Sukses

Aksi Toleransi Warga Daerah Gugah Rasa Nasionalisme

Liputan6.com, Maluku - Pangdam XVI/Pattimura Mayor Jendal TNI Doni Monardo akan membuat gebrakan bertaraf internasional, yang terlaksana 17 Desember 2016 mendatang. Kegiatan ini diberi nama "Salahutu Adventure 2016".

Pangdam selaku penggagas mengemas acara itu dalam bentuk lomba Aquathlon II (berenang, berlari dan bersepeda). Acara ini didukung puluhan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta sebagai sponsor.

Koordinator Media untuk Aquathlon II, Mayor Gerald L. Tobing memaparkan, Aquathlon II ini akan melewati empat kecamatan berbeda di Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah.

Para peserta yang hadir untuk mengikuti rangkaian mata lomba diperkirakan 1000 orang. Tidak hanya berasal dari 11 kabupaten di Maluku, tetapi juga akan diikuti atlet-atlet Aquathlon nasional dan internasional dengan total hadiah mencapai Rp 750 juta.

"Undangan sudah kami sampaikan kepada federasi-federasi Aquathlon di berbagai negara, juga sudah kami sampaikan kepada kantor-kantor kedutaan yang ada di Jakarta, seperti Amerika dan lain-lainnya," kata Mayor Gerald saat menggelar jumpa pers, di ruang Penerangan Kodam, Selasa 13 Desember 2016.

Bahkan saat ini, sejumlah peserta dari luar negeri seperti Filipina dan juga Portugal telah terdaftar untuk mengikuti lomba yang akan melewati sejumlah desa adat seperti Desa Suli, Tial, Tengah-Tengah, Tulehu, Waai, Liang, Desa Passo dan juga Desa Halong.

Mayor Gerald mengungkapkan, Aquathlon II dengan jarak tempuh maksimal 22 kilo meter dan memilih Pantai Natsepa sebagai lokasi start dan Pantai Liang sebagai lokasi Finish bertujuan untuk mempromosikan objek-objek wisata yang dimiliki Maluku kepada dunia.

Terpenting lagi kata Mayor Gerald, Pangdam berharap kegiatan ini bisa merubah midsite orang luar terhadap Kota Ambon.

"Jika sebelumnya orang enggan datang ke Ambon karena dibenak mereka Ambon itu daerah bekas konflik. Diharapkan dengan Aquathlon II ini pandangan mereka berubah, kalau Ambon itu sudah damai, aman dan layak untuk dikunjungi," kutip Mayor Gerald.

Agar Aquathlon II berjalan lancar dan sukses, masyarakat yang mendiami pesisir Pulau Ambon terutama desa-desa yang dilewati para atlet juga dilibatkan untuk ikut serta mengambil peran dalam acara ini.

"Sebagian penduduk sudah menyediakan rumah mereka untuk tempat tinggal para atlet dari Luar Maluku, ada penduduk juga yang mau meminjamkan perahu mereka untuk mengawasi jalannya lomba renang, dan ada yang bersedia mengisi panggung hiburan," ujarnya.

1 dari 2 halaman

Aksi Toleransi Umat Beragama di Sulawesi Utara


Kolaborasi Unik dalam Festival Keragaman Budaya dan Agama

Selain aksi Maluku Damai, ada juga cara mengungkapkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) serta menghormati kebhinekaan, seperti kegiatan unik yang digelar warga Sulawesi Utara (Sulut). Mereka menggelar Festival keragaman budaya dan agama.

Ruang paripurna DPRD Provinsi Sulut, Sabtu 10 Desember 2016, penuh sesak. Bukan karena ada agenda sidang para wakil rakyat, melainkan dipadati warga dari berbagai kalangan dengan bermacam jenis busana.

Ada yang berkopiah, bersorban, berkalung salib, mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai asesorinya, juga para tokoh agama dengan jubah kebesarannya.

“Hari ini kita datang dari berbagai latar belakang budaya, dan agama. Kita bersatu dalam komitmen untuk menghormati perbedaan, bahwa Indonesia itu beragam. Untuk itulah festival keragaman ini digelar,” ungkap Jimmy Sofyan Yosadi, tokoh agama Konghucu, sekaligus penanggungjawab umum Festival Keragaman.

Habib Muhsin Bilfaqih, Pengasuh Yayasan Al hikam didaulat tampil terlebih dahulu untuk menyampaikan orasinya.

"Kita semua diasuh oleh ibu pertiwi, dan kita berhutang pada bangsa ini. Indonesia perlu dicintai. Agama privatisasi kita masing-masing, tapi agama publik yang harus dihormati adalah Pancasila. Dan cinta akan tanah air adalah bagian dari iman," papar Muhsin.

Festival yang dikemas begitu menarik, menghibur, tetapi tetap menyampaikan pesan-pesan perdamaian ini diisi dengan berbagai tarian dari komunitas etnis Tionghoa, Minahasa, paduan suara Kristiani, hingga irama kasidah.

Tarian masyarakat Tionghoa yang ditampilkan dalam Festival Keragaman. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Suasana menjadi kian semarak saat mendengar perpaduan salawat dan Natal Gloria dalam Bahasa Arab yang diiringi rebana.

"Saya baru dengar penggabungan selawat dan lagu Natal. Membuat merinding. Dan ini hanya ada di Festival Keagamaan yang dilaksanakan oleh kerukunan antarumat beragama di Manado," kata Denni Pinontoan, budayawan dan akademisi dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon.

Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Taufik Bilfaqih mengatakan, gubahan salawat dan lagu Gloria merupakan bagian dari seni.

"Saya tahu kerukunan umat beragama di Sulut luar biasa, jadi berani membuat lagu ini. Kalau di tempat lain takut buat lagu ini," kata Taufik.

Dia menambahkan, lirik lagu ini baru dibuat dua hari lalu. Taufik berlatih bersama teman-temannya sehari sebelum pementasan. Ia pun surprise dengan apresiasi pengunjung.

Enam tokoh agama yang hadir, termasuk Uskup Manado Josep Suwatan ikut berdiri dan memberi apresiasi atas kolaborasi seni yang ditampilkan.

"Pesan perdamaian ini harus sampai ke semua pelosok Indonesia. Bahwa kami di Sulawesi Utara bisa bersatu dalam keragaman. Dan kami menghormati perbedaan yang ada. Tapi nilai-nilai kemanusiaan itu jauh lebih tinggi, dan di titik itu mempersatukan kita semua," ujar Josep.

Belum hilang kekaguman akan lantunan salawat yang dipadu lagu Natal, ratusan warga yang memadati ruangan itu terhentak dengan kehadiran para pemuda Hindu yang menampilkan tarian mereka. Sebuah pertarungan antara kejahatan dan kebaikan.

"Topeng putih ini menggambarkan kebaikan, dan kebaikan akan selalu menang dan memberikan kedamaian," ujar salah satu penanggungjawab tarian pemuda Hindu.

Pementasan seni budaya itu juga diiringi dengan orasi-orasi kebudayaan oleh sejumlah budayawan, akademisi, serta tokoh agama. Tampil berturut-turut, Denni Pinontoan, Pendeta Marhaeni Mawuntu, dan Pendeta Ruth Wangkai. Pesan yang mereka sampaikan terkait keragaman, penghormatan terhadap kemanusian, dan perdamaian yang universal.

"Kita mau tunjukan bahwa Indonesia bisa bersatu, menghormati kebhinekaan yang sudah ada sejak leluhur kita," ujar Ruth.

Enam tokoh agama yang hadir masing-masing dari Katolik, Islam, Hindu, Budha, Protestan, dan Konghucu memanjatkan doa bersama mohon perdamaian umat manusia, khususnya bagi bangsa Indonesia.

"Kalau di Sulawesi Utara, anak-anak bangsa ini bisa bersatu di tengah keragaman, di seluruh pelosok Indonesia harusnya bisa juga terjadi hal yang sama," ujar Muhammad Abas dan Linda Rahman, dua aktivis keagamaan yang ikut ambil bagian dalam festival keragaman ini.