Sukses

Lestarikan Budaya Dayak, Roy Marten Mengamen di Jalanan 16 Tahun

Liputan6.com, Palangka Raya - Siapa yang tak kenal bintang film Roy Marten? Artis papan atas era 1980-an yang sangat populer pada zamannya. Namun Roy Marten yang satu ini bukan artis kondang itu. Nama boleh sama, namun garis tangan jauh berbeda.

Roy Marten di Kalimantan ini seorang pengamen jalanan yang hidup dari recehan pengguna jalan di jalur Trans Kalimantan. Sudah 16 tahun dia mengamen di sini.

Di usia yang sudah tak muda lagi sekitar 55 tahun, pria Suku Dayak yang mengaku bertempat tinggal di Desa Bereng, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng ini berpenampilan layaknya  seniman.

Menggunakan baju dari bahan kain yang sudah mulai lusuh, dilengkapi sepatu sport usang, bermodalkan kecapi Dayak, menemani tampilannya selama hampir 16 tahun. Atribut itu setiap hari selalu setia menempel di tubuh Roy Marten untuk mengais rezeki kepada pengguna jalan.

Kebetulan hari ini dia mampir di rumah makan Anni, salah satu rumah makan yang terdapat di rest area jalur Trans Kalimantan, Kabupaten Pulang Pisau, Selasa (14/2/2017).

Saat bernyanyi, mungkin banyak orang yang tak akan tahu artinya saat ia membawakan lagu-lagunya dengan menggunakan kecapi. Semua lirik dalam lagu yang dinyanyikan menggunakan Bahasa Dayak Ngaju, bahasa yang digunakan oleh masyarakat sepanjang Sungai Kapuas, Kalteng.

"Saya membawakan lagu dalam bahasa Dayak (Krungut). Isi lirik biasanya bercerita tentang cinta kasih, kehidupan sehari, termasuk menjaga lingkungan," ujarnya berusaha menjelaskan.

Saat ini kesenian Krungut sudah jarang dinyanyikan, apalagi dilombakan. Kondisi ini membuat Krungut tak lagi dikenal oleh para anak muda, khususnya di Kalsel. Tentu hal itu membuat miris, karena semakin waktu berjalan, Krungut semakin ditinggalkan.

"Karena itu, inilah salah satu usaha saya untuk ikut melestarikanya, selain juga bisa menambah biaya dapur agar tetap ngebul," ujarnya terkekeh.

Pria yang mengaku memiliki lima anak dan tujuh cucu itu mengaku hasil yang diperolehnya tak seberapa dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun hal itu tak terlalu merisaukannya, sebab semua anaknya kini sudah hidup mandiri.

"Saya sudah puas dengan hasil yang ada, tapi yang lebih penting saya bisa turut melestarikan kesenian Krungut yang saat ini sudah mulai pudar," ujar Roy Marten.

Artikel Selanjutnya
Mampir Ngopi Sebelum Jelajah Gua Sunyaragi
Artikel Selanjutnya
'Ngapungkeun Balon' Cara Unik Warga Garut Meriahkan Lebaran