Sukses

5 Kisah Getir Hewan-Hewan di Bawah Naungan Kebun Binatang

Liputan6.com, Jakarta - Kebun binatang selalu menjadi salah satu lokasi wisata menarik bagi sebagian banyak orang. Khususnya bagi yang sudah berkeluarga, menghabiskan waktu bersama di kebun binatang menjadi agenda mengasyikkan.

Namun, kebun binatang tak melulu bercerita tentang kebahagian. Di balik tawa pengunjung, tak jarang ada kisah getir yang dialami beberapa hewan yang semestinya dirawat para pengelola kebun binatang.

Kisah terbaru yang menghentak nurani adalah video beruang kurus di Kebun Binatang Bandung yang menjadi viral hingga disorot dunia. Dalam video itu, beruang yang tulang-tulang rusuknya terlihat menonjol itu memakan kotorannya sendiri.

Beruang madu itu tak sendiri. Sejumlah hewan lainjuga memiliki kisah getirnya sendiri. Berikut sejumlah hewan yang menderita di beberapa kebun binatang di Indonesia.

1 dari 6 halaman

Beruang Kurus Makan Kotoran Sendiri

Kebun Binatang (bonbin) Bandung kembali menjadi sorotan khalayak luas. Jika pada Mei 2016 lalu terpicu insiden kematian gajah Yani, kali ini soal beruang yang kondisinya memprihatinkan.

Belakangan ini beredar rekaman video yang menunjukkan beruang madu yang berdiri mengais meminta makanan dari dalam kandang. Salah satu beruang tampak memprihatinkan, tulang rusuknya menonjol.

Selain itu muncul petisi selamatkan Bonbin Bandung yang dikeluarkan oleh change.org. Hingga saat ini telah ada 25.142 dukungan terkait petisi tersebut.

Kepala Humas Yayasan Margasatwa Tamansari selaku pengelola Kebun Binatang Bandung, Sudaryo, membantah pihaknya tidak memberikan perawatan yang baik kepada para satwanya, termasuk beruang kurus tersebut.

Kondisi kesehatan para hewan juga selalu dipantau setelah mempunyai tim dokter dan dipastikan seluruh hewan dalam keadaan sehat. Dia menolak tudingan pihaknya menelantarkan beruang madu tersebut.

"Seperti yang Anda lihat sekarang kan, sehat-sehat saja, enggak ada apa-apa. Pendapat orang kurus dan sebagainya, memangnya kalau kurus itu berarti tidak sehat? Kurang makan? Kan tidak. Atau sebaliknya, gemuk belum tentu sehat," kata Sudaryo saat ditemui di Kebun Binatang Bandung, Rabu (18/1/2017).

"Yang penting, kami memelihara satwa-satwa itu harus sehat dan kita lakukan, makanya kesehatannya oleh dokter juga diperiksa."

Sudaryo mengatakan kebutuhan makan para hewan di kebun binatang itu dipenuhi lebih dari cukup setiap hari. Namun, jadwal pemberian makan berbeda masing-masing hewan.

"Kalau makan pasti rutin tiap hari. Beda-beda, satwa itu ada yang pagi-pagi, ada yang cukup siang hari, ada yang cukup siang-sore. Contoh orangutan, pagi-pagi itu dikasih susu sama roti, jam 11 dikasih telur rebus, jam 4 sore kita kasih jus. Harus sehat, harus cukup," ujar dia.

 

2 dari 6 halaman

Gajah Yani Terlantar Sampai Mati

Nyawa gajah berumur 34 tahun koleksi Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat, yang bernama Yani, tak tertolong lantaran sakit yang dideritanya sejak Selasa 3 Mei 2016 lalu. Gajah betina itu tak bernyawa sore tadi sekitar pukul 18.36 WIB.

Menurut Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Sylvana Ratina, pihaknya belum mengetahui penyebab kematian Yani. Namun sejak siang tadi, petugas sempat menangani gajah sumatera tersebut.

"Iya, saya dapat informasi dari dokter hewan. Penyebabnya belum kita ketahui, enggak tahu malam ini atau besok dilakukan autopsi. Sakit sejak tanggal 3 Mei kata pihak kebun binatang, tadi sempat dilakukan penanganan," kata Sylvana.

Sylvana menjelaskan, Kebun Binatang Taman Sari Kota Bandung saat ini memang tak memiliki dokter hewan. Namun, pengelola melaporkan kepadanya akan berencana menyewa dokter hewan.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi respon soal Gajah Yani. Ridwan mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kebun Binatang Bandung melalui akun Instagram pribadinya. Dia pun mengajak followers-nya untuk memboikot Kebung Binatang dengan hashtag #BoikotBonbinBDG.

Akibat kondisi Kebun Binatang yang dianggap kurang diperhatikan itu, seekor gajah sumatera bernama Yani tewas Rabu 11 Mei 2016 kemarin sore. Ridwan Kamil pun sempat menengok Yani ketika dalam kondisi sekarat.

"Karena ini kebun binatang pribadi, saya akan pelajari dan cari upaya hukum, sementara itu ayo lawan dengan #BoikotBonbinBDG," kata Ridwan Kamil dalam posting-an di Instagram, Rabu malam 11 Mei 2016.

Sebelumnya masyarakat Kota Bandung pun kini membuat petisi Save Bandung Zoo. Melalui website change.org, mereka berharap petisi bisa mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk lebih memperhatikan kondisi Kebun Binatang Bandung.

Ridwan Kamil juga mendukung dengan dibuatnya petisi tersebut. Hingga saat ini petisi tersebut telah mencapai 8.808.

"Intinya masukan dari warga baik dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk petisi saya kira harus diperhatikan serius oleh pengelola kebun binatang,"kata wali kota.

Kalau memang ada ketidaksanggupan dari sisi anggaran, kata Ridwan Kamil, pengelola sebaiknya membuka diri saja terhadap bantuan dan investasi dari luar.

"Kan yang ingin kita hadirkan adalah tempat yang baik tidak hanya bagi pengunjung juga buat binatangnya," kata dia.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar berbelasungkawa atas kematian Gajah Yani.

"Semua mahluk bernyawa pasti mati, jadi tidak ada yang aneh apa sebab kematiannya juga beragam. Penyebabnya ini bisa berkonsekuensi dosa atau hukuman, tapi hal itu dapat disidik," kata Deddy Mizwar, di Bandung, Kamis (12/5/2016).

Pihaknya berharap Yayasan Taman Margasatwa Tamansari selaku pengelola Kebun Binatang Bandung bisa segera menambahkan koleksi gajahnya usai matinya salah satu dari empat koleksi gajah di tempat tersebut.

"Tapi mungkin akan lebih penting mengganti posisi gajah Yani dengan gajah lain sehingga fungsi Bonbin Bandung berjalan kembali dengan lebih baik sebagai salah satu upaya melayani kebutuhan masyarakat," kata dia.

Gajah Sumatera bernama Yani, yang menjadi salah satu satwa penghuni Kebun Binatang Bandung dinyatakan mati setelah kondisinya sempat kritis.

Gajah berusia 34 tahun itu lumpuh, terbaring di jerami serta terlindung terpal berwarna biru selama satu pekan lebih serta dinyatakan mati pada Rabu sekitar pukul 18.00 WIB di Kebun Binatang Bandung.

3 dari 6 halaman

Uang Makan Harimau Sumatera Disunat

Seorang petugas Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta ditangkap petugas karena mengambil uang makan jatah seekor Harimau Sumatera. Pelaku bernama Sag (37) warga Imogiri, Bantul ini petugas bagian nutrisi makanan hewan di Gembiraloka.

Panit Reskrim Polsek Kotagede Edy Subhekti mengatakan pelaku awalnya mengajukan anggaran makan harimau ke bagian anggaran ke Gembiraloka. Harimau sendiri dijatah makan seminggu dua kali yaitu hari Rabu dan Minggu.

Setiap waktu makan menu yang disantap harimau adalah daging sapi, kambing, juga ayam sebanyak 17 kg. Namun pelaku tidak memberikan jatah daging harimau di hari Rabu.

"Jatah makan hari Rabu itu macam-macam daging kambing, sapi, ayam tapi hari Rabu daging kambing 17 kg tidak dibelikan," kata Edhy di Yogyakarta, Rabu (27/4/2016).

Edy mengatakan pihak Gembiraloka mengetahui ada keganjilan dari harimau di Gembiraloka yang lebih kurus dari pawang Harimau. Selain itu terlihat harimau juga selalu lapar.

Setelah melaporkan itu akhirnya pihak Kebun Binatang Gembiraloka melaporkan ke polisi dan menangkap pelaku pada Sabtu 23 April lalu. "Pelaku ketahuan mengambil uang makan harimau. Ketahuan karena pawang melihat dagingnya sedikit dan harimau selalu kelaparan," ujar Edhy.

Edy mengatakan dari aksi korupsi uang makan harimau ini pelaku seminggu bisa mengantongi uang sekitar Rp 3 juta. Pelaku melakukan penggelapan uang sejak bulan April 2015 dan baru ketahuan di tahun 2016. Dari uang yang digelapkannya itu ia gunakan untuk membeli mobil dan dua sepeda motor.

"Setelah ketahuan mobil dijual lagi uangnya untuk bayar hutang dan untuk beli dua buah motor dan juga untuk kebutuhan sehari," ujarnya.

Edy mengatakan pelaku dikenakan dua pasal yaitu Pasal 372 dan 378 dengan ancaman kurungan 4 tahun. Saat ini pelaku masih diamankan di Polsek Kotagede.

Sag mengaku menggelapkan uang makan harimau karena kebutuhan hidup. Tertipu dalam bisnis, dia mengaku rugi Rp 50 juta. Berdalih pikirannya kalut, dia nekat menggelapkan uang makan harimau.

"Saya drop karena harus kembalikan uang yang saya pinjam dan dapat kesemoatan untuk nakal di perusahaan," ujar dia.

Sag mengaku jika penggelapan uang makan harimau itu dilakukannya sejak Juli 2015 hingga Februari 2016. Namun karena laporan keuangannya hilang sejak April, ia mengakui penggelapan dilakukan sejak April 2015.

Menurut dia, kesempatan ia menggelapkan uang makan harimau itu ada pada Juli 2015. Namun, ia membantah uang hasil penggelapan dimakan bersama-sama temannya. Ia mengakui uang itu digunakan untuk kepentingan pribadinya.

"Saya mengakui dari bulan Juli karena laporan bukti saya hilang sejak April maka saya akui dari April. Kalau makannya harimau kan Minggu harusnya 17 kg tapi hanya saya kasih 5 kg. Kalo Rabu tidak saya kasihkan," ujar Sag.

4 dari 6 halaman

Tiga Hewan Mati Muda di KBS

Permasalahan kebun binatang juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Kebun Binatang Surabaya ini sempat jadi perbincangan publik ketika Wali Kota Tri Rismaharini melaporkan ke Komisi Pemberantasan Koruspi (KPK) terkait dengan sejumlah hewan langka di KBS hilang.

Selain itu, KBS menyimpang banyak permasalahan. Satu di antaranya soal banyaknya hewan yang mati dalam waktu hampir bersamaan. Beberapa di antaranya mati muda.

Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) membantah menelantarkan hewan-hewan yang mati itu. PDTS KBS memastikan tiga satwa yang mati dalam kurun waktu seminggu terakhir itu di luar dari 84 satwa yang dalam kondisi tua dan sakit. Ketiga satwa itu adalah Kijang, Rusa Bawean, dan Komodo.

Humas KBS Agus Supangkat mengatakan, tiga satwa yang mati tersebut rata-rata masih berusia muda. Komodo misalnya, saat ditemukan mati, masih berusia empat tahun. Sedangkan Kijang masih berusia tujuh tahun, dan Rusa Bawean juga masih berusia tujuh tahun.

"Angka maksimal hidup komodo 50 tahun, kijang dan rusa Bawean 15  tahun. Jadi ketiga satwa itu bukan termasuk dalam daftar satwa yang tua dan sakit," jelas Agus di Surabaya, Senin, 3 Februari 2014.

Agus menambahkan, selama ini kematian satwa di KBS tidak ada unsur kesengajaan, seperti dialami rusa Bawean. Sebelum mati, satwa ini sempat keluar kandang pada Rabu, 29 Januari 2014, karena stres. Akibat luka yang dialami, tim medis memutuskan untuk mengamputasi salah satu kakinya sebelum akhirnya rusa Bawean itu mati.

Dengan kematian tiga satwa ini, total sejak Januari hingga 3 Februari 2014 sudah ada enam satwa yang mati di KBS. Dua di antaranya mati dalam waktu hampir bersamaan, yakni komodo dan rusa Bawean pada Sabtu 1 Februari.

Sebelumnya pada Senin, 4 Januari, Gnu jantan atau Wilddebeest atau binatang campuran sejenis sapi dan banteng berusia empat tahun ditemukan mati. Dari hasil otopsi, satwa dari benua Afrika ini dinyatakan mati karena mengalami tympani atau gangguan di perut.

Selang seminggu kemudian atau Senin 7 Januari, Michael, si Singa jantan koleksi KBS ditemukan tergantung di kandangnya. Lehernya tercekik kawat pembuka pintu kandang.

Selanjutnya, kambing gunung yang berusia enam bulan juga ditemukan mati. Kematian Kambing Gunung dinilai wajar karena berkelahi dengan satwa sejenis yang lebih besar.

Lalu ada kijang betina berumur tujuh tahun yang sedang mengandung juga ditemukan mati dengan kondisi mulut berbusa.

5 dari 6 halaman

Raja Hutan Mati Diracun

Penyebab kematian dua ekor singa Afrika (Panthera leo), Gebo dan Sonia serta Harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatrae), Peter, penghuni Kebun Binatang Taman Rimba Jambi diduga diracuni. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama kepolisian juga tengah mengungkap pelaku kematian ini.  

Pelaksana Harian Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Nurzaman membenarkan, kematian ini diduga kuat akibat diracuni oknum tidak bertanggung jawab pada 17 Agustus lalu.

"Peter dan Gebo mati pada tanggal 17 Agustus dan pada tanggal 19 Agustus Sonia pun mati," ujar Nurazman saat dihubungi Liputan6.com, Selasa, 27 Agustus 2013.

Menurut Nurazman, Dinas Peternakan Provinsi Jambi yang bertindak sebagai pengelola kebun binatang Taman Rimbo mulai mengetahui kejadian ini pada 12 Agustus 2013. Itu ketika Peter tiba-tiba mengalami kelumpuhan dan sempat dirawat selama beberapa hari oleh tim dokter hewan.

Namun nyawa Peter tidak dapat diselamatkan. Gebo mati pada hari yang sama dengan Peter. Disusul Sonia yang tidak menunjukkan gejala kelumpuhan seperti yang dialami Peter. "Peter mati sekitar pukul jam 16.30 WIB," jelasnya.

Dinas peternakan mengirim sampel organ tubuh berupa hati, jantung, paru, ginjal dan sisa makanan dalam lambung ke Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II Bukit Tinggi, Sumatera Barat untuk diteliti penyebab kematiannya.

Hasil penelitian dari sampel organ tubuh yang dikirim ke BPPV penyebab kematian ini adalah akibat racun berjenis Striknin. Terdapat unsur kesengajaan untuk membunuh satwa dilindungi ini.

Striknin adalah jenis racun yang biasa digunakan oleh Dinas Peternakan dalam memberantas anjing liar untuk mengeliminasi penyebaran penyakit rabies.

Selain sampel organ tubuh, dinas peternakan juga mengirimkan sampel makanan ketiga kucing besar tersebut dan dari hasil penelitian tidak terdapat racun striknin pada sampel makanan tersebut.

Nurazman menegaskan, kematian dua ini kuat dugaan akibat unsur kesengajaan karena racun jenis Striknin ini tidak dijual bebas. Pengadaannya harus melalui distributor tertentu untuk kebutuhan khusus Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Kalau saya melihat ini sengaja, masa tiga ekor hampir berbarengan mati?" ujar dia.

Gebo dan Sonia adalah dua singa yang baru didatangkan dari Taman Safari Cisarua, Bogor pada 24 Juli lalu. Kedua singa ini adalah hasil program pertukaran satwa kebun binatang Taman Rimbo Jambi dengan Taman Safari.

Untuk mendapatkan dua singa ini kebun binatang Taman Rimbo menukarkan Emat dan Lala. Emat adalah harimau liar yang terkena jerat dan berhasil diselamatkan tim TPCU (Tiger Protection & Conservation Unit) Taman Nasional Kerinci Seblat di daerah Muara Hemat, Kabupaten Kerinci, Jambi pada 2012.

Sementara, Lala adalah bayi harimau yang ditemukan warga di daerah Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi di tahun yang sama.

Selain Gebo, Sonia dan Peter, seekor bayi harimau bernama Ayu juga memakan daging yang terkontaminasi racun Striknin. Beruntung, Ayu sudah berhasil melalui masa kritisnya.

Kasus harimau mati akibat diracun dalam kandang di kebun binatang Taman Rimbo bukanlah yang pertama terjadi di kebun binatang ini. Pada 2009, seekor harimau Sumatra bernama Sheila juga mati diracun dan dijual kulitnya oleh sekelompok orang.

Artikel Selanjutnya
Kelahiran Mengejutkan Bayi Imut Harimau Benggala di Banjarnegara
Artikel Selanjutnya
Bahaya, Banyak Buaya Nakal di Pantai Tomilito