Sukses

Untaian Kasih untuk Aceh dari Berbagai Penjuru Negeri

Liputan6.com, Purwakarta - Gempa berkekuatan 6,5 skala Richter mengguncang Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kabupaten Pidie Jaya menjadi kawasan yang mengalami kerusakan terparah.

Musibah gempa yang menimpa Aceh dan menelan ratusan korban jiwa menggugah hati warga di berbagai daerah. Aksi solidaritas pun dilakukan untuk menyampaikan rasa belasungkawa terhadap para korban.

Seperti yang dilakukan masyarakat di Purwakarta, Gunungkidul, dan Yogyakarta. Mereka melakukan doa bersama dan galang dana yang akan disalurkan ke lokasi gempa Aceh.

1. Umat lintas agama Purwakarta gelar doa dan galang dana untuk Aceh

Umat lintas agama di Purwakarta gelar do’a dan galang dana untuk Aceh. (Liputan6.com/Abramena)

Ratusan umat lintas agama beserta seluruh pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta menggelar doa bersama sekaligus penggalangan bantuan untuk korban bencana gempa Aceh di Bale Paseban Pendopo Kabupaten Purwakarta, Jumat (9/12/2016).

Acara yang digagas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini dihadiri unsur Forkominda Kabupaten Purwakarta, Majelis Ulama Kabupaten Purwakarta, dan Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama Kabupaten Purwakarta.

"Ini bagian dari empati kami terhadap masyarakat Aceh, bukan hanya dari satu agama saja. Kami di sini lintas agama. Semuanya bersatu atas nama solidaritas kemanusiaan, memanjatkan doa sesuai dengan keyakinan agama masing-masing," kata Dedi dalam sambutannya.

Penggalangan dana untuk korban gempa Aceh pun diserukan oleh pria yang selalu mengenakan pakaian khas Sunda tersebut dalam sambutannya. Seruan Dedi itu pun mendapat respons positif, mulai dari pegawai eselon II sampai pegawai biasa.

"Arahan Pak Bupati tadi, bantuannya didistribusikan langsung ke Aceh, dibelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak korban bencana di sana. Hari ini juga mulai kami galang bantuan itu mulai dari pegawai, pelajar sampai masyarakat,” kata Hendra Fadly Suparman, salah seorang pegawai di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta.

Salah satu tokoh agama Buddha Purwakarta, Banthe Yutiko, juga mengapresiasi langkah yang diambil Pemerintah Kabupaten Purwakarta ini. Ia berujar, perkara kemanusiaan tidak harus dilihat dari latar belakang agama dan golongan. Apabila saudara sebangsa mengalami kesulitan, maka sudah menjadi kewajiban elemen bangsa yang lain untuk membantu.

"Kita di sini berdoa, menggalang dana untuk korban bencana Aceh. Saya kira ini bagus. Seluruh elemen bangsa bersatu di Purwakarta untuk membantu korban bencana Aceh," ujarnya.

1 dari 3 halaman

Sisihkan Uang Jajan untuk Korban Gempa Aceh

2. Koin untuk Aceh dari Kantong Siswa SD Gunungkidul

Murid SD di Gunungkidul panjatkan doa dan kirim koin bagi korban Aceh. (Liputan6.com/Yanuar H)

Gempa yang terjadi di Aceh menggugah perasaan siswa SD di Wonosari Gunungkidul dengan menggelar doa bersama dan koin keprihatinan. Seperti yang dilakukan siswa SD IV Wonosari, Gunungkidul.

Tanpa memandang latar belakang agama, siswa muslim dan nonmuslim berkumpul bersama memanjatkan doa bagi korban gempa Aceh. Siswa yang beragama Islam juga melaksanakan salat gaib bagi korban yang meninggal.

Doa yang dipimpin kepala sekolah itu membuat sejumlah siswa terharu dan meneteskan air mata. Para siswa ini pun mengumpulkan uang jajan mereka untuk membantu korban gempa di Aceh. Uang koin jajan mereka akan dikirim ke Aceh melalui PMI Gunungkidul.

"Kalian boleh mengambil uang kembalian, bapak percaya anak-anakku jujur semua,"kata Kepala Sekolah SD IV Wonosarinosari Eko Pramono, Jumat (9/12/2016).

Eko mengatakan doa bersama dan penggalangan dana kepada korban Aceh merupakan bentuk solidaritas dan dukungan moral kepada sesama. Selain itu, penggalangan dana dan doa bersama juga sebagai bentuk kepedulian sesama rakyat Indonesia.

Eko menjelaskan uang yang terkumpul dari 127 siswa dan 15 guru akan disalurkan melalui PMI. Walaupun tidak besar, tetapi yang paling penting adalah niat sesama warga yang ingin membantu dengan tulus.

"Nanti berapa pun uang yang dikumpulkan akan disalurkan melalui PMI Gunungkidul. Walaupun kecil, peran serta dan kepedulian anak-anak inilah yang akan terus kami junjung tinggi," katanya.

Sementara itu, salah satu siswa, Nilna Mahabata Efendi (11), berharap korban gempa bumi Aceh dapat diberi ketabahan dan kekuatan. Doa yang dipanjatkan bersama teman-temannya ini diharapkan dapat membantu secara moril.

"Semoga saudara di Pidie Aceh selalu tabah dan kita di sini membantu berdoa. Melalui doa dan penggalangan dana ini kami harapkan dapat membantu meringankan beban mereka yang terkena bencana," ujar Nilna.

2 dari 3 halaman

Alunan Musik untuk Aceh

3. Pentas Musik di Kediri untuk Galang Dana Gempa Aceh

Biddokkes Polda Aceh operasikan rumah sakit lapangan

Gabungan sejumlah komunitas pemuda di Kediri, Jawa Timur, mengadakan penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di Aceh melalui pentas musik.

Koordinator kegiatan, Olga Bimaskara, Kamis malam mengemukakan kegiatan ini dilakukan secara spontan dengan melibatkan sejumlah komunitas di Kediri. Dia dengan teman-temannya merasa terketuk untuk membantu saudara-saudara yang terkena bencana di Aceh.

"Kami akan adakan acara ini selama tujuh hari dan setiap hari kami akan adakan penggalangan dana untuk membantu saudara kita di Aceh," katanya kepada wartawan, seperti dilansir Antara, Kamis, 8 Desember 2016.

Untuk bentuk sumbangan, Olga mengatakan tidak membatasi jenis bantuan. Bantuan yang diberikan bisa berupa materi maupun pakaian bekas. Nantinya, barang-barang itu akan langsung dikirim ke Aceh.

Kegiatan penggalangan dana tersebut diikuti sejumlah komunitas pemuda yang ada di Kediri, misalnya Ikatan Panji Galuh (Ikapalu) Kota Kediri, "Bass Community" (Bacok), serta "Kediri Runners". Selain itu, sejumlah musisi pun juga ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

Pentas musik ini dilakukan di halaman Perpustakaan Daerah Kota Kediri. Seluruh anggota komunitas berkumpul di kantor yang tepat berada di Jalan Mastrip, Kota Kediri tersebut.

Hujan terus turun sejak acara itu dimulai. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat anggota komunitas. Mereka mengenakan jas hujan serta membawa kardus kotak yang berisikan "Donasi untuk Gempa Aceh".

Para anggota komunitas pun turun ke jalan. Di bawah hujan, mereka mengetuk satu per satu pintu mobil pengendara saat lampu menyala warna merah. Tidak sedikit pengendara kendaraan baik mobil maupun sepeda motor yang ikut memberikan bantuan.

Wahyu Humaz, salah seorang warga, mengaku memberikan sejumlah bantuan untuk ikut membantu warga Aceh yang terkena musibah.

"Sebagai warga negara Indonesia, harus peduli dengan saudara kita yang sedang kesusahan, apalagi Aceh sekarang mengalami trauma yang mendalam. Jadi, ini sebagai wujud apresiasi dan dukungan kami pada sesama," kata Wahyu.