaki dan tangan bayi yang baru saja diaborsi, serta ada juga tulang belakang dan plasenta. Daging lainnya sudah tercabik-cabik dan tak bisa diidentifikasi," tutur Edfrie.

1 dari 2 halaman

Tarif Aborsi

Rumah Bidan Maria dikenal warga setempat untuk klinik bersalin. Namun, tak ada plang ataupun tulisan di sekitar rumah Bidan Maria yang menyatakan rumah itu sebagai klinik bersalin.

Namun, sejumlah warga mengaku sering melihat gadis-gadis belia pulang dan pergi di rumah itu. "Usia para gadis itu di bawah 20 tahun. Kami curiga memang rumah tersebut tempat untuk aborsi. Tapi kami kan tidak pernah ada bukti," ujar Stefanus lagi.

Informasi yang beredar di masyarakat, Bidan Maria mematok tarif aborsi beragam bagi pasiennya. Jika umur janin 1-3 bulan dihargai Rp 7 juta, lalu di atas 5-7 bulan bisa mencapai Rp 12 juta.

"Tidak ada tarif yang di atas Rp 3 juta. Saya pernah melakukan aborsi di rumah itu waktu janin kandungan saya 1 bulan dan dikenakan biaya Rp 3 juta," kata salah satu ibu yang pernah melakukan aborsi 2005 lalu.

Dalam penyelidikan polisi, janin-janin sang jabang bayi hasil aborsi Bidan Maria ada yang dikubur secara baik. Namun, tak jarang sang bidan membuang janin itu sembarangan.

"Penuturan si bidan ini bahwa kadang-kadang dia juga membuang janin di tong sampah atau sembarang tempat. Ini keterlaluan," ucap Edfrie.

Polisi juga masih menyelidiki apakah saat melakukan praktek aborsi tersebut, sang bidan dibantu oleh orang lain. Saat penggeledahan rumah itu, polisi juga menemukan pacul. Namun menurut pengakuan sang bidan, pacul itu biasa digunakan untuk berkebun.

"Tempat praktek bidan itu kan juga rumah tinggal si bidan. Ada kemungkinan juga seisi dalam rumah itu mengetahui kegiatan si bidan. Tapi kami terus menyelidiki kasus ini dan keterlibatan orang lain," ujar Edfrie.