Sukses

6 Kisah Buaya, Jadi Buruan hingga Kesayangan

Liputan6.com, Jakarta Teror buaya terus terjadi di Tanah Air akibat banyaknya habitat buaya liar. Tidak jarang buaya-buaya ini menyerang warga sekitar. Puluhan korban berjatuhan karena aksi sang pemangsa.

Beberapa kejadian telah menggambarkan perilaku buas hewan reptil ini. Namun, ada juga kisah manis warga bersama hewan ini.

Berikut beberapa peristiwa yang menyangkut buaya ini.

1. Seragam SD Tersangkut di Mulut Buaya Ganas Batanghari 

Nasib nahas menimpa bocah SD bernama Rio Saputra (12), warga Dusun Lamo, Kelurahan Pulau Temiang, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Rio diduga hilang dan menjadi korban ganasnya buaya di Sungai Batanghari.

Kabar hilangnya Rio yang diduga dimakan buaya langsung menyebar dari mulut ke mulut. Ratusan warga Pulau Temiang memadati seputaran lokasi hilangnya Rio. Hilangnya bocah malang ini juga ramai menjadi perbincangan di media sosial oleh sejumlah warga Jambi.

Setelah dinyatakan hilang hampir 24 jam, Rio akhirnya ditemukan. Bocah malang ini ditemukan mengapung dan dalam kondisi tak bernyawa.

Ridha (35), salah seorang warga Pulau Temiang, mengatakan jasad Rio ditemukan pada Rabu (14/12/2016) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Lokasi penemuan bocah tersebut tak jauh dari lokasi saat dinyatakan hilang pada Selasa siang, 13 Desember 2016 kemarin.

"Kaki sebelah kiri hilang, mungkin karena dimangsa buaya kemarin," ujar Ridha saat dihubungi dari Jambi, Rabu (14/12/2016).

Menurut Ridha, keluarga Rio dan warga di Pulau Temiang sangat berduka atas meninggalnya Rio. Apalagi, Rio dikenal sebagai anak periang di mata warga dan teman-teman sebayanya.

Usai ditemukan, jasad Rio langsung dibawa ke puskesmas terdekat guna divisum. Warga pun berbondong-bondong melihat jasad bocah malang yang diduga dimangsa buaya itu.

"Kabarnya hari ini juga akan dimakamkan," ucap Ridha mengakhiri.

Wakapolres Tebo, Kompol Ali Sadikin, sebelumnya membenarkan jika ada warga Kelurahan Pulau Temiang yang hilang diduga akibat dimangsa buaya ganas di sungai Batanghari.

Hingga Selasa malam, aparat kepolisian, tim SAR, BPBD, serta warga setempat terus mencari hingga membuahkan hasil pada Rabu pagi tadi. Sayang, nyawa Rio tak dapat diselamatkan.

Sebelum hilang, Rio sempat bermain bersama lima orang temannya di pinggir sungai Batanghari yang memang melintasi Kelurahan Pulau Temiang.

Dengan berseragam SD lengkap merah-putih, Rio dan teman-temannya bermain perosotan. Selang beberapa lama, teman-temannya kaget dan heran, Rio tiba-tiba hilang dan tak kunjung muncul.

Karena heran dan curiga, kelima teman Rio lantas mengadu ke orangtua Rio. Kaget mendengar anaknya hilang di pinggir sungai, orangtua Rio bersama puluhan warga langsung mencari.

Dugaan kuat Rio dimangsa buaya muncul saat beberapa warga melihat penampakan buaya di Sungai Batanghari. Tepat di mulut sang buaya terlihat seragam merah celana bocah SD. Sejumlah warga bahkan beberapa kali melihat buaya ganas tersebut.

Puluhan warga Kelurahan Pulau Temiang bahkan sampai menggelar yasinan dan zikir bersama agar Rio bisa segera ditemukan.

 

1 dari 6 halaman

Aksi Raja Buaya Putih

2. Raja Buaya Putih Diyakini Seret Bocah Tenggelam, Dukun Bertindak


Panik dan panik. Itulah yang dirasakan orangtua Irfan alias Ippang (11) seorang bocah ‎yang dinyatakan tenggelam di Sungai Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, November lalu.

Baya, ibu kandung bocah yang tenggelam tersebut bahkan telah meminta bantuan dukun setempat atau yang akrab dikenal dengan masyarakat dengan sebutan sanro.

Jasad Irfan, korban tenggelam di Sungai Tallo, akhirnya muncul ke permukaan dan ditemukan Tim SAR Kota Makassar. Bocah berusia 8 tahun itu diyakini menjadi korban penguasa sungai keramat, Karaeng Sinri Jala, sang raja buaya putih.

"Dia sudah meninggal dunia," kata Firman, bapak kandung Irfan.

Tak hanya cara konvensional, keluarga telah menggelar ritual adat untuk membantu penemuan Irfan. Ritual itu dilakukan dengan menabur sesajen berupa bunga dan telur serta menabuh gendang tradisional Suku Bugis Makassar di pinggir Sungai Tallo.

Menurut Firman, jarang ada yang hidup jika sudah tenggelam di Sungai Tallo. Ia ingat betul pesan sang nenek soal itu.

Firman menuturkan, peristiwa itu bermula saat anaknya meminta izin kepada ibunya untuk pergi membeli stiker bersama teman-temannya. Di tengah perjalanan, sang anak tak langsung pulang, tetapi malah pergi berenang dengan temannya di Sungai Tallo. Ia mendapat kabar itu sesaat setelah pulang menjemput adik Irfan.

"Sudah takdir, Pak. Kemarin memang anak saya sudah kasih tanda-tanda di mana ia selalu berpamitan kepada ibunya dan adiknya dengan mencium pipi ibu dan adiknya setelah itu pergi bermain. Sorenya, dia sudah dikabarkan hilang di Sungai Tallo," kata Firman.

Kapolsek Tallo Makassar Kompol Henki Ismanto‎ mengungkapkan, pihaknya mendapatkan informasi tenggelamnya seorang anak dari Ketua RT 9 RW 3 di sekitar Sungai Tallo. Informasi itu selanjutnya ditindaklanjuti dengan pencarian.

Sebelum itu, teman korban yang bernama Raka (8) mengatakan insiden itu berawal saat ia sedang makan di atas rumahnya yang terletak tepat di pinggir Sungai Tallo. Tiba-tiba, ia mendengar ada suara minta tolong dari bawah rumahnya.

"Saksi pergi ke belakang rumah dan melihat korban sedang tenggelam dan meminta tolong sehingga saksi mencoba dan melompat ke dalam sungai untuk menolong dan sempat meraih tangan korban," ucap Henki.

Namun, saksi merasa ada yang menarik kakinya sehingga ia melepas tangan korban dan berenang ke pinggir sungai. Saat sampai di pinggir sungai, Raka sudah tidak melihat korban hingga akhirnya ditemukan tewas.

2 dari 6 halaman

Teror Buaya Ganas di Indragiri Hulu Riau


3. Teror Buaya Ganas di Indragiri Hulu Riau 

Seorang warga di Dusun Usul, Kecamatan Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, diduga tewas diterkam buaya. Hingga kini, pria yang tak diketahui identitasnya itu masih dicari warga bersama aparat polsek setempat.

Kepala Bidang Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo menyebutkan, pencarian sudah berlangsung sejak kemarin, namun hasilnya nihil. Sebab, korban diduga ditarik buaya ganas itu hingga ke dasar sungai.

"Pencarian masih dilakukan dengan menelusuri sungai tersebut," ucap Guntur di Pekanbaru, Sabtu (12/11/2016).

Dia menjelaskan, adanya warga yang tewas diterkam buaya ini berawal ketika saksi Wahyudi dan Meggi beristirahat di pondok dekat kebunnya di pinggir sungai. Ketika bersantai itu, keduanya melihat sesosok tubuh mengapung di air.

"Kedua saksi ini juga melihat seperti ada batang kayu di dekat warga yang tak diketahui namanya ini," kata Guntur.

Melihat itu, kedua saksi tadi langsung memberitahukan kepada ‎warga sekitar dan melapor ke polisi. Petugas yang mendapat laporan langsung berniat mengevakuasi warga yang diduga hanyut tadi.

Sewaktu didekati, di samping tubuh hanyut tersebut terdapat seekor buaya. Petugas langsung berupaya menyelamatkan, tapi buaya tadi langsung menarik korban. Sempat terjadi tarik-menarik hingga buaya tadi berhasil ke dasar sungai bersama korban.

"Separuh badan korban, mulai dari kaki hingga pinggang sudah berada dalam mulut buaya," Guntur menerangkan.

Atas kejadian ini, Guntur mengimbau masyarakat yang kehilangan keluarganya segera melapor ke polisi untuk menentukan identitas korban. Ia juga mengimbau warga tak mendekati sungai.

"Pencarian masih dilakukan. Warga hati-hati karena sudah ada korban dari buaya di sungai," juru bicara Polda Riau itu memungkasi.

3 dari 6 halaman

Buaya Sering Berjemur di Sungai Mentaya


4. Buaya Sering Berjemur di Sungai Mentaya dan Serang Warga

Keganasan buaya muara kembali meresahkan masyarakat yang sering beraktivitas di Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

"Beberapa hari lalu ada warga yang disambar buaya saat mandi di sungai. Untungnya berhasil selamat meski luka di kaki bekas gigitan buaya," kata Rahmat, salah satu warga Sampit, Selasa (4/10/2016), dilansir Antara.

Pada Sabtu 1 Oktober 2016 lalu di perairan sekitar Sungai Lemiring, Kecamatan Seranau, seorang warga bernama Pepet (17), disambar buaya ketika sedang asyik mandi di anak sungai Mentaya itu.

Korban sama sekali tidak menyangka akan mengalami hal buruk itu. Tiba-tiba buaya berukuran cukup besar menerkam bagian kaki hingga pahanya.

Saat kejadian, korban sempat meraih bambu yang ada di lanting terapung tempatnya mandi sehingga cukup menyulitkan buaya menariknya ke dasar sungai. Buaya itu melepaskan gigitannya dan masuk ke dalam air ketika banyak warga berdatangan setelah mendengar teriakan korban.

Beberapa waktu lalu di sekitar kawasan itu juga terjadi insiden serupa. Seorang warga Desa Pelangsian disambar buaya saat membawa rotan di sungai. Korban menusuk mata buaya menggunakan jarinya sehingga binatang buas itu melepaskan gigitannya di tangan korban.

"Masyarakat memang sering melihat buaya muncul, tapi karena harus mandi dan melakukan aktivitas lainnya, masyarakat harus tetap ke sungai. Bingung juga mau bagaimana lagi, kalau bisa buaya-buaya itu direlokasi ke hutan yang tidak ada permukiman," harap Rahmat.

Serangan buaya di kawasan muara Sungai Mentaya cukup tinggi. Hampir tiap tahun ada korban jiwa, bahkan beberapa di antaranya jasadnya tidak ditemukan hingga kini.

Habitat buaya muara diperkirakan berada di kawasan Pulau Lepeh karena masyarakat sering melihat buaya bermunculan dan berjemur di daratan kecil yang berada di tengah Sungai Mentaya itu. Serangan buaya meningkat diduga akibat makin sulitnya mendapatkan makanan sehingga buaya berburu mangsa hingga ke kawasan permukiman.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam sudah memasang rambu peringatan terkait ancaman buaya di sejumlah titik. Masyarakat yang beraktivitas di sungai diminta lebih hati-hati, khususnya saat sore dan malam hari.

4 dari 6 halaman

Lomba Tangkap Buaya


5. Lomba Tangkap Buaya di Kupang Heboh Sampai Prancis 

Lomba tangkap buaya yang digelar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang unik. Buktinya acara yang digagas oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTT ini menarik perhatian warga dunia, seperti Australia dan Prancis.

"Lomba tangkap buaya ini memang unik, begitu diumumkan beberapa pekan lalu saya mendapat telepon dari wartawan radio Australia dan Prancis, mereka tertarik dengan lomba ini," kata Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu kepada Liputan6.com di kantornya, Kupang, NTT, Rabu, 7 September 2016.

Menurut Jelamu, hingga saat ini baru dua tim yang mendaftar untuk mengikuti lomba ini, yaitu dari Resimen Mahasiswa (Menwa) Undana Kupang dan sekelompok masyarakat. Selain dua tim yang sudah mendaftar secara resmi, ada satu tim dari Kabupaten Sumba yang sudah menghubungi panitia untuk ikut dalam lomba tersebut.

"Kami menyelenggarakan lomba ini untuk mengamankan wisatawan. Memang benar untuk menangkap buaya ini merupakan kewenangan dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), tapi kemunculan buaya ini akan berdampak pada pariwisata," tutur dia.

"Kecuali pihak BKSDA memastikan tidak ada lagi buaya yang muncul. Tapi kenyataannya masih saja ada buaya yang berkeliaran di pantai kita, seperti di Lasiana dan Teluk Kupang," ujar Jelamu.

Lomba ini digelar karena banyak buaya berkeliaran di sekitar lokasi obyek wisata pantai. Satwa liar itu dinilai sangat mengganggu dan meresahkan para wisatawan yang berkunjung maupun nelayan setempat.

Disparekraf NTT menggelar lomba ini dengan iming-iming hadiah sebesar Rp 5 juta untuk setiap ekor buaya yang berhasil ditangkap. Namun Jelamu mengaku akan mempertimbangkan jumlah rupiah yang dinilai kecil tersebut mengingat risiko besar di balik perlombaan ini.

5 dari 6 halaman

Kisah Kakek Hidup Bersama Buaya

6. Kisah Kakek Hidup Bersama Buaya Selama 9 Tahun 

Sembilan tahun sudah Safaruddin memelihara dan merawat buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus porosus). Pria berumur 68 tahun ini merawat reptil ini sudah seperti keluarganya sendiri.

Ia bahkan menyuapi buaya ganas ini dengan penuh kasih sayang. Seminggu sekali, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini memberikan makanan pada buaya berupa ayam. Buaya tersebut ia tangkarkan di sebuah kandang berukuran sempit.

Namun pada Sabtu, 19 Maret 2016, ia harus kehilangan buaya peliharaannya. Sebab, ia tak ingin buaya tersebut suatu saat menimbulkan masalah atau sakit. Safaruddin pun menyerahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.

Sembilan tahun lalu, Safaruddin mendapati buaya ini depan rumahnya. Ketika itu, warga sekitar ramai-ramai melihat buaya yang masih kecil tersebut.

"Dapatnya Subuh. Orang ribut-ribut di luar rumah saya. Ini malah buayanya dipukul-pukul orang, jadi agak lemas," ucap Safaruddin saat ditemui di rumahnya di Jalan Tabrani Ahmad, Gang Maria 2, Kelurahanan Sungai Jawi Dalam, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu, 19 Maret 2016.

Semenjak ia memelihara buaya, banyak warga setempat berkunjung ke rumahnya untuk melihat reptil dengan panjang 3 meter dan berat diperkirakan 200 kilogram ini. Namun, ia juga menyadari memelihara buaya tidak diperbolehkan.

Safaruddin berpikir bagaimana caranya mengembalikan buaya yang sudah mulai dewasa ini. Berkat adanya informasi, ia mendengar kabar BKSDA Kalimantan Barat siap menerima buaya tersebut.