Sukses

Sambut Cap Go Meh, Naga Buka Mata hingga Pemuda Asah Pedang

Liputan6.com, Pontianak - Menjelang puncak perayaan Cap Go Meh 2017, belasan naga akan mengepung Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Tentunya bukan naga sungguhan, tetapi sebatas replikanya saja.

Belasan replika hewan mitologi itu tengah disiapkan untuk prosesi ritual 'Naga Buka Mata' di Kelenteng Kwan Tie Bio, Jalan Diponegoro, Pontianak untuk mengawali perayaan Cap Go Meh 2017.  Setelah itu, belasan replika naga tersebut diarak keliling kawasan pecinan Pontianak, Sabtu, 11 Februari 2017.

"Ada belasan replika naga dari berbagai yayasan pemadam kebakaran di Pontianak, yang melakukan ritual naga buka mata, yang didoakan oleh seorang dukun, dengan ditandai warna merah di bagian mata tersebut," kata Ketua Panitia Cap Go Meh 2017, Abi Hasni Tahir di Pontianak seperti dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, satu per satu replika naga secara bergiliran masuk ke Kelenteng Kwan Tie Bio Pontianak atau yang dikenal dengan Kelenteng Dewa Perang oleh masyarakat Tionghoa Pontianak. Naga-naga itu masuk ke kelenteng untuk dilakukan ritual 'naga buka mata' oleh seorang suhu atau dukun yang sudah kemasukan roh para dewa dari kayangan.

Nantinya, naga-naga itu akan keliling dari satu pintu ke pintu lain rumah warga. Naga-naga itu akan mengusir roh jahat yang bersemayam di rumah warga tersebut.

"Bagi replika naga yang sudah menjalani ritual naga buka mata, maka langsung mendatangi rumah-rumah warga Tionghoa dalam mengusir roh-roh jahat," ungkap dia.

Adapun ritual naga buka mata dimaksudkan agar naga memberikan keajaiban untuk mengundang naga turun dari kayangan untuk memberikan berkah, dalam membantu masyarakat Kalbar, terhindar dari malapetaka, sehingga diberikan keselamatan dan kebaikan di dunia.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa, ritual buka mata berawal dari cerita dahulu kala di kalangan masyarakat Tionghoa bahwa ada naga yang pernah berkelahi dengan seorang manusia dan terkena panah di bagian mata. Beruntung, ada biksu yang mengobati dengan berbagai mantra sehingga mata naga dapat sembuh kembali.

"Kemudian, setiap naga yang melakukan ritual buka mata, pada hari ke-16 Imlek harus dibakar agar tidak membahayakan keselamatan para pemain naga tersebut," kata Abi.

Bagi replika naga yang telah menjalani ritual naga buka mata, pada hari ke-16 Imlek, atau pada Minggu, 12 Februari 2017, juga harus menjalani ritual naga tutup mata di Kelenteng Kwan Tie Bio kemudian dilanjutkan kembali dengan menjalani ritual bakar naga di Kompleks Pemakaman YBS, Sungai Raya kilometer 8, Kabupaten Kubu Raya.

Menurut Abi, rute arak-arakan naga pada puncak Cap Go Meh 2017 di Pontianak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni di kawasan Jalan Gajah Mada dan Tanjungpura Pontianak.

Sementara itu, Abi menambahkan berbagai acara perayaan Cap Go Meh, mulai dari penyelenggaraan Pekan Kuliner dan arakan replika naga diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara ke Kota Pontianak, dan Kalbar pada umumnya.

Menurut dia, berbagai kegiatan kebudayaan pada perayaan Cap Go Meh di Pontianak merupakan kegiatan tahunan Pemkot Pontianak dan semua masyarakat guna meningkatkan potensi wisata Pontianak.

"Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya tingkat hunian hotel-hotel di Pontianak hingga mencapai 100 persen dibanding seminggu sebelumnya," ungkapnya.

Menurut dia, inti dari perayaan Cap Go Meh tahun ini, yakni 'dari kita untuk semua masyarakat'. Pihaknya berharap perayaan ini menjadi pilar keharmonisan budaya di Kota Pontianak dan Kalbar secara umum.

"Besar harapan kami agar berjalan sukses dan lancar," kata dia.


1 dari 2 halaman

Belasan Pemuda di Manado Asah Pedang

Sementara di Manado, Sulawesi Utara, sejumlah pemuda melakukan ritual asah pedang dan tombak menjelang Cap Go Meh. Upacara asah pedang dan golok itu dilakukan di Kelenteng Kwan Kong, kawasan Kampung Cina Kecamatan Wenang, Manado.

Beberapa lelaki berpakaian putih nampak serius mengasah pedang dan tombak yang nantinya akan digunakan pada upacara puncak Cap Go Meh oleh Tang Shin. Yang disebut terakhir ini adalah badan kasar yang menjadi wadah kehadiran Roh Suci.

"Ritual ini untuk membersihkan peralatan yang digunakan saat Cap Go Meh, pedang dan tombak sebanyak 1 set berukuran besar dan kecil dibersihkan dan diasah agar nantinya bisa digunakan,” sebut Wakil Ketua Bidang Rohaniawan Kelenteng Kwan Kong, Johan Rawung.

Setelah pedang dan tombak diasah dan dibersihkan dengan air, peralatan itu didoakan di depan altar Dewa Kwan Kong. Pendoa kemudian akan bertanya kepada Roh Suci apakah benda-benda itu sudah bisa dipakai lewat sepasang batu bernama Popoe.

Batu berwana cokelat itu kemudian dilempar ke tanah untuk mengetahui jawaban Sang Roh Suci. Di mana jawabannya cuma ya dan tidak.

"Kalau kedua batu posisinya terbuka berarti tidak, dan peralatan harus diasah lagi. Kalau batu yang satu terbuka dan satunya lagi tertelungkup berarti peralatan sudah siap, bisa digunakan," ujar Johan.

Dia mengatakan, ritual mengasah pedang dilaksanakan berdasar prosesi khas Taoisme. Hal itu dilaksanakan pada 13 bulan pertama atau dua hari menjelang Cap Go Meh. Setelah diasah dan dibersihkan serta disetujui Roh Suci, peralatan disimpan kembali.