Sukses

Semburat Mentari Menyapa Pagi di Pulau Rempah Nusantara

Liputan6.com, Ternate - Semburat matahari mulai mengintip, sedangkan awan hitam keluar malu-malu. Cahaya matahari mulai memantul menyinari bumi di wilayah timur Indonesia pada Kamis pagi, 19 Januari 2017.

Suasana pagi di Kota Ternate, Maluku Utara, itu memang berbeda dengan hari-hari pada momen pagi sebelumnya. Faktor cuaca salah satunya.

Pengamatan Liputan6.com, hamparan pulau yang menjadi identitas salah satu destinasi wisata bahari di Maluku Utara itu tampak dari atas gelombang laut yang berarus teduh. Panorama alam yang damai dan keteduhan gelombang saat pagi tersebut mengiringi rutinitas warga kota bermoto Bahari Berkesan.

Dari atas laut bagian selatan menampilkan latar Pulau Maitara atau disebut Pulau Seribu oleh warga setempat. Pulau ini seakan menjaga pintu, mengapit Pulau Tidore, Kota Tidore Kepulauan.

Sementara bagian timur, daratan panjang Halmahera menampilkan pesona dari atas laut bersama matahari yang perlahan naik. Begitu pula pada bagian utara, hamparan laut kontras dengan menjulangnya Gunung Ibu dan Gunung Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat.

Keindahan pagi di bumi bekas ibu kota Provinsi Maluku Utara itu seperti permata bertabur. Pulau-pulau yang berjajar, angin laut yang berembus dan aroma rempah seakan membawa Liputan6.com menelusuri jejak langkah sejarah perjuangan pendahulu yang mengusir Portugis dan Belanda kala masa penjajahan di Nusantara periode itu.

1 dari 2 halaman

Jembatan Peninggalan Residen Ternate

Saat Liputan6.com berada tepat di atas Jembatan Residen Ternate, ada kesan tersendiri. Jembatan ini salah satu peninggalan pusaka warisan periode Residen Ternate.

Pada zaman penjajahan Belanda, Jembatan Residen Ternate merupakan pelabuhan utama keluar masuknya kapal ke Ternate dari berbagai daerah dan Benua Eropa. Pulau Ternate yang memiliki gunung api aktif Gamalama terkenal sebagai penghasil rempah terbesar. Cengkih dan pala menjadi primadona yang diperebutkan Eropa kala itu.

Pesona akan rempah yang disebut emas hitam itu pun membuat bangsa Portugis dan Belanda mendatangi Indonesia dan menjadikan sebagai koloni jajahan sebagaimana kisah sejarahnya.

Selain Residen Ternate, terdapat pula beberapa lokasi wisata yang bisa dikunjungi. Taman Nukila, Landmark, dan wisata sejarah benteng Portugis-Belanda di antaranya. Beberapa tempat wisata yang terletak di Kecamatan Ternate Tengah ini pun menampilkan kesan tersendiri.

Selain keteduhan yang akan didapat setiap pengunjung, beberapa lokasi yang tersedia juga menyajikan panorama yang berbeda dan jarang ditemukan di destinasi wisata lainnya. Lokasi-lokasi ini bisa dijadikan tempat foto selfie atau swafoto untuk pengunjung yang senang berpose dengan latar pantai, benteng dan rempah seperti kebun cengkih warga di Ternate.

Sementara, Residen peninggalan Belanda yang kini dikenal dengan nama Jembatan Residen Ternate itu kini sebagai armada speedboat milik Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Artikel Selanjutnya
Raja Ampat Tak Hanya Pulau Wayag
Artikel Selanjutnya
2 Wisatawan Terseret Ombak Ganas 'Pantai Perawan' Garut